<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Neraca Dagang Industri Kimia Masih Defisit, Ini Penyebabnya</title><description>Industri kimia merupakan sektor tiga besar kontributor penopang kinerja industri pengolahan nonmigas.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/04/02/320/2572182/neraca-dagang-industri-kimia-masih-defisit-ini-penyebabnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/04/02/320/2572182/neraca-dagang-industri-kimia-masih-defisit-ini-penyebabnya"/><item><title>Neraca Dagang Industri Kimia Masih Defisit, Ini Penyebabnya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/04/02/320/2572182/neraca-dagang-industri-kimia-masih-defisit-ini-penyebabnya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/04/02/320/2572182/neraca-dagang-industri-kimia-masih-defisit-ini-penyebabnya</guid><pubDate>Sabtu 02 April 2022 21:05 WIB</pubDate><dc:creator>Advenia Elisabeth</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/04/02/320/2572182/neraca-dagang-industri-kimia-masih-defisit-ini-penyebabnya-GHWAnL9a6Y.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Neraca dagang industri kimia masih defisit (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/04/02/320/2572182/neraca-dagang-industri-kimia-masih-defisit-ini-penyebabnya-GHWAnL9a6Y.jpeg</image><title>Neraca dagang industri kimia masih defisit (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Industri kimia merupakan sektor tiga besar kontributor penopang kinerja industri pengolahan nonmigas. Namun sayangnya neraca dagang industri kimia masih defisit.
Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian terus fokus dalam pengembangan investasi di industri kimia untuk dapat mensubstitusi impor bahan dan barang kimia.
BACA JUGA:Neraca Dagang RI Surplus Tertinggi dalam 15 Tahun, Menko Airlangga: Bukti Ekonomi Pulih

&amp;ldquo;Pada tahun 2021, nilai ekspor bahan kimia dan barang dari bahan kimia yang mencapai USD18,86 miliar. Di tengah masa pandemi dan pemulihan ekonomi, kami terus berupaya untuk memperbaiki defisit neraca perdagangan di sektor industri kimia ini,&amp;rdquo; kata Plt. Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Ignatius Warsito dikutip dari keterangan resminya, Sabtu (2/4/2022).
Warsito menjelaskan, pihaknya tengah menyusun neraca komoditas sebagai bentuk komitmen untuk pemetaan atau memberikan data dan informasi terhadap situasi konsumsi dan produksi pada komoditas tertentu untuk kebutuhan industri.
BACA JUGA:Surplus Neraca Dagang Diprediksi Turun Jadi USD4,77 Miliar

&amp;ldquo;Sehingga ke depan, akan memberikan keseimbangan pada neraca perdagangan kita. Bahkan, ekspansi ini menjadi momentum dalam mewujudkan kemandirian industri kita,&amp;rdquo; terangnya.
Menurut Warsito, industri petrokimia merupakan sektor strategis di tingkat hulu yang menjadi modal dasar dan prasyarat utama untuk pengembangan industri di tingkat hilir seperti plastik, serat kain, tekstil, kemasan, elektronika, otomotif, obat-obatan dan industri-industri penting lainnya.
&amp;ldquo;Berhasil tidaknya pemerintah dalam membangun industri nasional, salah satunya sangat dipengaruhi oleh profil industri petrokimia,&amp;rdquo; tuturnya.Sebagai pemasok bahan baku untuk industri hilir, lanjut Ignatius,  sektor petrokimia juga diharapkan memiliki kapasitas yang memadai dan  memiliki performa yang baik dan stabil di setiap saat.
&amp;ldquo;Hal inilah yang memacu pemerintah untuk terus memperkuat industri  petrokimia melalui peningkatan kapasitas produksi serta melengkapi  struktur pohon industri demi menjamin pemenuhan kebutuhan bahan baku  industri,&amp;rdquo; papar Warsito.
Selama tahun 2020 hingga 2030, Ignatis menuturkan, pemerintah tengah  berusaha mengawal proyek-proyek pembangunan industri kimia raksasa yang  total nilai investasinya mencapai USD31 miliar.
Investasi tersebut guna memperkuat komoditas di sektor kimia hulu dan  mampu mensubstitusi produk petrokimia yang masih diimpor seperti  Etilena, Propilena, BTX, Butadiena, Polietilena (PE), dan Polipropilena  (PP).
&amp;ldquo;Kapasitas industri nasional untuk produk-produk tersebut saat ini mencapai 7,1 juta ton per tahun,&amp;rdquo; sebutnya.
Guna memenuhi kebutuhan dalam negeri yang semakin meningkat, diperlukan peningkatan kapasitas produksinya.
&amp;ldquo;Dengan adanya investasi besar di industri petrokimia yang saat ini  didukung penuh oleh pemerintah, Indonesia akan menjadi negara produsen  petrokimia Nomor 1 di ASEAN dengan tambahan total kapasitas Olefin  sebesar 5,7 juta ton per tahun serta tambahan total kapasitas Poliolefin  sebesar 4,7 juta ton per tahun,&amp;rdquo; imbuhnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Industri kimia merupakan sektor tiga besar kontributor penopang kinerja industri pengolahan nonmigas. Namun sayangnya neraca dagang industri kimia masih defisit.
Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian terus fokus dalam pengembangan investasi di industri kimia untuk dapat mensubstitusi impor bahan dan barang kimia.
BACA JUGA:Neraca Dagang RI Surplus Tertinggi dalam 15 Tahun, Menko Airlangga: Bukti Ekonomi Pulih

