<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perang Rusia-Ukraina, Waspada Inflasi Meroket</title><description>Perang Rusia dan Ukraina diperkirakan berlanjut dalam waktu yang cukup lama.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/04/07/320/2574746/perang-rusia-ukraina-waspada-inflasi-meroket</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/04/07/320/2574746/perang-rusia-ukraina-waspada-inflasi-meroket"/><item><title>Perang Rusia-Ukraina, Waspada Inflasi Meroket</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/04/07/320/2574746/perang-rusia-ukraina-waspada-inflasi-meroket</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/04/07/320/2574746/perang-rusia-ukraina-waspada-inflasi-meroket</guid><pubDate>Kamis 07 April 2022 11:14 WIB</pubDate><dc:creator>Athika Rahma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/04/07/320/2574746/perang-rusia-ukraina-waspada-inflasi-meroket-nwqDB3Cl29.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ancaman inflasi dari perang Rusia-Ukraina (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/04/07/320/2574746/perang-rusia-ukraina-waspada-inflasi-meroket-nwqDB3Cl29.jpg</image><title>Ancaman inflasi dari perang Rusia-Ukraina (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Perang Rusia-Ukraina diperkirakan berlanjut dalam waktu yang cukup lama. Hal ini akan menyebabkan kenaikan harga sejumlah komoditas karena terhambatnya pasokan imbas perang.
Ketua Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI) Muhammad Edhie Purnawan mengatakan, dengan kondisi seperti ini, inflasi dunia diperkirakan juga akan berkepanjangan, begitu pula dengan potensi naiknya inflasi di Indonesia.
BACA JUGA:PPN 11% Bikin Harga Barang Lebih Mahal, Inflasi Terkendali?

&quot;Rusia itu punya fundamental yang kuat, current account surplusnya cukup baik, sehingga logistiknya kuat. Perang itu berakhirnya salah satunya karena kekurangan logistik, jadi ini diperkirakan tidak akan singkat, konfliknya panjang,&quot; ujar Edhie dalam webinar, Kamis (7/4/2022).
Menurutnya, inflasi yang terjadi saat ini disebabkan oleh kebijakan sanksi Rusia maupun Amerika Serikat, tidak ada yang lebih kuat karena keduanya saling mempengaruhi. Imbasnya, negara-negara miskin seperti Bangladesh memiliki kecenderungan dampak yang parah dibanding negara maju yang juga terhantam dampak perang, seperti Jerman.
BACA JUGA:Harga Pertamax Naik dan Pertalite Tetap, Apa Dampaknya ke Inflasi? 

&quot;Inflation is always and everywhere a monetary phenomenon, tapi kali ini persoalannya ialah suplai yang terganggu, sanksi, harga meningkat, hingga pandemi,&quot; ujar Edhie.Oleh karena itu, Indonesia harus mengantisipasi segala dampak yang  mungkin timbul karena kondisi ini. Kementerian Keuangan dan Bank  Indonesia harus memperhatikan dengan seksama dan menyiapkan kebijakan  agar angka inflasi bisa ditekan.
&quot;Kebetulan Indonesia juga menjadi Ketua G20, mestinya Indonesia bisa  mempersiapkan dengan sebaik-baiknya dan mempengaruhi political dan  economic diplomacy di level internasional yang bisa membawa perubahan  cukup besar terhadap kondisi geopolitik saat ini,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Perang Rusia-Ukraina diperkirakan berlanjut dalam waktu yang cukup lama. Hal ini akan menyebabkan kenaikan harga sejumlah komoditas karena terhambatnya pasokan imbas perang.
Ketua Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI) Muhammad Edhie Purnawan mengatakan, dengan kondisi seperti ini, inflasi dunia diperkirakan juga akan berkepanjangan, begitu pula dengan potensi naiknya inflasi di Indonesia.
BACA JUGA:PPN 11% Bikin Harga Barang Lebih Mahal, Inflasi Terkendali?

&quot;Rusia itu punya fundamental yang kuat, current account surplusnya cukup baik, sehingga logistiknya kuat. Perang itu berakhirnya salah satunya karena kekurangan logistik, jadi ini diperkirakan tidak akan singkat, konfliknya panjang,&quot; ujar Edhie dalam webinar, Kamis (7/4/2022).
Menurutnya, inflasi yang terjadi saat ini disebabkan oleh kebijakan sanksi Rusia maupun Amerika Serikat, tidak ada yang lebih kuat karena keduanya saling mempengaruhi. Imbasnya, negara-negara miskin seperti Bangladesh memiliki kecenderungan dampak yang parah dibanding negara maju yang juga terhantam dampak perang, seperti Jerman.
BACA JUGA:Harga Pertamax Naik dan Pertalite Tetap, Apa Dampaknya ke Inflasi? 

&quot;Inflation is always and everywhere a monetary phenomenon, tapi kali ini persoalannya ialah suplai yang terganggu, sanksi, harga meningkat, hingga pandemi,&quot; ujar Edhie.Oleh karena itu, Indonesia harus mengantisipasi segala dampak yang  mungkin timbul karena kondisi ini. Kementerian Keuangan dan Bank  Indonesia harus memperhatikan dengan seksama dan menyiapkan kebijakan  agar angka inflasi bisa ditekan.
&quot;Kebetulan Indonesia juga menjadi Ketua G20, mestinya Indonesia bisa  mempersiapkan dengan sebaik-baiknya dan mempengaruhi political dan  economic diplomacy di level internasional yang bisa membawa perubahan  cukup besar terhadap kondisi geopolitik saat ini,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
