<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekspor Dilarang, Pedagang Minyak Goreng Kini Diserbu Sales: Kemarin Ngumpet</title><description>Pasca Presiden melarang ekspor minyak sawit mentah/CPO dan minyak goreng ke luar negeri, pedagang sembako mengaku diserbu sales minyak goreng.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/04/26/320/2585496/ekspor-dilarang-pedagang-minyak-goreng-kini-diserbu-sales-kemarin-ngumpet</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/04/26/320/2585496/ekspor-dilarang-pedagang-minyak-goreng-kini-diserbu-sales-kemarin-ngumpet"/><item><title>Ekspor Dilarang, Pedagang Minyak Goreng Kini Diserbu Sales: Kemarin Ngumpet</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/04/26/320/2585496/ekspor-dilarang-pedagang-minyak-goreng-kini-diserbu-sales-kemarin-ngumpet</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/04/26/320/2585496/ekspor-dilarang-pedagang-minyak-goreng-kini-diserbu-sales-kemarin-ngumpet</guid><pubDate>Selasa 26 April 2022 14:55 WIB</pubDate><dc:creator>Advenia Elisabeth</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/04/26/320/2585496/ekspor-dilarang-pedagang-minyak-goreng-kini-diserbu-sales-kemarin-ngumpet-Gu8jnYOEKC.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Pedagang minyak goreng di pasar. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/04/26/320/2585496/ekspor-dilarang-pedagang-minyak-goreng-kini-diserbu-sales-kemarin-ngumpet-Gu8jnYOEKC.JPG</image><title>Pedagang minyak goreng di pasar. (Foto: Okezone)</title></images><description>BEKASI - Pasca Presiden melarang ekspor minyak sawit mentah/CPO dan minyak goreng ke luar negeri, pedagang sembako mengaku diserbu sales minyak goreng.

Padahal sebelumnya, para sales ini ngumpet saat dibutuhkan.

&amp;ldquo;Sales sekarang banyak mendatangi toko-toko di pasar ini, nawarin minyak goreng. Kemarin ngumpet. Cuma harga yang mereka tawarkan masih tinggi. Nggak kaya sebelumnya, murah,&amp;rdquo; kata Tiara, Pedagang Sembako di Pasar Tambun, Bekasi, Selasa (26/4/2022).

Adapun harga yang ditawarkan sales, untuk satu karton dibanderol dikisaran Rp265.000 - Rp275.000 ribu.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Minyak Goreng Curah Masih Mahal, Pedagang Tak Berani Jualan
&amp;ldquo;Macam-macam sales datang ke sini. Tawarin barangnya ke kita, tapi ya gitu, mahal,&amp;rdquo; jelasnya.

Karena mahal, Tiara menurunkan kuantitas minyak goreng agar tidak merugi.

Disebutnya, dulu dia membeli minyak goreng curah bisa 15 karton, namun semenjak mahal, dia hanya membeli 5 karton.
&amp;ldquo;Dulu saya bisa ambil 15 dus, tapi sekarang saya cuma beli 5 dus. Gak dibatasin kok sama salesnya. Tapi karena masih mahal saya nggak ambil banyak. Karena pembeli tuh taunya minyak udah murah. Padahal di sales tuh masih mahal. Saya beli 5 dus minyak goreng saja habisnya lama. Bisa seminggu atau dua minggu baru habis terjual,&amp;rdquo; ungkapnya.

Di sisi lain, kata dia, pembeli hanya tahu harga minyak goreng sudah murah. Padahal realita di lapangan harganya masih mahal.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Jokowi Larang Ekspor Minyak Sawit Bikin Dunia Kelabakan
&amp;ldquo;Realita di lapangan harganya masih mahal. Makanya saya nggak berani nyetok minyak goreng kemasan,&amp;rdquo; imbuhnya.

Dia pun mengatakan daya beli masyarakat jelang Idulfitri justru menurun.

Padahal seharusnya momen ini bisa dijadikan momentum menjualkan minyak goreng ke konsumen.
&amp;ldquo;Sekarang orang datang, nanya harga minyak goreng, ketika tau harganya mahal, mereka nggak berani beli. Jadi penjualan minyak goreng menurun, pembelinya pergi,&amp;rdquo; bebernya.

