<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Simak Ya! Ini Tanda Pasangan Selingkuh Keuangan</title><description>Ketidakjujuran soal pengeluaran pada pasangan sangat penting untuk diperhatikan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/27/622/2568517/simak-ya-ini-tanda-pasangan-selingkuh-keuangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/03/27/622/2568517/simak-ya-ini-tanda-pasangan-selingkuh-keuangan"/><item><title>Simak Ya! Ini Tanda Pasangan Selingkuh Keuangan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/27/622/2568517/simak-ya-ini-tanda-pasangan-selingkuh-keuangan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/03/27/622/2568517/simak-ya-ini-tanda-pasangan-selingkuh-keuangan</guid><pubDate>Minggu 27 Maret 2022 21:13 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/27/622/2568517/simak-ya-ini-tanda-pasangan-selingkuh-keuangan-YQ3pHEHXNg.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tanda Terjadinya Selingkuh Keuangan. (Foto: Okezone.com/MotionBanking)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/27/622/2568517/simak-ya-ini-tanda-pasangan-selingkuh-keuangan-YQ3pHEHXNg.jpg</image><title>Tanda Terjadinya Selingkuh Keuangan. (Foto: Okezone.com/MotionBanking)</title></images><description>JAKARTA - Ketidakjujuran soal pengeluaran pada pasangan sangat penting untuk diperhatikan. Pasalnya, kajian pada 2018 memperlihatkan 76% dari pasangan menikah yang terlibat 'selingkuh keuangan' mengaku pengalaman itu berdampak negatif terhadap hubungan, bahkan 10% di antaranya mengaku sampai bercerai.
Oleh karena itu, pasangan harus mulai menyadari tanda-tanda selingkuh keuangan melalui hal-hal kecil, seperti kedatangan paket belanja online lebih banyak dari biasanya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Mengenal Selingkuh Keuangan, 76% Bisa Bikin Rumah Tangga Retak
Profesor bidang Pemasaran yang mengkaji fenomena ini di Indiana University, AS, Jenny Olson mengatakan dua komponen utama harus ada agar sebuah perilaku bisa digolongkan selingkuh keuangan.
Pertama, seseorang melakukan tindakan keuangan yang dia tahu pasangannya tidak akan setuju. Kedua, orang tersebut melakukannya secara rahasia.
&quot;Sudah ada antisipasi atas ketidaksetujuan&quot; ujarnya, dikutip dari BBC Indonesia, Minggu (27/3/2022).
Baca Juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Intip Rincian Biaya Hidup di Bekasi, Rp10 Juta Cukup?
Datanya memang masih terbatas, tapi para pakar menduga selingkuh keuangan semakin meningkat sejak beberapa dekade lalu, ketika kian banyak suami dan istri sama-sama bekerja mencari nafkah.
&quot;Zaman sekarang, orang-orang punya rekening bank sendiri-sendiri, aliran pemasukan datang dari berbagai tempat, banyak orang yang punya lebih dari satu pekerjaan, semakin banyak orang berbincang soal pendapatan sampingan. Saya pikir semakin mudah untuk memburamkan batasan-batasan,&quot; papar Jeanfreau.
Semakin mudah pula untuk merahasiakan sesuatu karena &quot;tersembunyi, dan sulit dipantau&quot;, kata Olson.
&quot;Kita tidak lagi mengelola buku cek di meja dapur. Kita login [ke aplikasi perbankan] untuk melihat pengeluaran virtual yang tidak terasa nyata, menghabiskan sumber dana bersama,&quot; tambahnya.Singkat kata, lebih mudah melakukan selingkuh keuangan dan perbuatan itu semakin sulit dipantau ketika dana terasa tidak nyata dan tidak tampak di tangan.
Selain itu, ada banyak alasan mengapa sebagian orang menyembunyikan pengeluaran mereka dari pasangan. Olson menilai beberapa orang melakukan selingkuh keuangan sebagai cara mendapatkan kembali otonomi dalam hubungan; mereka menggunakan pengeluaran keuangan sebagai cara meraih kekuasaan lagi.
