<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Memulai Bisnis Tanpa Modal? Begini Caranya</title><description>Ada banyak cara untuk memulai bisnis. Banyak bisnis berjamuran namun tak sedikit juga bisnis yang berguguran.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/28/455/2569291/memulai-bisnis-tanpa-modal-begini-caranya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/03/28/455/2569291/memulai-bisnis-tanpa-modal-begini-caranya"/><item><title>Memulai Bisnis Tanpa Modal? Begini Caranya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/28/455/2569291/memulai-bisnis-tanpa-modal-begini-caranya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/03/28/455/2569291/memulai-bisnis-tanpa-modal-begini-caranya</guid><pubDate>Senin 28 Maret 2022 19:18 WIB</pubDate><dc:creator>Advenia Elisabeth</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/28/455/2569291/memulai-bisnis-tanpa-modal-begini-caranya-3SclfHdfn6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tips Memulai Bisnis tanpa modal (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/28/455/2569291/memulai-bisnis-tanpa-modal-begini-caranya-3SclfHdfn6.jpg</image><title>Tips Memulai Bisnis tanpa modal (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Ada banyak cara untuk memulai bisnis. Banyak bisnis berjamuran namun tak sedikit juga bisnis yang berguguran.
Praktisi Ekonomi Kreatif Adhitya Maulana menerangkan, untuk menjadi seorang pebisnis harus memiliki jiwa kreatif, jika itu tidak dimiliki, lantas jangan heran bisnis yang dijalani tidak bertahan lama. Maka ada istilah creativepreneur di mana pada jobdesknya memberikan aspek kreatifitas untuk membangun dan mengembangkan bisnis yang dijalankan.
BACA JUGA:Sosok Pemuda Kaya Raya dari Bisnis Sawit, Punya Harta Rp26 Triliun

Mulai dari menentukan ide, konsep, pemasaran, penjualan, hingga saat produk terjual dan membangun hubungan ke customer, cara pendekatan komunikasinya pun harus kreatif.
&amp;ldquo;Jadi nggak harus selalu menciptakan suatu lahan baru. Bisnis yang orang jalani bisa jadi sebuah hal yang baru kalau pendekatannya kreatif. Intinya tuh kaya ada wow momennya,&amp;rdquo; jelasnya dalam Podcast Aksi Nyata, Creativepreneurship: Usaha Tanpa Modal? Bisa Kalau Kreatif!, Senin (28/3/2022).
BACA JUGA:Sumber Kekayaan Ciliandra Fangiono, Pemuda RI Berharta Rp26 Triliun dari Bisnis Sawit

Selain kreatif, Pria yang tengah merintis perusahaan di bidang pendidikan luar negeri itu menjelaskan, di era digital saat ini, mau tidak mau para pebisnis harus tanggap teknologi. Karena jika tidak demikian, akan sulit bersaing dengan bisnis-bisnis yang go digital.
Oleh sebab itu, para pebisnis yang belum tanggap teknologi dalam hal ini old generation, harus berkolaborasi dengan kaum milenial yang tentu sudah tanggap teknologi.&amp;ldquo;Adaptif itu sudah pasti. Karena banyak yang mungkin secara generasi  belum terlalu tanggap digital. Sedangkan sekarang ini digitalisasi itu  sesuatu yang harus dimanfaatkan secara maksimal. Caranya gimana? Ya old  generation yang baru buat usaha harus kolaborasi sama milenial dan Z  generation,&amp;rdquo; terang Adhitya.
Dari data yang dia lihat, jumlah pengusaha Indonesia, jika  dikomparasikan dengan jumlah penduduk, masih terendah di Asia Tenggara.
&amp;ldquo;Kita tuh masih sekitar 3%, itu data yang saya liat tahun 2020-2021,  meskipun selama pandemi ada peningkatan karena banyak pekerja yang  dirumahkan dan mulai membangun usaha,&amp;rdquo; paparnya.
Berkaca data tersebut, ujarnya, sebenarnya ada kesempatan untuk  masyarakat yang ingin merintis usaha. Karena dengan banyaknya pengusaha  di suatu negara, khususnya Indonesia akan membantu perekonomian  nasional.</description><content:encoded>JAKARTA - Ada banyak cara untuk memulai bisnis. Banyak bisnis berjamuran namun tak sedikit juga bisnis yang berguguran.
Praktisi Ekonomi Kreatif Adhitya Maulana menerangkan, untuk menjadi seorang pebisnis harus memiliki jiwa kreatif, jika itu tidak dimiliki, lantas jangan heran bisnis yang dijalani tidak bertahan lama. Maka ada istilah creativepreneur di mana pada jobdesknya memberikan aspek kreatifitas untuk membangun dan mengembangkan bisnis yang dijalankan.
BACA JUGA:Sosok Pemuda Kaya Raya dari Bisnis Sawit, Punya Harta Rp26 Triliun

Mulai dari menentukan ide, konsep, pemasaran, penjualan, hingga saat produk terjual dan membangun hubungan ke customer, cara pendekatan komunikasinya pun harus kreatif.
&amp;ldquo;Jadi nggak harus selalu menciptakan suatu lahan baru. Bisnis yang orang jalani bisa jadi sebuah hal yang baru kalau pendekatannya kreatif. Intinya tuh kaya ada wow momennya,&amp;rdquo; jelasnya dalam Podcast Aksi Nyata, Creativepreneurship: Usaha Tanpa Modal? Bisa Kalau Kreatif!, Senin (28/3/2022).
BACA JUGA:Sumber Kekayaan Ciliandra Fangiono, Pemuda RI Berharta Rp26 Triliun dari Bisnis Sawit

Selain kreatif, Pria yang tengah merintis perusahaan di bidang pendidikan luar negeri itu menjelaskan, di era digital saat ini, mau tidak mau para pebisnis harus tanggap teknologi. Karena jika tidak demikian, akan sulit bersaing dengan bisnis-bisnis yang go digital.
Oleh sebab itu, para pebisnis yang belum tanggap teknologi dalam hal ini old generation, harus berkolaborasi dengan kaum milenial yang tentu sudah tanggap teknologi.&amp;ldquo;Adaptif itu sudah pasti. Karena banyak yang mungkin secara generasi  belum terlalu tanggap digital. Sedangkan sekarang ini digitalisasi itu  sesuatu yang harus dimanfaatkan secara maksimal. Caranya gimana? Ya old  generation yang baru buat usaha harus kolaborasi sama milenial dan Z  generation,&amp;rdquo; terang Adhitya.
Dari data yang dia lihat, jumlah pengusaha Indonesia, jika  dikomparasikan dengan jumlah penduduk, masih terendah di Asia Tenggara.
&amp;ldquo;Kita tuh masih sekitar 3%, itu data yang saya liat tahun 2020-2021,  meskipun selama pandemi ada peningkatan karena banyak pekerja yang  dirumahkan dan mulai membangun usaha,&amp;rdquo; paparnya.
Berkaca data tersebut, ujarnya, sebenarnya ada kesempatan untuk  masyarakat yang ingin merintis usaha. Karena dengan banyaknya pengusaha  di suatu negara, khususnya Indonesia akan membantu perekonomian  nasional.</content:encoded></item></channel></rss>
