<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kok Biaya Logistik Indonesia Masih Mahal? Begini Kata Pengusaha</title><description>Biaya logistik di Indonesia terbilang mahal dibandingkan negara kawasan Asean.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/05/18/320/2595941/kok-biaya-logistik-indonesia-masih-mahal-begini-kata-pengusaha</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/05/18/320/2595941/kok-biaya-logistik-indonesia-masih-mahal-begini-kata-pengusaha"/><item><title>Kok Biaya Logistik Indonesia Masih Mahal? Begini Kata Pengusaha</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/05/18/320/2595941/kok-biaya-logistik-indonesia-masih-mahal-begini-kata-pengusaha</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/05/18/320/2595941/kok-biaya-logistik-indonesia-masih-mahal-begini-kata-pengusaha</guid><pubDate>Rabu 18 Mei 2022 11:56 WIB</pubDate><dc:creator>Azhfar Muhammad</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/05/18/320/2595941/kok-biaya-logistik-indonesia-masih-mahal-begini-kata-pengusaha-xgRJll7NJk.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Biaya logistik di RI masih tinggi (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/05/18/320/2595941/kok-biaya-logistik-indonesia-masih-mahal-begini-kata-pengusaha-xgRJll7NJk.jpeg</image><title>Biaya logistik di RI masih tinggi (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Biaya logistik di Indonesia terbilang mahal dibandingkan negara kawasan Asean. Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto menyatakan bahwa ada sejumlah kendala yang memicu tingginya biaya biaya logistik, seperti infrastruktur yang masih belum memadai serta kegiatan bongkar muat di pelabuhan yang belum maksimal.
&amp;ldquo;Pertama, dari  segi geografis atau jarak, Indonesia sangat beragam negara yang kita distribusikan sangat banyak, banyak pulau 17 ribu ada 50% di pulau Jawa. Ya Kenapa mahal ? Beda dengan negara lain mulai dari supply chainnya,&amp;rdquo; kata Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto di Jakarta, Rabu (18/5/2022).
BACA JUGA:Tak Lagi ke Singapura, Luhut Sebut Pelayaran Langsung Pangkas Biaya Logistik hingga 30%

Di sisi lain, permasalahan logistik di Indonesia dalam mengirimkan barang dibutuhkan sejumlah tahapan dan perencanaan mulai dari  first mile, mid mile dan last mile.
&amp;ldquo;Di mana  transportasi dan logistik di produksi dan diberikan kepada distribution center,secara bertahap di mana ekosistemnya masih belum terintegrasi atau terdigital secara keseluruhan,&amp;rdquo; ungkapnya.
BACA JUGA:Biaya Logistik Tinggi, Luhut Tak Ingin Indonesia Jadi Feeder Angkutan Laut

&amp;ldquo;Lalu tahapan dan rangkaian ini lah yang menjadi alasan secara regulasi memang tak gampang mengurus kenapa mahal, aspek both movementnya karena panjang, dan setiap industri harus dikuasai,&amp;rsquo;tambahnya.
Tak hanya itu, pihaknya mencatat Biaya transportasi dan penanganan kargo masih  8,81% dan total logistik cost sales sebanyak 21,48%.&amp;ldquo;Presiden bilang cost karena biaya ini ada juga out of control  misalnya pungli, atau premanisme. Dari berapa lokasi besar lokasi itu,  Makassar dan medan paling tinggi,&amp;rdquo; ungkapnya.
Adapun alasan dua lokasi tersebut Karena dikuasai dengan premanisme di sejumlah simpul yang mematok biaya yang tidak legal.
&amp;ldquo;Untuk mengubah semua itu, perlu adanya inovasi hingga digitalisasi  dan trennya sangat digital menuju e-commerce. Di mana ekosistem sebuah  future supply system bisa menyeluruh dalam menciptakan sejumlah rantai  yang efisien,&amp;rdquo; pungkasnya.
&amp;ldquo;Jadi dibutuhkan dari seluruh stake holders, mulai dari Kemenhub,  Kemenperin, Kemenko Marves, Pelindo, pelabuhan dan lain-lainnya untuk  saling bekolaborasi untuk melakukan perbaikan di sektor transportasi dan  logistik,&amp;rdquo; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Biaya logistik di Indonesia terbilang mahal dibandingkan negara kawasan Asean. Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto menyatakan bahwa ada sejumlah kendala yang memicu tingginya biaya biaya logistik, seperti infrastruktur yang masih belum memadai serta kegiatan bongkar muat di pelabuhan yang belum maksimal.
&amp;ldquo;Pertama, dari  segi geografis atau jarak, Indonesia sangat beragam negara yang kita distribusikan sangat banyak, banyak pulau 17 ribu ada 50% di pulau Jawa. Ya Kenapa mahal ? Beda dengan negara lain mulai dari supply chainnya,&amp;rdquo; kata Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto di Jakarta, Rabu (18/5/2022).
BACA JUGA:Tak Lagi ke Singapura, Luhut Sebut Pelayaran Langsung Pangkas Biaya Logistik hingga 30%

Di sisi lain, permasalahan logistik di Indonesia dalam mengirimkan barang dibutuhkan sejumlah tahapan dan perencanaan mulai dari  first mile, mid mile dan last mile.
&amp;ldquo;Di mana  transportasi dan logistik di produksi dan diberikan kepada distribution center,secara bertahap di mana ekosistemnya masih belum terintegrasi atau terdigital secara keseluruhan,&amp;rdquo; ungkapnya.
BACA JUGA:Biaya Logistik Tinggi, Luhut Tak Ingin Indonesia Jadi Feeder Angkutan Laut

&amp;ldquo;Lalu tahapan dan rangkaian ini lah yang menjadi alasan secara regulasi memang tak gampang mengurus kenapa mahal, aspek both movementnya karena panjang, dan setiap industri harus dikuasai,&amp;rsquo;tambahnya.
Tak hanya itu, pihaknya mencatat Biaya transportasi dan penanganan kargo masih  8,81% dan total logistik cost sales sebanyak 21,48%.&amp;ldquo;Presiden bilang cost karena biaya ini ada juga out of control  misalnya pungli, atau premanisme. Dari berapa lokasi besar lokasi itu,  Makassar dan medan paling tinggi,&amp;rdquo; ungkapnya.
Adapun alasan dua lokasi tersebut Karena dikuasai dengan premanisme di sejumlah simpul yang mematok biaya yang tidak legal.
&amp;ldquo;Untuk mengubah semua itu, perlu adanya inovasi hingga digitalisasi  dan trennya sangat digital menuju e-commerce. Di mana ekosistem sebuah  future supply system bisa menyeluruh dalam menciptakan sejumlah rantai  yang efisien,&amp;rdquo; pungkasnya.
&amp;ldquo;Jadi dibutuhkan dari seluruh stake holders, mulai dari Kemenhub,  Kemenperin, Kemenko Marves, Pelindo, pelabuhan dan lain-lainnya untuk  saling bekolaborasi untuk melakukan perbaikan di sektor transportasi dan  logistik,&amp;rdquo; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