&amp;ldquo;Pada tahun 2021, nilai ekspor bahan kimia dan barang dari bahan kimia yang mencapai USD18,86 miliar. Di tengah masa pandemi dan pemulihan ekonomi, kami terus berupaya untuk memperbaiki defisit neraca perdagangan di sektor industri kimia ini,&amp;rdquo; kata Plt. Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Ignatius Warsito dikutip dari keterangan resminya, Sabtu (2/4/2022).
Warsito menjelaskan, pihaknya tengah menyusun neraca komoditas sebagai bentuk komitmen untuk pemetaan atau memberikan data dan informasi terhadap situasi konsumsi dan produksi pada komoditas tertentu untuk kebutuhan industri.
BACA JUGA:Surplus Neraca Dagang Diprediksi Turun Jadi USD4,77 Miliar

&amp;ldquo;Sehingga ke depan, akan memberikan keseimbangan pada neraca perdagangan kita. Bahkan, ekspansi ini menjadi momentum dalam mewujudkan kemandirian industri kita,&amp;rdquo; terangnya.
Menurut Warsito, industri petrokimia merupakan sektor strategis di tingkat hulu yang menjadi modal dasar dan prasyarat utama untuk pengembangan industri di tingkat hilir seperti plastik, serat kain, tekstil, kemasan, elektronika, otomotif, obat-obatan dan industri-industri penting lainnya.
&amp;ldquo;Berhasil tidaknya pemerintah dalam membangun industri nasional, salah satunya sangat dipengaruhi oleh profil industri petrokimia,&amp;rdquo; tuturnya.Sebagai pemasok bahan baku untuk industri hilir, lanjut Ignatius,  sektor petrokimia juga diharapkan memiliki kapasitas yang memadai dan  memiliki performa yang baik dan stabil di setiap saat.
&amp;ldquo;Hal inilah yang memacu pemerintah untuk terus memperkuat industri  petrokimia melalui peningkatan kapasitas produksi serta melengkapi  struktur pohon industri demi menjamin pemenuhan kebutuhan bahan baku  industri,&amp;rdquo; papar Warsito.
Selama tahun 2020 hingga 2030, Ignatis menuturkan, pemerintah tengah  berusaha mengawal proyek-proyek pembangunan industri kimia raksasa yang  total nilai investasinya mencapai USD31 miliar.
Investasi tersebut guna memperkuat komoditas di sektor kimia hulu dan  mampu mensubstitusi produk petrokimia yang masih diimpor seperti  Etilena, Propilena, BTX, Butadiena, Polietilena (PE), dan Polipropilena  (PP).
&amp;ldquo;Kapasitas industri nasional untuk produk-produk tersebut saat ini mencapai 7,1 juta ton per tahun,&amp;rdquo; sebutnya.
Guna memenuhi kebutuhan dalam negeri yang semakin meningkat, diperlukan peningkatan kapasitas produksinya.
&amp;ldquo;Dengan adanya investasi besar di industri petrokimia yang saat ini  didukung penuh oleh pemerintah, Indonesia akan menjadi negara produsen  petrokimia Nomor 1 di ASEAN dengan tambahan total kapasitas Olefin  sebesar 5,7 juta ton per tahun serta tambahan total kapasitas Poliolefin  sebesar 4,7 juta ton per tahun,&amp;rdquo; imbuhnya.</content:encoded></item></channel></rss>