&quot;Kita punya keinginan tidak hanya bersama, tapi terpisah. Kita adalah pribadi-pribadi yang berlainan, dan kita juga ingin punya otonomi dalam keuangan kita,&quot; ucap Olson.
Namun, alasan orang-orang merahasiakan keuangan yang paling jamak adalah keinginan menghindari konfrontasi atau merasa malu atas pengeluaran mereka.
Selingkuh keuangan kerap terjadi bukan karena ada niat jahat, tapi karena pelakunya sangat peduli atas apa yang akan dipikirkan pasangannya sehingga mereka menyembunyikan pengeluaran atau pembelian suatu barang.</description><content:encoded>JAKARTA - Ketidakjujuran soal pengeluaran pada pasangan sangat penting untuk diperhatikan. Pasalnya, kajian pada 2018 memperlihatkan 76% dari pasangan menikah yang terlibat 'selingkuh keuangan' mengaku pengalaman itu berdampak negatif terhadap hubungan, bahkan 10% di antaranya mengaku sampai bercerai.
Oleh karena itu, pasangan harus mulai menyadari tanda-tanda selingkuh keuangan melalui hal-hal kecil, seperti kedatangan paket belanja online lebih banyak dari biasanya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Mengenal Selingkuh Keuangan, 76% Bisa Bikin Rumah Tangga Retak
Profesor bidang Pemasaran yang mengkaji fenomena ini di Indiana University, AS, Jenny Olson mengatakan dua komponen utama harus ada agar sebuah perilaku bisa digolongkan selingkuh keuangan.
Pertama, seseorang melakukan tindakan keuangan yang dia tahu pasangannya tidak akan setuju. Kedua, orang tersebut melakukannya secara rahasia.
&quot;Sudah ada antisipasi atas ketidaksetujuan&quot; ujarnya, dikutip dari BBC Indonesia, Minggu (27/3/2022).
Baca Juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Intip Rincian Biaya Hidup di Bekasi, Rp10 Juta Cukup?
Datanya memang masih terbatas, tapi para pakar menduga selingkuh keuangan semakin meningkat sejak beberapa dekade lalu, ketika kian banyak suami dan istri sama-sama bekerja mencari nafkah.
&quot;Zaman sekarang, orang-orang punya rekening bank sendiri-sendiri, aliran pemasukan datang dari berbagai tempat, banyak orang yang punya lebih dari satu pekerjaan, semakin banyak orang berbincang soal pendapatan sampingan. Saya pikir semakin mudah untuk memburamkan batasan-batasan,&quot; papar Jeanfreau.
Semakin mudah pula untuk merahasiakan sesuatu karena &quot;tersembunyi, dan sulit dipantau&quot;, kata Olson.
&quot;Kita tidak lagi mengelola buku cek di meja dapur. Kita login [ke aplikasi perbankan] untuk melihat pengeluaran virtual yang tidak terasa nyata, menghabiskan sumber dana bersama,&quot; tambahnya.Singkat kata, lebih mudah melakukan selingkuh keuangan dan perbuatan itu semakin sulit dipantau ketika dana terasa tidak nyata dan tidak tampak di tangan.
Selain itu, ada banyak alasan mengapa sebagian orang menyembunyikan pengeluaran mereka dari pasangan. Olson menilai beberapa orang melakukan selingkuh keuangan sebagai cara mendapatkan kembali otonomi dalam hubungan; mereka menggunakan pengeluaran keuangan sebagai cara meraih kekuasaan lagi.
&quot;Kita punya keinginan tidak hanya bersama, tapi terpisah. Kita adalah pribadi-pribadi yang berlainan, dan kita juga ingin punya otonomi dalam keuangan kita,&quot; ucap Olson.
Namun, alasan orang-orang merahasiakan keuangan yang paling jamak adalah keinginan menghindari konfrontasi atau merasa malu atas pengeluaran mereka.
Selingkuh keuangan kerap terjadi bukan karena ada niat jahat, tapi karena pelakunya sangat peduli atas apa yang akan dipikirkan pasangannya sehingga mereka menyembunyikan pengeluaran atau pembelian suatu barang.</content:encoded></item></channel></rss>
