<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga CPO Melesat, Nusantara Sawit Sejahtera Siap IPO</title><description>Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) terus mengalami peningkatan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/05/11/278/2592266/harga-cpo-melesat-nusantara-sawit-sejahtera-siap-ipo</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/05/11/278/2592266/harga-cpo-melesat-nusantara-sawit-sejahtera-siap-ipo"/><item><title>Harga CPO Melesat, Nusantara Sawit Sejahtera Siap IPO</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/05/11/278/2592266/harga-cpo-melesat-nusantara-sawit-sejahtera-siap-ipo</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/05/11/278/2592266/harga-cpo-melesat-nusantara-sawit-sejahtera-siap-ipo</guid><pubDate>Rabu 11 Mei 2022 12:11 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Harian Neraca</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/05/11/278/2592266/harga-cpo-melesat-nusantara-sawit-sejahtera-siap-ipo-4tWllwzaVZ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga CPO naik, NSS siap IPO (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/05/11/278/2592266/harga-cpo-melesat-nusantara-sawit-sejahtera-siap-ipo-4tWllwzaVZ.jpg</image><title>Harga CPO naik, NSS siap IPO (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) terus mengalami peningkatan. Hal ini membuat PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSS) semakin yakin menggelar penawaran saham umum perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia pada tahun ini.
&amp;rdquo;Sudah tepat jika perusahaan komoditas, termasuk CPO, melakukan IPO saat ini karena sedang ada momentumnya. Kalau segi prospek baik. Dari sisi sektoral memungkinkan,&amp;rdquo;kata Chief Executive Officer PT Elkoranvidi Indonesia Investama Fendi Susiyanto di Jakarta, kemarin.
BACA JUGA:Malaysia Potong Tarif Pajak CPO Jadi 4%, Dampak Larangan Ekspor Indonesia?

Di sisi lain, keberhasilan IPO juga sangat ditentukan oleh kesiapan internal perusahaan. Menurut Fendi, perusahaan sawit dapat mempersiapkan diri menangkap peluang bisnis dari momentum yang disediakan pasar. Kesiapan internal yang dibutuhkan mulai dari SDM, kondisi keuangan, struktur perusahaan, hingga perpajakan.
Kemudian, perusahaan juga harus memastikan bahwa pihak eksternal yang membawa IPO dapat menemukan kantong-kantong investor.&amp;ldquo;Jangan sampai sektornya bagus, tetapi perusahaannya belum siap. Penentu IPO dari internal dulu. Efek pasar bisa cukup tinggi karena ini sektornya lagi bagus. Tapi kalau penasihat keuangan atau underwriter-nya kurang mumpuni, maka tidak bisa membawa IPO dengan baik,&amp;rdquo; tambah Fendi.
BACA JUGA:Harga CPO Menguat di Malaysia, Imbas RI Larang Ekspor?

Lebih jauh, Fendi mengemukakan sejumlah momentum yang berpotensi menjadi daya tarik IPO, di antaranya adalah harga CPO yang masih terus naik. Pasar saham menjadi pilihan mendapatkan tambahan modal karena pencairan kredit bank dibatasi selama pandemi. Bagi investor, suku bunga bank rendah kurang menarik, sehingga diperlukan alternatif lain untuk menempatkan dana. Kondisi ini menyebabkan, investor pasar modal meningkat selama pandemi, terutama retail. Padahal selama ini pertumbuhan investor retail sangat lambat.Fendi mengatakan, pemulihan ekonomi dunia dan perang Ukraina-Rusia  juga akan meningkatkan permintaan CPO dari Indonesia, menyusul  terhambatnya pasokan dan produksi minyak nabati dari kedua negara itu ke  sejumlah negara, termasuk Eropa.
&amp;ldquo;Kalau kami lihat, ada potensi terjadinya super cycle commodity.  Artinya, kenaikan cukup panjang dan cukup masuk akal. Terutama dari  kasus global sudah recovery dan tumbuh lagi setelah pandemi. Permintaan  bahan baku, terutama komoditas, naik,&amp;rdquo; paparnya.
Potensi peningkatan ekspor CPO, terangnya lagi, sangat besar dan  Indonesia sebagai produsen terbesar sangat diuntungkan, apalagi produksi  kedelai juga turun. Mau tidak mau kekosongan itu diisi oleh CPO,  sehingga penggunaan CPO global ikut naik.
&amp;ldquo;Artinya potensinya di tahun 2022 maupun tahun depan kami kira sangat  prospektif. Tahun 2022 karena demand-nya besar, sehingga di sini kami  melihat saham CPO cukup menguntungkan di tahun 2020,&amp;rdquo; lanjut Fendi.
Sebelumnya, Komisaris Nusantara Sawit Sejahtera, Robiyanto,  mengatakan perusahaan perkebunan berbasis di Kalimantan ini berencana  menggelar IPO tahun 2022. Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas bisnis  dan memastikan tata kelola perusahaan menjadi lebih akuntabel dan  transparan karena menjadi milik publik. Target perolehan dana Rp 800  hingga Rp 900 miliar. Dana hasil IPO akan digunakan untuk membiayai  kegiatan penanaman baru dan pembangunan pabrik.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) terus mengalami peningkatan. Hal ini membuat PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSS) semakin yakin menggelar penawaran saham umum perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia pada tahun ini.
&amp;rdquo;Sudah tepat jika perusahaan komoditas, termasuk CPO, melakukan IPO saat ini karena sedang ada momentumnya. Kalau segi prospek baik. Dari sisi sektoral memungkinkan,&amp;rdquo;kata Chief Executive Officer PT Elkoranvidi Indonesia Investama Fendi Susiyanto di Jakarta, kemarin.
BACA JUGA:Malaysia Potong Tarif Pajak CPO Jadi 4%, Dampak Larangan Ekspor Indonesia?

