<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wall Street Terjun Bebas, Indeks Dow Anjlok 448 Poin</title><description>Indeks utama Wall Street terjun bebas pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/24/278/2566856/wall-street-terjun-bebas-indeks-dow-anjlok-448-poin</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/03/24/278/2566856/wall-street-terjun-bebas-indeks-dow-anjlok-448-poin"/><item><title>Wall Street Terjun Bebas, Indeks Dow Anjlok 448 Poin</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/24/278/2566856/wall-street-terjun-bebas-indeks-dow-anjlok-448-poin</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/03/24/278/2566856/wall-street-terjun-bebas-indeks-dow-anjlok-448-poin</guid><pubDate>Kamis 24 Maret 2022 07:08 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/24/278/2566856/wall-street-terjun-bebas-indeks-dow-anjlok-448-poin-xSpwC4b2qv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wall Street ditutup melemah (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/24/278/2566856/wall-street-terjun-bebas-indeks-dow-anjlok-448-poin-xSpwC4b2qv.jpg</image><title>Wall Street ditutup melemah (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;nbsp;JAKARTA - Indeks utama Wall Street terjun bebas pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Bursa saham AS anjlok karena lonjakan harga minyak dunia memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 448,96 poin atau 1,29%, menjadi menetap di 34.358,50 poin. Indeks S&amp;amp;P 500 terpangkas 55,37 poin atau 1,23%, menjadi berakhir di 4.456,24 poin. Indeks Komposit Nasdaq jatuh 186,22 poin atau 1,32%, menjadi ditutup pada 13.922,60 poin.
BACA JUGA:Wall Street Menguat, Nasdaq Melesat 270 Poin
Sembilan dari 11 sektor utama S&amp;amp;P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor keuangan dan perawatan kesehatan masing-masing tergelincir 1,84% dan 1,77%, memimpin penurunan. Sementara itu, sektor energi dan utilitas masing-masing menguat 1,74% dan 0,17%, hanya dua kelompok yang naik.
Menanggapi sanksi Barat yang telah memukul ekonomi Rusia dengan keras, Presiden Vladimir Putin mengatakan Moskow akan meminta pembayaran dalam rubel untuk penjualan gas alam dari negara-negara &quot;tidak bersahabat&quot;, sementara pasukannya membom daerah-daerah ibu kota Ukraina, Kyiv, sebulan setelah serangan mereka.
BACA JUGA:Wall Street Menguat Ditopang Sektor Teknologi
Harga minyak naik 5% menjadi lebih dari USD121 per barel dan gas alam berjangka juga melonjak. Meskipun harga minyak yang lebih tinggi menguntungkan saham energi, hal itu berdampak negatif bagi konsumen dan banyak bisnis.
&quot;Masalah geopolitik ini semacam menggantung di pasar,&quot; kata Stephen Massocca, wakil presiden senior di Wedbush Securities di San Francisco.&quot;Kebangkitan harga minyak membuat orang terdiam,&quot; katanya,  menambahkan, &quot;Perlu ada resolusi dengan Rusia. Itu akan menahan pasar.&quot;
Investor khawatir bahwa lonjakan harga-harga energi akan memperumit prospek inflasi dan mengancam pemulihan ekonomi.
Awal pekan ini, Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bahwa  inflasi &quot;terlalu tinggi,&quot; menambahkan bank sentral AS &quot;akan mengambil  langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan kembalinya stabilitas  harga.&quot;
Penurunan saham hari ini mengikuti serangkaian kenaikan baru-baru  ini, karena pasar pulih dari posisi terendah di tengah konflik dan  meningkatnya kekhawatiran tentang inflasi dan suku bunga yang lebih  tinggi.</description><content:encoded>&amp;nbsp;JAKARTA - Indeks utama Wall Street terjun bebas pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Bursa saham AS anjlok karena lonjakan harga minyak dunia memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 448,96 poin atau 1,29%, menjadi menetap di 34.358,50 poin. Indeks S&amp;amp;P 500 terpangkas 55,37 poin atau 1,23%, menjadi berakhir di 4.456,24 poin. Indeks Komposit Nasdaq jatuh 186,22 poin atau 1,32%, menjadi ditutup pada 13.922,60 poin.
BACA JUGA:Wall Street Menguat, Nasdaq Melesat 270 Poin
Sembilan dari 11 sektor utama S&amp;amp;P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor keuangan dan perawatan kesehatan masing-masing tergelincir 1,84% dan 1,77%, memimpin penurunan. Sementara itu, sektor energi dan utilitas masing-masing menguat 1,74% dan 0,17%, hanya dua kelompok yang naik.
Menanggapi sanksi Barat yang telah memukul ekonomi Rusia dengan keras, Presiden Vladimir Putin mengatakan Moskow akan meminta pembayaran dalam rubel untuk penjualan gas alam dari negara-negara &quot;tidak bersahabat&quot;, sementara pasukannya membom daerah-daerah ibu kota Ukraina, Kyiv, sebulan setelah serangan mereka.
BACA JUGA:Wall Street Menguat Ditopang Sektor Teknologi
Harga minyak naik 5% menjadi lebih dari USD121 per barel dan gas alam berjangka juga melonjak. Meskipun harga minyak yang lebih tinggi menguntungkan saham energi, hal itu berdampak negatif bagi konsumen dan banyak bisnis.
&quot;Masalah geopolitik ini semacam menggantung di pasar,&quot; kata Stephen Massocca, wakil presiden senior di Wedbush Securities di San Francisco.&quot;Kebangkitan harga minyak membuat orang terdiam,&quot; katanya,  menambahkan, &quot;Perlu ada resolusi dengan Rusia. Itu akan menahan pasar.&quot;
Investor khawatir bahwa lonjakan harga-harga energi akan memperumit prospek inflasi dan mengancam pemulihan ekonomi.
Awal pekan ini, Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bahwa  inflasi &quot;terlalu tinggi,&quot; menambahkan bank sentral AS &quot;akan mengambil  langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan kembalinya stabilitas  harga.&quot;
Penurunan saham hari ini mengikuti serangkaian kenaikan baru-baru  ini, karena pasar pulih dari posisi terendah di tengah konflik dan  meningkatnya kekhawatiran tentang inflasi dan suku bunga yang lebih  tinggi.</content:encoded></item></channel></rss>
