<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>6 Fakta Harga Pertamax Layak Dinaikkan, Orang Kaya Malu 'Minum' Pertalite</title><description>Pertamina menaikkan harga BBM non subsidi sejak 3 Maret 2022.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/20/320/2564516/6-fakta-harga-pertamax-layak-dinaikkan-orang-kaya-malu-minum-pertalite</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/03/20/320/2564516/6-fakta-harga-pertamax-layak-dinaikkan-orang-kaya-malu-minum-pertalite"/><item><title>6 Fakta Harga Pertamax Layak Dinaikkan, Orang Kaya Malu 'Minum' Pertalite</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/20/320/2564516/6-fakta-harga-pertamax-layak-dinaikkan-orang-kaya-malu-minum-pertalite</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/03/20/320/2564516/6-fakta-harga-pertamax-layak-dinaikkan-orang-kaya-malu-minum-pertalite</guid><pubDate>Minggu 20 Maret 2022 04:42 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/19/320/2564516/6-fakta-harga-pertamax-layak-dinaikkan-orang-kaya-malu-minum-pertalite-bEIlz0NxLe.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga BBM Pertalite layak dinaikkan (Foto: Koran Sindo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/19/320/2564516/6-fakta-harga-pertamax-layak-dinaikkan-orang-kaya-malu-minum-pertalite-bEIlz0NxLe.jpg</image><title>Harga BBM Pertalite layak dinaikkan (Foto: Koran Sindo)</title></images><description>&amp;nbsp;JAKARTA &amp;ndash; Pertamina menaikkan harga BBM non subsidi sejak 3 Maret 2022. Harga BBM naik menyesuaikan harga minyak dunia yang kian melambung, mencapai lebih dari USD 100 per barel.
Kenaikan harga BBM jenis ini diramal tidak berdampak pada daya beli masyarakat, karena BBM non subsidi bersifat segmented dan konsumsinya tidak lebih dari 5% secara nasional.
&quot;Saya kira ini tidak begitu berdampak karena ini kan penggunanya menengah ke atas, dari sisi keuangan mampu. Konsumsinya juga sedikit sekali jadi nggak akan terlalu berpengaruh, kecuali yang dinaikkan Pertalite dengan konsumsi 47%, itu mungkin berdampak,&quot; ujar Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan dalam IDX Channel Market Review.
Berikut fakta menarik orang kaya banyak pakai BBM non subsidi yang dirangkum di Jakarta, Minggu (20/3/2022).
BACA JUGA:Reformasi Subsidi BBM dan Listrik, Apa Lagi yang Akan Dicabut?

1. Layak Dinaikkan
Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite hingga Pertamina Dex wajar dinaikkan. Hal ini seiring perkembangan harga minyak global yang mengalami tren kenaikan.
Apalagi pengguna BBM nonsubsidi, mulai dari Pertamax, Pertamax Turbo, dan Pertamina Dex adalah kelompok menengah atas yang mengonsumsi BBM berkualitas dan ramah lingkungan.
Research Director Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan, kenaikan harga BBM nonsubsidi juga tidak mengganggu daya beli masyarakat. Penyesuaian harga BBM berkualitas yang ramah terhadap lingkungan itu juga tidak banyak berdampak pada indikator ekonomi makro.
&amp;ldquo;Harga Pertamax idealnya naik sesuai harga keekonomiannya,&amp;rdquo; kata Pieter, dikutip dari Antara.
BACA JUGA:Orang Kaya Banyak Pakai BBM Non Subsidi, Wajar Harganya Naik! Pertamax Jadi Rp12.000? 

2. Pertamina Dua Kali Menaikkan Harga
Tahun ini, Pertamina diketahui telah dua kali menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax Turbo, Pertamax Dex, dan Dexlite, untuk menyesuaikan kenaikan harga minyak dunia yang mencapai lebih dari USD100 per barel.
Namun, Pertamina belum menaikkan harga Pertamax. Bahkan sejak lebih dari tiga tahun terakhir harga Pertamax tidak naik.
Menurut Piter, harga BBM jenis Pertamax, sama seperti Pertamax Turbo dan Pertamina Dex tidak disubsidi pemerintah sangat wajar harganya disesuaikan. Apalagi harga Pertamax yang saat ini dijual Rp9.000 per liter, jauh lebih murah dibandingkan produk RON 92 lainnya dari pesaing yang dijual dikisaran Rp12 ribuan per liter.3. Wajar Naik Ikuti Harga Pasar
Piter menjelaskan, harga BBM nonsubsidi wajar saja naik mengikuti  harga pasar. Namun Pertamina adalah BUMN yang tidak semata berorientasi  bisnis sehingga juga harus mempertimbangkan kepentingan nasional dan  kepentingan masyarakat.
