<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Antisipasi Dampak Perang, OJK Minta Bank Tingkatkan Pencadangan</title><description>Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan perbankan mulai meningkatkan pencadangannya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/04/13/320/2578201/antisipasi-dampak-perang-ojk-minta-bank-tingkatkan-pencadangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/04/13/320/2578201/antisipasi-dampak-perang-ojk-minta-bank-tingkatkan-pencadangan"/><item><title>Antisipasi Dampak Perang, OJK Minta Bank Tingkatkan Pencadangan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/04/13/320/2578201/antisipasi-dampak-perang-ojk-minta-bank-tingkatkan-pencadangan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/04/13/320/2578201/antisipasi-dampak-perang-ojk-minta-bank-tingkatkan-pencadangan</guid><pubDate>Rabu 13 April 2022 11:23 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/04/13/320/2578201/antisipasi-dampak-perang-ojk-minta-bank-tingkatkan-pencadangan-Zi93yJZV2K.jpg" expression="full" type="image/jpeg">OJK minta bank tingkatkan pencadangan (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/04/13/320/2578201/antisipasi-dampak-perang-ojk-minta-bank-tingkatkan-pencadangan-Zi93yJZV2K.jpg</image><title>OJK minta bank tingkatkan pencadangan (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan perbankan mulai meningkatkan pencadangannya. Sebab  Ketua DK OJK Wimboh Santoso mengatakan bahwa tantangan Indonesia ke depannya tidak mudah dan perlu adanya percepatan pembentukan pencadangan oleh perbankan.
Hal ini karena adanya ketegangan geopolitik dunia karena adanya perang Rusia-Ukraina, ditambah dengan normalisasi kebijakan moneter negara maju, dan kondisi hiperinflasi global.
BACA JUGA:OJK Ungkap Tantangan Pengembangan Ekonomi Syariah

&quot;Restrukturisasi kredit mulai membaik, tetapi memandang situasi tantangan yang tak mudah tersebut, kami meminta kepada perbankan untuk mempercepat pembentukan pencadangan,&quot; ujar Wimboh dalam konferensi pers virtual Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Rabu (13/4/2022).
Dia mengingatkan bahwa tantangan-tantangan tersebut tentunya akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia. Wimboh juga menilai bahwa percepatan pembentukan pencadangan ini bisa dilakukan, karena perbankan memiliki bantalan yang cukup kuat untuk membuat pencadangan yang lebih besar.
BACA JUGA:Tok! Paripurna DPR Setujui Dewan Komisioner OJK 2022-2027

&quot;Terkait stabilitas sistem keuangan Indonesia, yang pertama, restrukturisasi kredit sudah mulai membaik. Jumlah total kredit yang direstrukturisasi tinggal 22,49% turun 3,8% dibanding Desember 2021,&quot; ungkap Wimboh.
Kemudian, yang kedua, memberikan insentif lebih luas kepada industri yang mendukung agenda global terkait perubahan iklim. Untuk saat ini, Wimboh menyampaikan bahwa ini masih sebatas pada industri mobil listrik.
&quot;Nantinya akan kami perluas ke hulu-hilir dan mendorong UMKM supaya  lebih gencar dengan berbagai program dari pemerintah, di mana ada  Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI) dan bagaimana kami  mendorong program belanja produk dalam negeri, serta membawa ekosistem  UMKM ke digital sehingga pemasaran bisa menggunakan itu,&quot; jelasnya..
Langkah ini, menurut dia, akan memberikan ruang yang lebih luas untuk  UMKM bisa bangkit lebih tinggi dan berkontribusi mengurangi beban  penurunan ekonomi karena berbagai kondisi global.
&quot;Ini yang kami lakukan, dan kami percepat BPRS masuk dalam platform  digital karena selama ini lembaga keuangan sudah masuk ke sana, kalau  BPRS mempunyai ketentuan yang jelas dan ini kami awasi sebagaimana  perbankan dengan kadar yang tentunya lebih longgar. Sehingga, jika masuk  akan dorong akses keuangan yang cepat murah karena bisa salurkan  program PEN yang bersubsidi,&quot; ungkap Wimboh.
Lalu, yang ketiga, adalah OJK mempersiapkan ekosistem bursa karbon di  Indonesia. &quot;Ini juga termasuk kerjasama dengan berbagai pemangku  kepentingan, baik itu Kementerian Keuangan, Kementerian Lingkungan Hidup  maupun kementerian terkait lainnya,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan perbankan mulai meningkatkan pencadangannya. Sebab  Ketua DK OJK Wimboh Santoso mengatakan bahwa tantangan Indonesia ke depannya tidak mudah dan perlu adanya percepatan pembentukan pencadangan oleh perbankan.
Hal ini karena adanya ketegangan geopolitik dunia karena adanya perang Rusia-Ukraina, ditambah dengan normalisasi kebijakan moneter negara maju, dan kondisi hiperinflasi global.
BACA JUGA:OJK Ungkap Tantangan Pengembangan Ekonomi Syariah

&quot;Restrukturisasi kredit mulai membaik, tetapi memandang situasi tantangan yang tak mudah tersebut, kami meminta kepada perbankan untuk mempercepat pembentukan pencadangan,&quot; ujar Wimboh dalam konferensi pers virtual Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Rabu (13/4/2022).
Dia mengingatkan bahwa tantangan-tantangan tersebut tentunya akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia. Wimboh juga menilai bahwa percepatan pembentukan pencadangan ini bisa dilakukan, karena perbankan memiliki bantalan yang cukup kuat untuk membuat pencadangan yang lebih besar.
BACA JUGA:Tok! Paripurna DPR Setujui Dewan Komisioner OJK 2022-2027

&quot;Terkait stabilitas sistem keuangan Indonesia, yang pertama, restrukturisasi kredit sudah mulai membaik. Jumlah total kredit yang direstrukturisasi tinggal 22,49% turun 3,8% dibanding Desember 2021,&quot; ungkap Wimboh.
Kemudian, yang kedua, memberikan insentif lebih luas kepada industri yang mendukung agenda global terkait perubahan iklim. Untuk saat ini, Wimboh menyampaikan bahwa ini masih sebatas pada industri mobil listrik.
&quot;Nantinya akan kami perluas ke hulu-hilir dan mendorong UMKM supaya  lebih gencar dengan berbagai program dari pemerintah, di mana ada  Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI) dan bagaimana kami  mendorong program belanja produk dalam negeri, serta membawa ekosistem  UMKM ke digital sehingga pemasaran bisa menggunakan itu,&quot; jelasnya..
Langkah ini, menurut dia, akan memberikan ruang yang lebih luas untuk  UMKM bisa bangkit lebih tinggi dan berkontribusi mengurangi beban  penurunan ekonomi karena berbagai kondisi global.
&quot;Ini yang kami lakukan, dan kami percepat BPRS masuk dalam platform  digital karena selama ini lembaga keuangan sudah masuk ke sana, kalau  BPRS mempunyai ketentuan yang jelas dan ini kami awasi sebagaimana  perbankan dengan kadar yang tentunya lebih longgar. Sehingga, jika masuk  akan dorong akses keuangan yang cepat murah karena bisa salurkan  program PEN yang bersubsidi,&quot; ungkap Wimboh.
Lalu, yang ketiga, adalah OJK mempersiapkan ekosistem bursa karbon di  Indonesia. &quot;Ini juga termasuk kerjasama dengan berbagai pemangku  kepentingan, baik itu Kementerian Keuangan, Kementerian Lingkungan Hidup  maupun kementerian terkait lainnya,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
