<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dana Jumbo Rp700 Triliun 'Nganggur' di Bank</title><description>Kemenkeu menyebutkan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang ada di perbankan mencapai sekitar Rp600 triliun sampai Rp700 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/04/04/320/2572849/dana-jumbo-rp700-triliun-nganggur-di-bank</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/04/04/320/2572849/dana-jumbo-rp700-triliun-nganggur-di-bank"/><item><title>Dana Jumbo Rp700 Triliun 'Nganggur' di Bank</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/04/04/320/2572849/dana-jumbo-rp700-triliun-nganggur-di-bank</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/04/04/320/2572849/dana-jumbo-rp700-triliun-nganggur-di-bank</guid><pubDate>Senin 04 April 2022 13:02 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/04/04/320/2572849/dana-jumbo-rp700-triliun-nganggur-di-bank-GY5ynwxPOT.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">DPK sebesar Rp700 triliun nganggur di bank (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/04/04/320/2572849/dana-jumbo-rp700-triliun-nganggur-di-bank-GY5ynwxPOT.jpeg</image><title>DPK sebesar Rp700 triliun nganggur di bank (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebutkan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang ada di perbankan mencapai sekitar Rp600 triliun sampai Rp700 triliun.
&amp;ldquo;Saat ini kami prediksi ada sekitar Rp600 triliun sampai Rp700 triliun DPK yang bisa dibilang menumpuk di perbankan,&amp;rdquo; kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu dalam Indonesia Macroeconomic Updates 2022 di Jakarta, Senin (4/4/2022).
BACA JUGA:Banyak Orang yang Ngutang, Buktinya Kredit Perbankan Tumbuh 6,33%

Dirinya menyatakan penumpukan DPK mencapai Rp700 triliun di perbankan itu terjadi karena adanya kenaikan harga komoditas unggulan Indonesia seperti sawit dan batu bara akibat situasi geopolitik antara Rusia dan Ukraina.
Dia menuturkan kenaikan harga komoditas ini biasanya memberi dampak positif pada sektor keuangan yakni adanya tambahan likuiditas di perbankan.
BACA JUGA:Waspada! OJK Ungkap 21% Serangan Siber Hantui Perbankan

&amp;ldquo;Kita menikmati transmisi dari tambahan likuiditas yang terjadi dengan tingginya harga komoditas akan mengalir ke sektor perbankan,&amp;rdquo; ujarnya.
Tak hanya ke sektor perbankan, kenaikan harga komoditas turut dinikmati oleh sektor lain seperti para petani kelapa sawit maupun sektor di sekitarnya.Menurut Dia, hal tersebut berdampak pada penjualan yang tinggi pada  kendaraan bermotor, televisi maupun elektronik sehingga mencerminkan  konsumsi masyarakat naik.
&amp;ldquo;Artinya akan menyalurkan DPK di perbankan yang selama dua tahun ini tumbuh sangat tinggi di atas 10 persen,&amp;rdquo; tegasnya.
Dia berharap dana di perbankan ini akan mulai digunakan masyarakat  untuk melakukan konsumsi baik membeli elektronik, kendaraan bermotor,  pakaian hingga traveling.
&amp;ldquo;Ini kami harapkan transmisi akan baik ke perekonomian,&amp;rdquo; kata Febrio.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebutkan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang ada di perbankan mencapai sekitar Rp600 triliun sampai Rp700 triliun.
&amp;ldquo;Saat ini kami prediksi ada sekitar Rp600 triliun sampai Rp700 triliun DPK yang bisa dibilang menumpuk di perbankan,&amp;rdquo; kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu dalam Indonesia Macroeconomic Updates 2022 di Jakarta, Senin (4/4/2022).
BACA JUGA:Banyak Orang yang Ngutang, Buktinya Kredit Perbankan Tumbuh 6,33%

Dirinya menyatakan penumpukan DPK mencapai Rp700 triliun di perbankan itu terjadi karena adanya kenaikan harga komoditas unggulan Indonesia seperti sawit dan batu bara akibat situasi geopolitik antara Rusia dan Ukraina.
Dia menuturkan kenaikan harga komoditas ini biasanya memberi dampak positif pada sektor keuangan yakni adanya tambahan likuiditas di perbankan.
BACA JUGA:Waspada! OJK Ungkap 21% Serangan Siber Hantui Perbankan

&amp;ldquo;Kita menikmati transmisi dari tambahan likuiditas yang terjadi dengan tingginya harga komoditas akan mengalir ke sektor perbankan,&amp;rdquo; ujarnya.
Tak hanya ke sektor perbankan, kenaikan harga komoditas turut dinikmati oleh sektor lain seperti para petani kelapa sawit maupun sektor di sekitarnya.Menurut Dia, hal tersebut berdampak pada penjualan yang tinggi pada  kendaraan bermotor, televisi maupun elektronik sehingga mencerminkan  konsumsi masyarakat naik.
&amp;ldquo;Artinya akan menyalurkan DPK di perbankan yang selama dua tahun ini tumbuh sangat tinggi di atas 10 persen,&amp;rdquo; tegasnya.
Dia berharap dana di perbankan ini akan mulai digunakan masyarakat  untuk melakukan konsumsi baik membeli elektronik, kendaraan bermotor,  pakaian hingga traveling.
&amp;ldquo;Ini kami harapkan transmisi akan baik ke perekonomian,&amp;rdquo; kata Febrio.</content:encoded></item></channel></rss>
