<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pendapatan Masyarakat Belum Naik, Kenaikan Harga Pertalite dan Solar Belum Tepat</title><description>Rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan solar dinilai belum tepat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/04/16/320/2579909/pendapatan-masyarakat-belum-naik-kenaikan-harga-pertalite-dan-solar-belum-tepat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/04/16/320/2579909/pendapatan-masyarakat-belum-naik-kenaikan-harga-pertalite-dan-solar-belum-tepat"/><item><title>Pendapatan Masyarakat Belum Naik, Kenaikan Harga Pertalite dan Solar Belum Tepat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/04/16/320/2579909/pendapatan-masyarakat-belum-naik-kenaikan-harga-pertalite-dan-solar-belum-tepat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/04/16/320/2579909/pendapatan-masyarakat-belum-naik-kenaikan-harga-pertalite-dan-solar-belum-tepat</guid><pubDate>Sabtu 16 April 2022 09:07 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/04/16/320/2579909/pendapatan-masyarakat-belum-naik-kenaikan-harga-pertalite-dan-solar-belum-tepat-Tlaz1jnt7Z.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Kenaikan harga BBM belum tepat (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/04/16/320/2579909/pendapatan-masyarakat-belum-naik-kenaikan-harga-pertalite-dan-solar-belum-tepat-Tlaz1jnt7Z.jpeg</image><title>Kenaikan harga BBM belum tepat (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan solar dinilai belum tepat. Pengamat BUMN Herry Gunawan menilai saat ini bukan momen yang tepat di tengah melonjaknya harga kebutuhan pokok menjelang Idul fitri.
&quot;Momennya tidak tepat. Beban masyarakat sedang tinggi-tingginya. Pendapatan masyarakat juga tidak mengalami kenaikan. Apalagi ini masyarakat baru selesai melewati masa COVID-19,&quot; ujarnya di Jakarta, Sabtu (16/4/2022).
BACA JUGA:Harga BBM Naik Dinilai demi Kendalikan Subsidi Energi

Di sisi lain, lanjutnya, bisa dipahami bahwa beban yang harus ditanggung pemerintah untuk subsidi BBM cukup besar. Terlebih di tengah kenaikan harga minyak dunia akibat konflik Rusia-Ukrania. Apalagi terjadi disparitas antara harga jual dengan harga keekonomian.
&amp;ldquo;Memang harga jual Pertalite saat ini masih terlalu jauh dibandingkan harga keekonomian. Tapi ini persoalan momentum,&amp;rdquo; ujar Herry Gunawan.
BACA JUGA:Permintaan BBM dan Elpiji Diprediksi Meningkat saat Lebaran 2022, Pertamina: Jangan Panic Buying

Seperti diketahui Pertalite dan Biosolar merupakan produk subsidi. Jadi kewenangan penentuan harga adalah pada pemerintah, bukan Pertamina.
Selama ini, lanjut Herry, subsidi pemerintah ke Pertalite dan solar cukup besar, namun demikian harus juga dipikirkan kondisi psikologis masyarakat.&quot;Jadi, bukan hanya persoalan rasionalitas. Karena jika berpikir  persoalan rasionalitas tentang kenaikan harga, makanya bisa dilakukan  melalui Pertamax nonsubsidi. Dan kenaikan tersebut sudah dilakukan,&quot;  katanya.
Belum lagi, menurut dia, kondisi saat ini masih ditambah dengan  kenaikan harga komoditas sandang dan pangan menjelang lebaran akibatnya,  masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar.
Dengan demikian, tambahnya, pemerintah memang seharusnya meredam  rencana kenaikan Pertalite dan solar dulu. Jika nanti habis Lebaran  kondisinya sudah membaik dan lebih stabil, di situlah momentumnya.
&amp;ldquo;Kontribusi pengeluaran dari konsumsi rumah tangga sekitar 58 persen.  Kalau konsumsi rumah tangganya ditekan dengan berbagai kenaikan ini  bisa berdampak terhadap daya beli masyarakat,&amp;rdquo; ujar Herry.</description><content:encoded>JAKARTA - Rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan solar dinilai belum tepat. Pengamat BUMN Herry Gunawan menilai saat ini bukan momen yang tepat di tengah melonjaknya harga kebutuhan pokok menjelang Idul fitri.
&quot;Momennya tidak tepat. Beban masyarakat sedang tinggi-tingginya. Pendapatan masyarakat juga tidak mengalami kenaikan. Apalagi ini masyarakat baru selesai melewati masa COVID-19,&quot; ujarnya di Jakarta, Sabtu (16/4/2022).
BACA JUGA:Harga BBM Naik Dinilai demi Kendalikan Subsidi Energi

Di sisi lain, lanjutnya, bisa dipahami bahwa beban yang harus ditanggung pemerintah untuk subsidi BBM cukup besar. Terlebih di tengah kenaikan harga minyak dunia akibat konflik Rusia-Ukrania. Apalagi terjadi disparitas antara harga jual dengan harga keekonomian.
&amp;ldquo;Memang harga jual Pertalite saat ini masih terlalu jauh dibandingkan harga keekonomian. Tapi ini persoalan momentum,&amp;rdquo; ujar Herry Gunawan.
BACA JUGA:Permintaan BBM dan Elpiji Diprediksi Meningkat saat Lebaran 2022, Pertamina: Jangan Panic Buying

Seperti diketahui Pertalite dan Biosolar merupakan produk subsidi. Jadi kewenangan penentuan harga adalah pada pemerintah, bukan Pertamina.
Selama ini, lanjut Herry, subsidi pemerintah ke Pertalite dan solar cukup besar, namun demikian harus juga dipikirkan kondisi psikologis masyarakat.&quot;Jadi, bukan hanya persoalan rasionalitas. Karena jika berpikir  persoalan rasionalitas tentang kenaikan harga, makanya bisa dilakukan  melalui Pertamax nonsubsidi. Dan kenaikan tersebut sudah dilakukan,&quot;  katanya.
Belum lagi, menurut dia, kondisi saat ini masih ditambah dengan  kenaikan harga komoditas sandang dan pangan menjelang lebaran akibatnya,  masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar.
Dengan demikian, tambahnya, pemerintah memang seharusnya meredam  rencana kenaikan Pertalite dan solar dulu. Jika nanti habis Lebaran  kondisinya sudah membaik dan lebih stabil, di situlah momentumnya.
&amp;ldquo;Kontribusi pengeluaran dari konsumsi rumah tangga sekitar 58 persen.  Kalau konsumsi rumah tangganya ditekan dengan berbagai kenaikan ini  bisa berdampak terhadap daya beli masyarakat,&amp;rdquo; ujar Herry.</content:encoded></item></channel></rss>
