<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kunci Sukses Berdagang ala Nabi Muhammad SAW</title><description></description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/31/455/2570309/kunci-sukses-berdagang-ala-nabi-muhammad-saw</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/03/31/455/2570309/kunci-sukses-berdagang-ala-nabi-muhammad-saw"/><item><title>Kunci Sukses Berdagang ala Nabi Muhammad SAW</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/31/455/2570309/kunci-sukses-berdagang-ala-nabi-muhammad-saw</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/03/31/455/2570309/kunci-sukses-berdagang-ala-nabi-muhammad-saw</guid><pubDate>Kamis 31 Maret 2022 05:01 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/30/455/2570309/kunci-sukses-berdagang-ala-nabi-muhammad-saw-Ut1v5LC0vw.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jejak bisnis Nabi Muhammad SAW (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/30/455/2570309/kunci-sukses-berdagang-ala-nabi-muhammad-saw-Ut1v5LC0vw.jpg</image><title>Jejak bisnis Nabi Muhammad SAW (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Nabi Muhammad SAW dalam berdagang hingga berbisnis selalu ingat Allah SWT. Sebagai seorang saudagar, Muhammad selalu 'berniaga' dengan Allah SWT. Sesibuk apapun Muhammad dengan urusan perniagaan, Muhammad tidak pernah lalai mengingat Allah.
Demikian dilansir dari Buku Bisnis Ala Nabi karya Mustafa Kamal Rokan, Jakarta, Kamis (31/3/2022).
BACA JUGA:Terungkap Dialog Nabi Muhammad dan Musa saat Isra Miraj, Ustadz Hanan Attaki: Rahasia Umat Manusia

Kesuksesan Muhammad sebagai saudagar ditopang oleh etika yang dewasa ini disebut sebagai key success factor (faktor kunci kesuksesan); yaitu al-shiddiq (benar, jujur), al-amanah (tepercaya, kredibel), al-tabligh (komunikatif, transparan) dan alfathanah (cerdas, profesional).
Selain itu, Muhammad juga membawa serta Allah ke dalam pasar. Demikian pula saudagar-saudagar lain, semisal sahabat-sahabat di sekeliling Muhammad.
BACA JUGA:Ini Ayat-Ayat Alquran tentang Isra Miraj yang Jadi Mukjizat Terbesar Nabi Muhammad

Potret saudagar semacam inilah yang berlangsung di pasar-pasar Rasulullah. Hal ini difirmankan Allah SWT dalam QS An-Nur (24): 37 bahwa Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual-beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat dan (dari) membayarkan zakat, mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi berguncang.
Adanya penghargaan dan dukungan firman Allah dalam ayat di atas sekaligus menyiratkan adanya perintah untuk me majukan perniagaan sebagai aktivitas ekonomi yang bergerak pada sektor riil.Sektor perniagaan ini diapresiasi Rasulullah SAW dalam sabdanya,  sebagaimana ditulis Imam al-Suyuthi dalam al-Jami&amp;rsquo; al-Shagir jilid 1  hlm. 88:
&amp;ldquo;Sesungguhnya sebaik-baik usaha adalah usaha pedagang, yaitu pedagang  yang apabila mereka berbicara tidak berdusta, diberi kepercayaan tidak  berkhianat, berjanji tidak ingkar, membeli tidak mencela, menjual tidak  memuji, bila berutang tidak lalai, dan bila berpiutang tidak  menyulitkan&amp;rdquo; (HR Baihaqi).
Muhammad sangat mengerti tabiat dan watak pasar. Muhammad juga sangat  paham dengan kebaikan (al-khair) dan keburukan (al-syar) yang ada di  dalam pasar. Sehingga, dalam konteks tertentu beliau mengingatkan kepada  sesama pedagang agar waspada dan berhati-hati saat masuk pasar.
Dalam konteks ini, sebagaimana disebutkan al-Suyuthi dalam bukunya  al-Jami&amp;rsquo; al-Shagir, Rasululah bersabda bahwa &amp;ldquo;seburuk-buruk tempat  adalah pasar&amp;rdquo; (HR Al-Hakim).</description><content:encoded>JAKARTA - Nabi Muhammad SAW dalam berdagang hingga berbisnis selalu ingat Allah SWT. Sebagai seorang saudagar, Muhammad selalu 'berniaga' dengan Allah SWT. Sesibuk apapun Muhammad dengan urusan perniagaan, Muhammad tidak pernah lalai mengingat Allah.
Demikian dilansir dari Buku Bisnis Ala Nabi karya Mustafa Kamal Rokan, Jakarta, Kamis (31/3/2022).
BACA JUGA:Terungkap Dialog Nabi Muhammad dan Musa saat Isra Miraj, Ustadz Hanan Attaki: Rahasia Umat Manusia

Kesuksesan Muhammad sebagai saudagar ditopang oleh etika yang dewasa ini disebut sebagai key success factor (faktor kunci kesuksesan); yaitu al-shiddiq (benar, jujur), al-amanah (tepercaya, kredibel), al-tabligh (komunikatif, transparan) dan alfathanah (cerdas, profesional).
Selain itu, Muhammad juga membawa serta Allah ke dalam pasar. Demikian pula saudagar-saudagar lain, semisal sahabat-sahabat di sekeliling Muhammad.
BACA JUGA:Ini Ayat-Ayat Alquran tentang Isra Miraj yang Jadi Mukjizat Terbesar Nabi Muhammad

Potret saudagar semacam inilah yang berlangsung di pasar-pasar Rasulullah. Hal ini difirmankan Allah SWT dalam QS An-Nur (24): 37 bahwa Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual-beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat dan (dari) membayarkan zakat, mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi berguncang.
Adanya penghargaan dan dukungan firman Allah dalam ayat di atas sekaligus menyiratkan adanya perintah untuk me majukan perniagaan sebagai aktivitas ekonomi yang bergerak pada sektor riil.Sektor perniagaan ini diapresiasi Rasulullah SAW dalam sabdanya,  sebagaimana ditulis Imam al-Suyuthi dalam al-Jami&amp;rsquo; al-Shagir jilid 1  hlm. 88:
&amp;ldquo;Sesungguhnya sebaik-baik usaha adalah usaha pedagang, yaitu pedagang  yang apabila mereka berbicara tidak berdusta, diberi kepercayaan tidak  berkhianat, berjanji tidak ingkar, membeli tidak mencela, menjual tidak  memuji, bila berutang tidak lalai, dan bila berpiutang tidak  menyulitkan&amp;rdquo; (HR Baihaqi).
Muhammad sangat mengerti tabiat dan watak pasar. Muhammad juga sangat  paham dengan kebaikan (al-khair) dan keburukan (al-syar) yang ada di  dalam pasar. Sehingga, dalam konteks tertentu beliau mengingatkan kepada  sesama pedagang agar waspada dan berhati-hati saat masuk pasar.
Dalam konteks ini, sebagaimana disebutkan al-Suyuthi dalam bukunya  al-Jami&amp;rsquo; al-Shagir, Rasululah bersabda bahwa &amp;ldquo;seburuk-buruk tempat  adalah pasar&amp;rdquo; (HR Al-Hakim).</content:encoded></item></channel></rss>