Pertamina membuktikan itu dengan memastikan harga Pertalite (RON 90)  tidak naik meski harga minyak mentah dunia terus melonjak akibat konflik  geopolitik antara Rusia dengan Ukraina. Keputusan tidak menaikkan harga  Pertalite itu diambil demi menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli  karena masyarakat banyak menggunakan Pertalite.
4. Pertalite Jenis Bensin yang Paling Banyak Dikonsumsi Masyarakat
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, pada  2021 realisasi konsumsi Pertalite sebesar 23 juta kiloliter dan  merupakan BBM jenis bensin yang paling banyak dikonsumsi masyarakat.  Konsumsi Pertalite mencapai 78%, di antara BBM jenis Bensin lainnya,  seperti Pertamax, Pertamax Turbo, dan Premium.
Piter mengatakan, Pertamina tentu harus menjaga ketersediaan pasokan  (supply) dan juga mematuhi kebijakan pemerintah dalam hal harga agar  tetap terjangkau dan tidak memberatkan masyarakat.
&amp;ldquo;Selama yang naik bukan BBM bersubsidi, Premium, dan bukan juga  Pertalite, kenaikan harga BBM tidak banyak berdampak ke inflasi,&amp;rdquo;  ujarnya.5. Stafsus Erick Thohir Sentil Orang Kaya Beli Pertalite
Masyarakat dengan ekonomi menengah atas diingatkan untuk tidak   mengkonsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite. Hal   itu seiring harga minyak dunia mengalami kenaikan.
Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga menyebut, meski PT   Pertamina (Persero) masih mempertahankan harga Pertalite saat ini,   secara bisnis cukup terdampak atas konflik Rusia-Ukraina.
&quot;Yang pasti kalau Pertamina, Pertalite kan nggak naik, kita sih   berharap orang-orang yang mempunyai kemampuan daya beli atau punya uang   ya jangan disubsidi lah,&quot; ujar Arya saat ditemui wartawan di kantor   Kementerian BUMN.
6. Efisiensi Pertamina
Untuk mengurangi tekanan lonjakan harga minyak mentah dunia terhadap   peningkatan biaya penyediaan BBM, lanjut Fajriyah, Pertamina terus   melakukan berbagai efisiensi di segala lini, termasuk menekan biaya   produksi BBM dalam negeri.
Di antaranya dengan memaksimalkan penggunaan minyak mentah domestik   dan mengoptimalkan penggunaan gas alam untuk penghematan biaya energi.   Paralel juga dilakukan peningkatan produksi kilang untuk produk yang   bernilai tinggi.</description><content:encoded>&amp;nbsp;JAKARTA &amp;ndash; Pertamina menaikkan harga BBM non subsidi sejak 3 Maret 2022. Harga BBM naik menyesuaikan harga minyak dunia yang kian melambung, mencapai lebih dari USD 100 per barel.
Kenaikan harga BBM jenis ini diramal tidak berdampak pada daya beli masyarakat, karena BBM non subsidi bersifat segmented dan konsumsinya tidak lebih dari 5% secara nasional.
&quot;Saya kira ini tidak begitu berdampak karena ini kan penggunanya menengah ke atas, dari sisi keuangan mampu. Konsumsinya juga sedikit sekali jadi nggak akan terlalu berpengaruh, kecuali yang dinaikkan Pertalite dengan konsumsi 47%, itu mungkin berdampak,&quot; ujar Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan dalam IDX Channel Market Review.
Berikut fakta menarik orang kaya banyak pakai BBM non subsidi yang dirangkum di Jakarta, Minggu (20/3/2022).
BACA JUGA:Reformasi Subsidi BBM dan Listrik, Apa Lagi yang Akan Dicabut?

1. Layak Dinaikkan
Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite hingga Pertamina Dex wajar dinaikkan. Hal ini seiring perkembangan harga minyak global yang mengalami tren kenaikan.
Apalagi pengguna BBM nonsubsidi, mulai dari Pertamax, Pertamax Turbo, dan Pertamina Dex adalah kelompok menengah atas yang mengonsumsi BBM berkualitas dan ramah lingkungan.
