<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tekanan Inflasi RI Lebih Ringan dibanding Argentina 58%, Turki 70% dan Brazil 12,1%</title><description>Tekanan inflasi yang dialami Indonesia tidak sebesar negara-negara G20.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/05/20/320/2597301/tekanan-inflasi-ri-lebih-ringan-dibanding-argentina-58-turki-70-dan-brazil-12-1</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/05/20/320/2597301/tekanan-inflasi-ri-lebih-ringan-dibanding-argentina-58-turki-70-dan-brazil-12-1"/><item><title>Tekanan Inflasi RI Lebih Ringan dibanding Argentina 58%, Turki 70% dan Brazil 12,1%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/05/20/320/2597301/tekanan-inflasi-ri-lebih-ringan-dibanding-argentina-58-turki-70-dan-brazil-12-1</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/05/20/320/2597301/tekanan-inflasi-ri-lebih-ringan-dibanding-argentina-58-turki-70-dan-brazil-12-1</guid><pubDate>Jum'at 20 Mei 2022 12:51 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/05/20/320/2597301/tekanan-inflasi-ri-lebih-ringan-dibanding-argentina-58-turki-70-dan-brazil-12-1-eIjs4FdZGJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tekanan inflasi RI tak separah negara G20 (Foto: Halomoney)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/05/20/320/2597301/tekanan-inflasi-ri-lebih-ringan-dibanding-argentina-58-turki-70-dan-brazil-12-1-eIjs4FdZGJ.jpg</image><title>Tekanan inflasi RI tak separah negara G20 (Foto: Halomoney)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Tekanan inflasi yang dialami Indonesia tidak sebesar negara-negara G20. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa kenaikan harga komoditas global telah berdampak pada naiknya harga-harga di dalam negeri, terutama energi dan pangan.
Hal ini dapat dilihat pada tekanan inflasi yang mulai meningkat akhir-akhir ini, meskipun faktor musiman yaitu bulan Ramadhan dan perayaan Hari Raya Idul Fitri juga turut memberikan andil terhadap kenaikan harga. Inflasi April 2022 tercatat 3,5%, lebih tinggi dibandingkan Maret 2022.
BACA JUGA:Tarif Listrik Mau Naik, Laju Inflasi mesti Diwaspadai

&quot;Bila dibandingkan negara-negara G20, seperti AS 8,3%, Inggris 9,0%, Turki 70,0%, Argentina 58,0%, Brazil 12,1%, dan India 7,8% tekanan inflasi di Indonesia masih jauh lebih rendah,&quot; ujar Sri dalam rapat paripurna DPR RI di Jakarta, Jumat(20/5/2022).
Tekanan inflasi di Indonesia, sebut dia, tidak setinggi di negara-negara tersebut karena kenaikan harga energi global diredam oleh APBN (shock absorber) yang konsekuensinya menyebabkan kebutuhan belanja subsidi energi dan kompensasi meningkat tajam.
BACA JUGA:Inflasi Diramal 4%, Ekonomi Tertekan?

Dalam kondisi pemulihan ekonomi dan kesejahteraan yang masih awal dan rapuh, ketersediaan dan keterjangkauan harga energi dan pangan menjadi sangat krusial untuk menjamin daya beli masyarakat dan menjaga keberlanjutan proses pemulihan ekonomi nasional.&quot;Terkait potensi transmisinya ke sektor keuangan, pemerintah dalam  hal ini diwakili oleh Kementerian Keuangan bersama dengan anggota KSSK  lainnya yakni Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan  Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), berkomitmen untuk memperkuat koordinasi  dan sinergi dalam menjaga stabilitas sistem keuangan,&quot; ungkap Sri.
Sampai dengan saat ini, kondisi sektor keuangan nasional masih  relatif stabil. Fungsi intermediasi perbankan mulai meningkat, tercermin  pada peningkatan pertumbuhan penyaluran kredit. Sementara itu, tingkat  kecukupan modal (CAR) juga tinggi dengan likuiditas yang masih memadai.
&quot;Cadangan devisa nasional juga masih memadai dan diharapkan dapat  memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas harga dan  nilai tukar serta momentum pemulihan ekonomi nasional,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Tekanan inflasi yang dialami Indonesia tidak sebesar negara-negara G20. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa kenaikan harga komoditas global telah berdampak pada naiknya harga-harga di dalam negeri, terutama energi dan pangan.
Hal ini dapat dilihat pada tekanan inflasi yang mulai meningkat akhir-akhir ini, meskipun faktor musiman yaitu bulan Ramadhan dan perayaan Hari Raya Idul Fitri juga turut memberikan andil terhadap kenaikan harga. Inflasi April 2022 tercatat 3,5%, lebih tinggi dibandingkan Maret 2022.
BACA JUGA:Tarif Listrik Mau Naik, Laju Inflasi mesti Diwaspadai

&quot;Bila dibandingkan negara-negara G20, seperti AS 8,3%, Inggris 9,0%, Turki 70,0%, Argentina 58,0%, Brazil 12,1%, dan India 7,8% tekanan inflasi di Indonesia masih jauh lebih rendah,&quot; ujar Sri dalam rapat paripurna DPR RI di Jakarta, Jumat(20/5/2022).
Tekanan inflasi di Indonesia, sebut dia, tidak setinggi di negara-negara tersebut karena kenaikan harga energi global diredam oleh APBN (shock absorber) yang konsekuensinya menyebabkan kebutuhan belanja subsidi energi dan kompensasi meningkat tajam.
BACA JUGA:Inflasi Diramal 4%, Ekonomi Tertekan?

Dalam kondisi pemulihan ekonomi dan kesejahteraan yang masih awal dan rapuh, ketersediaan dan keterjangkauan harga energi dan pangan menjadi sangat krusial untuk menjamin daya beli masyarakat dan menjaga keberlanjutan proses pemulihan ekonomi nasional.&quot;Terkait potensi transmisinya ke sektor keuangan, pemerintah dalam  hal ini diwakili oleh Kementerian Keuangan bersama dengan anggota KSSK  lainnya yakni Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan  Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), berkomitmen untuk memperkuat koordinasi  dan sinergi dalam menjaga stabilitas sistem keuangan,&quot; ungkap Sri.
Sampai dengan saat ini, kondisi sektor keuangan nasional masih  relatif stabil. Fungsi intermediasi perbankan mulai meningkat, tercermin  pada peningkatan pertumbuhan penyaluran kredit. Sementara itu, tingkat  kecukupan modal (CAR) juga tinggi dengan likuiditas yang masih memadai.
&quot;Cadangan devisa nasional juga masih memadai dan diharapkan dapat  memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas harga dan  nilai tukar serta momentum pemulihan ekonomi nasional,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
