<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Minat Investor Asing Beli Saham Perkebunan Masih Tinggi</title><description>Minat investor membeli saham perkebunan masih tinggi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/04/01/278/2571615/minat-investor-asing-beli-saham-perkebunan-masih-tinggi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/04/01/278/2571615/minat-investor-asing-beli-saham-perkebunan-masih-tinggi"/><item><title>Minat Investor Asing Beli Saham Perkebunan Masih Tinggi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/04/01/278/2571615/minat-investor-asing-beli-saham-perkebunan-masih-tinggi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/04/01/278/2571615/minat-investor-asing-beli-saham-perkebunan-masih-tinggi</guid><pubDate>Jum'at 01 April 2022 14:40 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Harian Neraca</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/04/01/278/2571615/minat-investor-asing-beli-saham-perkebunan-masih-tinggi-GaKRokOwIL.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Minat investor asing terhadap saham perkebunan masih tinggi (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/04/01/278/2571615/minat-investor-asing-beli-saham-perkebunan-masih-tinggi-GaKRokOwIL.jpeg</image><title>Minat investor asing terhadap saham perkebunan masih tinggi (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Minat investor membeli saham perkebunan masih tinggi. Kampanye negatif CPO dan produk turunannya asal Indonesia di Eropa, tidak menjadi penghambat investor asing untuk membeli saham emiten perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Vice President Brokerage Strategic Development PT Henan Putihrai Hendra Martono mengatakan bahwa pada dasarnya karakter investor asing sama saja dengan investor domestik. Mereka lebih fokus pada prediksi dan rencana kerja perusahaan untuk calon emiten pendatang baru dan pergerakan saham selama jam-jam transaksi untuk saham yang sudah listing.
BACA JUGA:Barito Pacific (BRPT), Emiten Miliarder Prajogo Pangestu Kantongi Laba Rp3,8 Triliun di 2021

&amp;ldquo;Investor asing tetap masuk, kalau menjanjikan keuntungan ya tetap masuk,&amp;rdquo; ujarnya menjawab pertanyaan soal tantangan bagi rencana perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSS) untuk melantai di Bursa Efek Indonesia, tahun ini.
Hendra menjelaskan, kampanye negatif memang masih menjadi tantangan perusahaan perkebunan karena isu ini terus dipelihara di luar negeri. Namun, ia menilai persoalan itu akan dapat diatasi jika perusahaan dapat menjelaskan dan menunjukkan aktivitas bisnis berkelanjutan dan kinerja keuangan positif dari tahun ke tahun.
BACA JUGA:Investor Asing Borong Saham Rp769,1 Miliar, Emiten BUMN Ini Jadi Incaran

Dia memaparkan, apalagi saat ini banyak kalangan yang telah menyadari bahwa kampanye negatif banyak dipengaruhi oleh persaingan usaha di bisnis minyak nabati yang tidak sehat alias ada kepentingan produsen minyak nabati di negara lain. Posisi industri sawit rawan dipojokkan dengan isu lingkungan oleh pihak-pihak tertentu.
Di sisi lain, lanjutnya, untuk saham baru IPO sebaiknya melihat dulu pergerakan saham di awal transaksi minimal 30 hari perdagangan setelah listing. Setelah ada pergerakan saham secara teknikal, akan lebih mudah untuk memprediksi arah pergerakan saham baik untuk transaksi jangka pendek, menengah, ataupun jangka panjang.
&amp;ldquo;Kalau saya tunggu sampai minimal 30 candle. Kalau kurang dari itu ya bisa juga, tetapi trading kilat saja. Jadi transaksilah setelah chart sudah terbentuk. Ini di luar bicara fundamental karena soal fundamental sangat sulit,&amp;rdquo; ujarnya.Pengamatan terhadap harga transaksi setiap hari akan memberikan  gambaran yang rinci terhadap masing-masing saham, meskipun perusahaannya  bergerak di bidang yang sama karena banyak faktor lain yang  mempengaruhi.
&amp;ldquo;Momentum bagi setiap perusahaan, meskipun satu industri,  berbeda-beda. Kadang-kadang harga sawit yang tinggi tidak membuat  langsung harga saham saat listing naik. Perlu diingatkan, jika memang  untuk jangka panjang pun tetap lebih dianjurkan beli berkala,&amp;rdquo;  tambahnya.
Sebelumnya, Komisaris PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSS), Robiyanto,  mengatakan bahwa besarnya prospek bisnis kelapa sawit di Indonesia  mendorong perusahaan perkebunan terus meningkatkan kapasitas bisnis  melalui rencana melepas saham perdana ke publik (IPO) pada tahun ini  dengan target perolehan dana dari kegiatan penawaran umum saham perdana  ke publik sekitar Rp 1,5 triliun.
Menjawab kampanye negatif, Robiyanto mengatakan NSS ikut  berpartisipasi mendukung Program Ekonomi Hijau demi keberlangsungan  bumi. NSS berkomitmen mengelola sumber daya alam milik Indonesia  semaksimal mungkin agar bermanfaat bagi masyarakat di dalam negeri,  sejalan dengan kebijakan pemerintah.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Minat investor membeli saham perkebunan masih tinggi. Kampanye negatif CPO dan produk turunannya asal Indonesia di Eropa, tidak menjadi penghambat investor asing untuk membeli saham emiten perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Vice President Brokerage Strategic Development PT Henan Putihrai Hendra Martono mengatakan bahwa pada dasarnya karakter investor asing sama saja dengan investor domestik. Mereka lebih fokus pada prediksi dan rencana kerja perusahaan untuk calon emiten pendatang baru dan pergerakan saham selama jam-jam transaksi untuk saham yang sudah listing.
BACA JUGA:Barito Pacific (BRPT), Emiten Miliarder Prajogo Pangestu Kantongi Laba Rp3,8 Triliun di 2021