Research Director Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan, kenaikan harga BBM nonsubsidi juga tidak mengganggu daya beli masyarakat. Penyesuaian harga BBM berkualitas yang ramah terhadap lingkungan itu juga tidak banyak berdampak pada indikator ekonomi makro.
&amp;ldquo;Harga Pertamax idealnya naik sesuai harga keekonomiannya,&amp;rdquo; kata Pieter, dikutip dari Antara.
BACA JUGA:Orang Kaya Banyak Pakai BBM Non Subsidi, Wajar Harganya Naik! Pertamax Jadi Rp12.000? 

2. Pertamina Dua Kali Menaikkan Harga
Tahun ini, Pertamina diketahui telah dua kali menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax Turbo, Pertamax Dex, dan Dexlite, untuk menyesuaikan kenaikan harga minyak dunia yang mencapai lebih dari USD100 per barel.
Namun, Pertamina belum menaikkan harga Pertamax. Bahkan sejak lebih dari tiga tahun terakhir harga Pertamax tidak naik.
Menurut Piter, harga BBM jenis Pertamax, sama seperti Pertamax Turbo dan Pertamina Dex tidak disubsidi pemerintah sangat wajar harganya disesuaikan. Apalagi harga Pertamax yang saat ini dijual Rp9.000 per liter, jauh lebih murah dibandingkan produk RON 92 lainnya dari pesaing yang dijual dikisaran Rp12 ribuan per liter.3. Wajar Naik Ikuti Harga Pasar
Piter menjelaskan, harga BBM nonsubsidi wajar saja naik mengikuti  harga pasar. Namun Pertamina adalah BUMN yang tidak semata berorientasi  bisnis sehingga juga harus mempertimbangkan kepentingan nasional dan  kepentingan masyarakat.
Pertamina membuktikan itu dengan memastikan harga Pertalite (RON 90)  tidak naik meski harga minyak mentah dunia terus melonjak akibat konflik  geopolitik antara Rusia dengan Ukraina. Keputusan tidak menaikkan harga  Pertalite itu diambil demi menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli  karena masyarakat banyak menggunakan Pertalite.
4. Pertalite Jenis Bensin yang Paling Banyak Dikonsumsi Masyarakat
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, pada  2021 realisasi konsumsi Pertalite sebesar 23 juta kiloliter dan  merupakan BBM jenis bensin yang paling banyak dikonsumsi masyarakat.  Konsumsi Pertalite mencapai 78%, di antara BBM jenis Bensin lainnya,  seperti Pertamax, Pertamax Turbo, dan Premium.
Piter mengatakan, Pertamina tentu harus menjaga ketersediaan pasokan  (supply) dan juga mematuhi kebijakan pemerintah dalam hal harga agar  tetap terjangkau dan tidak memberatkan masyarakat.
&amp;ldquo;Selama yang naik bukan BBM bersubsidi, Premium, dan bukan juga  Pertalite, kenaikan harga BBM tidak banyak berdampak ke inflasi,&amp;rdquo;  ujarnya.5. Stafsus Erick Thohir Sentil Orang Kaya Beli Pertalite
Masyarakat dengan ekonomi menengah atas diingatkan untuk tidak   mengkonsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite. Hal   itu seiring harga minyak dunia mengalami kenaikan.
Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga menyebut, meski PT   Pertamina (Persero) masih mempertahankan harga Pertalite saat ini,   secara bisnis cukup terdampak atas konflik Rusia-Ukraina.
&quot;Yang pasti kalau Pertamina, Pertalite kan nggak naik, kita sih   berharap orang-orang yang mempunyai kemampuan daya beli atau punya uang   ya jangan disubsidi lah,&quot; ujar Arya saat ditemui wartawan di kantor   Kementerian BUMN.
6. Efisiensi Pertamina
Untuk mengurangi tekanan lonjakan harga minyak mentah dunia terhadap   peningkatan biaya penyediaan BBM, lanjut Fajriyah, Pertamina terus   melakukan berbagai efisiensi di segala lini, termasuk menekan biaya   produksi BBM dalam negeri.
Di antaranya dengan memaksimalkan penggunaan minyak mentah domestik   dan mengoptimalkan penggunaan gas alam untuk penghematan biaya energi.   Paralel juga dilakukan peningkatan produksi kilang untuk produk yang   bernilai tinggi.</content:encoded></item></channel></rss>
