<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Produk UMKM Kaleng Kerupuk Bermotif Diekspor ke Belanda</title><description>Produk UMKM kaleng kerupuk yang menarik perhatian pembeli dari beberapa  negara seperti Eropa, Amerika Serikat, Australia, hingga Asean.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/04/11/455/2576986/produk-umkm-kaleng-kerupuk-bermotif-diekspor-ke-belanda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/04/11/455/2576986/produk-umkm-kaleng-kerupuk-bermotif-diekspor-ke-belanda"/><item><title>Produk UMKM Kaleng Kerupuk Bermotif Diekspor ke Belanda</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/04/11/455/2576986/produk-umkm-kaleng-kerupuk-bermotif-diekspor-ke-belanda</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/04/11/455/2576986/produk-umkm-kaleng-kerupuk-bermotif-diekspor-ke-belanda</guid><pubDate>Senin 11 April 2022 18:02 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/04/11/455/2576986/produk-umkm-kaleng-kerupuk-bermotif-diekspor-ke-belanda-7eeMc3CcOr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Produk UMKM asal Yogya diekspor ke Belanda (Foto: dok. LPEI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/04/11/455/2576986/produk-umkm-kaleng-kerupuk-bermotif-diekspor-ke-belanda-7eeMc3CcOr.jpg</image><title>Produk UMKM asal Yogya diekspor ke Belanda (Foto: dok. LPEI)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Produk UMKM kaleng kerupuk yang menarik perhatian pembeli dari beberapa negara seperti Eropa, Amerika Serikat, Australia, hingga Asia Tenggara. Produk ini merupakan garapan UMKM asal Yogyakarta dengan produk berupa home decor milik Eni Anjayani.
Eni menuturkan motif batik kuno pada produk seperti tumbler dan kaleng kerupuk dapat memberi kesan dan pesona masa lalu, sekaligus tetap terdapat sentuhan modern.
BACA JUGA:BLT UMKM Rp600.000 Cair, Cek Syarat dan Cara Mencairkan Bantuan

Dia menjelaskan proses pembuatan karya seni ini melibatkan masyarakat sekitar seperti ibu rumah tangga sampai anak muda sehingga memberi kontribusi ekonomi sekaligus menjaga kelestarian budaya Indonesia.
Eni yang mengawali bisnisnya dengan modal Rp5 juta tersebut saat ini mampu memperkerjakan 37 orang dengan 17 di antaranya adalah pegawai in house sedangkan sisanya freelance.
BACA JUGA:BNI Garap Diaspora dan UMKM Ekspor Sekaligus 

Pegawai ini tersebar di empat klaster berlokasi di Yogyakarta, Bantul, Sleman dan Magelang dengan masing-masing klaster mampu menghasilkan 300 sampai 500 unit per hari.
&amp;ldquo;Harga jual produk sebesar Rp290 ribu sampai Rp1 juta,&amp;rdquo; ujar Eni.
Eni bercerita awal merintis usahanya dilakukan dengan berjualan online pada 2012 namun permintaan semakin meningkat dan akhirnya ia mengangkat karyawan pada 2014 karena skala bisnis yang semakin besar.Kemudian pada 2015 Eni mulai memberanikan diri untuk ikut dalam  pameran individu di JCC Senayan, Jakarta, dan mendapatkan penghargaan  dari Majalah Femina. Lalu pada 2017 Eni semakin mengembangkan usahanya  yang bernama Wastraloka ini dengan mengikuti pelatihan Program CPNE dari  LPEI.
Ia mengaku belum mengutamakan nilai produk UMKM nya sebelum mengikuti  pelatihan CPNE namun akhirnya Wastraloka berhasil menembus pasar  Australia setelah mendapat pelatihan.
Menurutnya, Program CPNE memberi banyak manfaat bagi pelaku UMKM  karena membantu memilihkan jenis produk yang diproduksi sesuai  permintaan, memberi akses pasar dan menghitung harga jual.
&amp;ldquo;Kita juga belajar proses dari pengiriman produk hingga sampai ke  negara tujuan. Mengikuti Program CPNE memiliki manfaat besar bagi saya,&amp;rdquo;  tegasnya.
LPEI mendorong para pelaku UMKM agar mampu menembus pasar global dengan mengekspor produk ke berbagai negara melalui CPNE.
&amp;ldquo;Program CPNE disiapkan untuk UKM berorientasi ekspor yang ingin  berkembang menjadi eksportir Indonesia baik secara langsung maupun tidak  langsung,&amp;rdquo; kata Corporate Secretary LPEI Chesna F Anwar.
Chesna menyatakan Program CPNE ditujukan untuk melatih dan  mendampingi UKM berorientasi ekspor agar mampu menghasilkan produk yang  unggul dan dapat bersaing di pasar global.
Salah satu peserta program CPNE adalah Eni Anjayani yang merupakan  seorang pengusaha UMKM asal Yogyakarta dengan produk berupa home decor  bermotif batik kuno seperti kaleng kerupuk yang menarik perhatian  pembeli dari beberapa negara seperti Eropa, Amerika Serikat, Australia,  hingga Asia Tenggara.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Produk UMKM kaleng kerupuk yang menarik perhatian pembeli dari beberapa negara seperti Eropa, Amerika Serikat, Australia, hingga Asia Tenggara. Produk ini merupakan garapan UMKM asal Yogyakarta dengan produk berupa home decor milik Eni Anjayani.
Eni menuturkan motif batik kuno pada produk seperti tumbler dan kaleng kerupuk dapat memberi kesan dan pesona masa lalu, sekaligus tetap terdapat sentuhan modern.
BACA JUGA:BLT UMKM Rp600.000 Cair, Cek Syarat dan Cara Mencairkan Bantuan