&amp;ldquo;Investor asing tetap masuk, kalau menjanjikan keuntungan ya tetap masuk,&amp;rdquo; ujarnya menjawab pertanyaan soal tantangan bagi rencana perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSS) untuk melantai di Bursa Efek Indonesia, tahun ini.
Hendra menjelaskan, kampanye negatif memang masih menjadi tantangan perusahaan perkebunan karena isu ini terus dipelihara di luar negeri. Namun, ia menilai persoalan itu akan dapat diatasi jika perusahaan dapat menjelaskan dan menunjukkan aktivitas bisnis berkelanjutan dan kinerja keuangan positif dari tahun ke tahun.
BACA JUGA:Investor Asing Borong Saham Rp769,1 Miliar, Emiten BUMN Ini Jadi Incaran

Dia memaparkan, apalagi saat ini banyak kalangan yang telah menyadari bahwa kampanye negatif banyak dipengaruhi oleh persaingan usaha di bisnis minyak nabati yang tidak sehat alias ada kepentingan produsen minyak nabati di negara lain. Posisi industri sawit rawan dipojokkan dengan isu lingkungan oleh pihak-pihak tertentu.
Di sisi lain, lanjutnya, untuk saham baru IPO sebaiknya melihat dulu pergerakan saham di awal transaksi minimal 30 hari perdagangan setelah listing. Setelah ada pergerakan saham secara teknikal, akan lebih mudah untuk memprediksi arah pergerakan saham baik untuk transaksi jangka pendek, menengah, ataupun jangka panjang.
&amp;ldquo;Kalau saya tunggu sampai minimal 30 candle. Kalau kurang dari itu ya bisa juga, tetapi trading kilat saja. Jadi transaksilah setelah chart sudah terbentuk. Ini di luar bicara fundamental karena soal fundamental sangat sulit,&amp;rdquo; ujarnya.Pengamatan terhadap harga transaksi setiap hari akan memberikan  gambaran yang rinci terhadap masing-masing saham, meskipun perusahaannya  bergerak di bidang yang sama karena banyak faktor lain yang  mempengaruhi.
&amp;ldquo;Momentum bagi setiap perusahaan, meskipun satu industri,  berbeda-beda. Kadang-kadang harga sawit yang tinggi tidak membuat  langsung harga saham saat listing naik. Perlu diingatkan, jika memang  untuk jangka panjang pun tetap lebih dianjurkan beli berkala,&amp;rdquo;  tambahnya.
Sebelumnya, Komisaris PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSS), Robiyanto,  mengatakan bahwa besarnya prospek bisnis kelapa sawit di Indonesia  mendorong perusahaan perkebunan terus meningkatkan kapasitas bisnis  melalui rencana melepas saham perdana ke publik (IPO) pada tahun ini  dengan target perolehan dana dari kegiatan penawaran umum saham perdana  ke publik sekitar Rp 1,5 triliun.
Menjawab kampanye negatif, Robiyanto mengatakan NSS ikut  berpartisipasi mendukung Program Ekonomi Hijau demi keberlangsungan  bumi. NSS berkomitmen mengelola sumber daya alam milik Indonesia  semaksimal mungkin agar bermanfaat bagi masyarakat di dalam negeri,  sejalan dengan kebijakan pemerintah.</content:encoded></item></channel></rss>