Dia menambahkan, imbas dari naiknya harga minyak goreng ini berdampak pada penjualan lainnya seperti kerupuk dan kacang-kacangan.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Ekspor Minyak Goreng Dilarang, Bisa Menimbulkan Masalah Lain?
Sebab, kata Tiara, pembeli yang datang membeli minyak goreng pasti membeli barang pangan lain.

&amp;ldquo;Sampai mengganggu dagangan lainnya. Seperti kerupuk, kacang, yang di mana pembeli biasanya kalo beli minyak goreng pasti beli lainnya juga. Tapi karena nggak beli minyak, kerupuk dan kacang-kacangan jadi jarang dibeli orang. Jadi ngefek ngaruh banget kemana-mana,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>BEKASI - Pasca Presiden melarang ekspor minyak sawit mentah/CPO dan minyak goreng ke luar negeri, pedagang sembako mengaku diserbu sales minyak goreng.

Padahal sebelumnya, para sales ini ngumpet saat dibutuhkan.

&amp;ldquo;Sales sekarang banyak mendatangi toko-toko di pasar ini, nawarin minyak goreng. Kemarin ngumpet. Cuma harga yang mereka tawarkan masih tinggi. Nggak kaya sebelumnya, murah,&amp;rdquo; kata Tiara, Pedagang Sembako di Pasar Tambun, Bekasi, Selasa (26/4/2022).

Adapun harga yang ditawarkan sales, untuk satu karton dibanderol dikisaran Rp265.000 - Rp275.000 ribu.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Minyak Goreng Curah Masih Mahal, Pedagang Tak Berani Jualan
&amp;ldquo;Macam-macam sales datang ke sini. Tawarin barangnya ke kita, tapi ya gitu, mahal,&amp;rdquo; jelasnya.

Karena mahal, Tiara menurunkan kuantitas minyak goreng agar tidak merugi.

Disebutnya, dulu dia membeli minyak goreng curah bisa 15 karton, namun semenjak mahal, dia hanya membeli 5 karton.
&amp;ldquo;Dulu saya bisa ambil 15 dus, tapi sekarang saya cuma beli 5 dus. Gak dibatasin kok sama salesnya. Tapi karena masih mahal saya nggak ambil banyak. Karena pembeli tuh taunya minyak udah murah. Padahal di sales tuh masih mahal. Saya beli 5 dus minyak goreng saja habisnya lama. Bisa seminggu atau dua minggu baru habis terjual,&amp;rdquo; ungkapnya.

Di sisi lain, kata dia, pembeli hanya tahu harga minyak goreng sudah murah. Padahal realita di lapangan harganya masih mahal.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Jokowi Larang Ekspor Minyak Sawit Bikin Dunia Kelabakan
&amp;ldquo;Realita di lapangan harganya masih mahal. Makanya saya nggak berani nyetok minyak goreng kemasan,&amp;rdquo; imbuhnya.

Dia pun mengatakan daya beli masyarakat jelang Idulfitri justru menurun.

Padahal seharusnya momen ini bisa dijadikan momentum menjualkan minyak goreng ke konsumen.
&amp;ldquo;Sekarang orang datang, nanya harga minyak goreng, ketika tau harganya mahal, mereka nggak berani beli. Jadi penjualan minyak goreng menurun, pembelinya pergi,&amp;rdquo; bebernya.

Dia menambahkan, imbas dari naiknya harga minyak goreng ini berdampak pada penjualan lainnya seperti kerupuk dan kacang-kacangan.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Ekspor Minyak Goreng Dilarang, Bisa Menimbulkan Masalah Lain?
Sebab, kata Tiara, pembeli yang datang membeli minyak goreng pasti membeli barang pangan lain.

&amp;ldquo;Sampai mengganggu dagangan lainnya. Seperti kerupuk, kacang, yang di mana pembeli biasanya kalo beli minyak goreng pasti beli lainnya juga. Tapi karena nggak beli minyak, kerupuk dan kacang-kacangan jadi jarang dibeli orang. Jadi ngefek ngaruh banget kemana-mana,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