Di sisi lain, keberhasilan IPO juga sangat ditentukan oleh kesiapan internal perusahaan. Menurut Fendi, perusahaan sawit dapat mempersiapkan diri menangkap peluang bisnis dari momentum yang disediakan pasar. Kesiapan internal yang dibutuhkan mulai dari SDM, kondisi keuangan, struktur perusahaan, hingga perpajakan.
Kemudian, perusahaan juga harus memastikan bahwa pihak eksternal yang membawa IPO dapat menemukan kantong-kantong investor.&amp;ldquo;Jangan sampai sektornya bagus, tetapi perusahaannya belum siap. Penentu IPO dari internal dulu. Efek pasar bisa cukup tinggi karena ini sektornya lagi bagus. Tapi kalau penasihat keuangan atau underwriter-nya kurang mumpuni, maka tidak bisa membawa IPO dengan baik,&amp;rdquo; tambah Fendi.
BACA JUGA:Harga CPO Menguat di Malaysia, Imbas RI Larang Ekspor?

Lebih jauh, Fendi mengemukakan sejumlah momentum yang berpotensi menjadi daya tarik IPO, di antaranya adalah harga CPO yang masih terus naik. Pasar saham menjadi pilihan mendapatkan tambahan modal karena pencairan kredit bank dibatasi selama pandemi. Bagi investor, suku bunga bank rendah kurang menarik, sehingga diperlukan alternatif lain untuk menempatkan dana. Kondisi ini menyebabkan, investor pasar modal meningkat selama pandemi, terutama retail. Padahal selama ini pertumbuhan investor retail sangat lambat.Fendi mengatakan, pemulihan ekonomi dunia dan perang Ukraina-Rusia  juga akan meningkatkan permintaan CPO dari Indonesia, menyusul  terhambatnya pasokan dan produksi minyak nabati dari kedua negara itu ke  sejumlah negara, termasuk Eropa.
&amp;ldquo;Kalau kami lihat, ada potensi terjadinya super cycle commodity.  Artinya, kenaikan cukup panjang dan cukup masuk akal. Terutama dari  kasus global sudah recovery dan tumbuh lagi setelah pandemi. Permintaan  bahan baku, terutama komoditas, naik,&amp;rdquo; paparnya.
Potensi peningkatan ekspor CPO, terangnya lagi, sangat besar dan  Indonesia sebagai produsen terbesar sangat diuntungkan, apalagi produksi  kedelai juga turun. Mau tidak mau kekosongan itu diisi oleh CPO,  sehingga penggunaan CPO global ikut naik.
&amp;ldquo;Artinya potensinya di tahun 2022 maupun tahun depan kami kira sangat  prospektif. Tahun 2022 karena demand-nya besar, sehingga di sini kami  melihat saham CPO cukup menguntungkan di tahun 2020,&amp;rdquo; lanjut Fendi.
Sebelumnya, Komisaris Nusantara Sawit Sejahtera, Robiyanto,  mengatakan perusahaan perkebunan berbasis di Kalimantan ini berencana  menggelar IPO tahun 2022. Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas bisnis  dan memastikan tata kelola perusahaan menjadi lebih akuntabel dan  transparan karena menjadi milik publik. Target perolehan dana Rp 800  hingga Rp 900 miliar. Dana hasil IPO akan digunakan untuk membiayai  kegiatan penanaman baru dan pembangunan pabrik.</content:encoded></item></channel></rss>