Dia menjelaskan proses pembuatan karya seni ini melibatkan masyarakat sekitar seperti ibu rumah tangga sampai anak muda sehingga memberi kontribusi ekonomi sekaligus menjaga kelestarian budaya Indonesia.
Eni yang mengawali bisnisnya dengan modal Rp5 juta tersebut saat ini mampu memperkerjakan 37 orang dengan 17 di antaranya adalah pegawai in house sedangkan sisanya freelance.
BACA JUGA:BNI Garap Diaspora dan UMKM Ekspor Sekaligus 

Pegawai ini tersebar di empat klaster berlokasi di Yogyakarta, Bantul, Sleman dan Magelang dengan masing-masing klaster mampu menghasilkan 300 sampai 500 unit per hari.
&amp;ldquo;Harga jual produk sebesar Rp290 ribu sampai Rp1 juta,&amp;rdquo; ujar Eni.
Eni bercerita awal merintis usahanya dilakukan dengan berjualan online pada 2012 namun permintaan semakin meningkat dan akhirnya ia mengangkat karyawan pada 2014 karena skala bisnis yang semakin besar.Kemudian pada 2015 Eni mulai memberanikan diri untuk ikut dalam  pameran individu di JCC Senayan, Jakarta, dan mendapatkan penghargaan  dari Majalah Femina. Lalu pada 2017 Eni semakin mengembangkan usahanya  yang bernama Wastraloka ini dengan mengikuti pelatihan Program CPNE dari  LPEI.
Ia mengaku belum mengutamakan nilai produk UMKM nya sebelum mengikuti  pelatihan CPNE namun akhirnya Wastraloka berhasil menembus pasar  Australia setelah mendapat pelatihan.
Menurutnya, Program CPNE memberi banyak manfaat bagi pelaku UMKM  karena membantu memilihkan jenis produk yang diproduksi sesuai  permintaan, memberi akses pasar dan menghitung harga jual.
&amp;ldquo;Kita juga belajar proses dari pengiriman produk hingga sampai ke  negara tujuan. Mengikuti Program CPNE memiliki manfaat besar bagi saya,&amp;rdquo;  tegasnya.
LPEI mendorong para pelaku UMKM agar mampu menembus pasar global dengan mengekspor produk ke berbagai negara melalui CPNE.
&amp;ldquo;Program CPNE disiapkan untuk UKM berorientasi ekspor yang ingin  berkembang menjadi eksportir Indonesia baik secara langsung maupun tidak  langsung,&amp;rdquo; kata Corporate Secretary LPEI Chesna F Anwar.
Chesna menyatakan Program CPNE ditujukan untuk melatih dan  mendampingi UKM berorientasi ekspor agar mampu menghasilkan produk yang  unggul dan dapat bersaing di pasar global.
Salah satu peserta program CPNE adalah Eni Anjayani yang merupakan  seorang pengusaha UMKM asal Yogyakarta dengan produk berupa home decor  bermotif batik kuno seperti kaleng kerupuk yang menarik perhatian  pembeli dari beberapa negara seperti Eropa, Amerika Serikat, Australia,  hingga Asia Tenggara.</content:encoded></item></channel></rss>
