<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sri Mulyani: Inflasi hingga Suku Bunga Tinggi Ancam Ekonomi Dunia</title><description>Inflasi hingga suku bunga tinggi akan mengancam pemulihan ekonomi dunia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/05/23/320/2598910/sri-mulyani-inflasi-hingga-suku-bunga-tinggi-ancam-ekonomi-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/05/23/320/2598910/sri-mulyani-inflasi-hingga-suku-bunga-tinggi-ancam-ekonomi-dunia"/><item><title>Sri Mulyani: Inflasi hingga Suku Bunga Tinggi Ancam Ekonomi Dunia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/05/23/320/2598910/sri-mulyani-inflasi-hingga-suku-bunga-tinggi-ancam-ekonomi-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/05/23/320/2598910/sri-mulyani-inflasi-hingga-suku-bunga-tinggi-ancam-ekonomi-dunia</guid><pubDate>Senin 23 Mei 2022 17:16 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/05/23/320/2598910/sri-mulyani-inflasi-hingga-suku-bunga-tinggi-ancam-ekonomi-dunia-dVX1ISxgCj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Inflasi hingga suku bunga tinggi ancam ekonomi dunia (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/05/23/320/2598910/sri-mulyani-inflasi-hingga-suku-bunga-tinggi-ancam-ekonomi-dunia-dVX1ISxgCj.jpg</image><title>Inflasi hingga suku bunga tinggi ancam ekonomi dunia (Foto: Antara)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Inflasi hingga suku bunga tinggi akan mengancam pemulihan ekonomi dunia. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut setidaknya ada tiga hal yang bakal mempengaruhi ekonomi dunia.
&amp;ldquo;Tiga hal ini akan mempengaruhi environment ekonomi seluruh dunia termasuk Indonesia yaitu inflasi tinggi, suku bunga tinggi, dan potensi ekonomi rendah,&amp;rdquo; kata Menkeu Sri Mulyani, Senin (23/5/2022).
BACA JUGA:Tingginya Inflasi Bayangi Laporan Keuangan Para Emiten

Sri Mulyani menjelaskan konflik antara Ukraina dan Rusia telah menyebabkan lonjakan harga barang-barang yang sangat penting bagi pemulihan dan masyarakat yaitu energi dan pangan.
Beberapa komoditas itu meliputi gas alam yang naik 125,8% (ytd), batu bara 166,1% (ytd), minyak mentah jenis Brent 45,7% (ytd), CPO 20,9% (ytd), gandum 55,6% (ytd), jagung 31,6% (ytd), kedelai 28,1% (ytd) dan grain naik 15,5% (ytd).
BACA JUGA:Inflasi AS Tinggi, Dolar Jadi Pilihan Aset Safe Haven

Sri Mulyani menuturkan kenaikan harga komoditas tersebut pada akhirnya menyebabkan inflasi tinggi di berbagai negara terutama negara yang tidak melakukan shock absorber.
&amp;ldquo;Ini langsung dirasakan rakyatnya sehingga masyarakat di negara tersebut menghadapi inflasi tinggi,&amp;rdquo; ujarnya.
Sebagai contoh, Rusia mengalami inflasi 17,8%, Brasil 12,1%, Amerika Serikat (AS) 8,3%, Inggris 9%, Meksiko 7,7%, Afrika Selatan 5,9%, Korea Selatan 4,8%, dan India 7,8%.Inflasi yang tinggi menyebabkan negara-negara ini melakukan  pengetatan kebijakan moneter seperti Rusia sebanyak 975 basis poin (bps)  sejak 2021 dengan tingkat suku bunga acuan 17% dan Brasil 1.075 bps  sejak 2021 dengan suku bunga acuan 12,75%.
&amp;ldquo;Di banyak negara interest rate segera meningkat terutama emerging  kenaikannya cukup cepat untuk menjaga inflasinya,&amp;rdquo; jelas Sri Mulyani.
Sementara untuk Indonesia, dia mengatakan saat ini masih cukup  terkendali karena tidak semua kenaikan harga komoditas dunia dirasakan  oleh masyarakat.
Inflasi Indonesia pada April 2022 adalah sebesar 3,5% (yoy) yang sudah relatif meningkat dibandingkan 24 bulan ke belakang.
&amp;ldquo;Inflasi masih kita kendalikan karena tidak semua kenaikan harga  dunia dirasakan oleh rakyat. Tentu akibatnya kita harus memberikan  subsidi,&amp;rdquo; kata Sri Mulyani.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Inflasi hingga suku bunga tinggi akan mengancam pemulihan ekonomi dunia. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut setidaknya ada tiga hal yang bakal mempengaruhi ekonomi dunia.
&amp;ldquo;Tiga hal ini akan mempengaruhi environment ekonomi seluruh dunia termasuk Indonesia yaitu inflasi tinggi, suku bunga tinggi, dan potensi ekonomi rendah,&amp;rdquo; kata Menkeu Sri Mulyani, Senin (23/5/2022).
BACA JUGA:Tingginya Inflasi Bayangi Laporan Keuangan Para Emiten

Sri Mulyani menjelaskan konflik antara Ukraina dan Rusia telah menyebabkan lonjakan harga barang-barang yang sangat penting bagi pemulihan dan masyarakat yaitu energi dan pangan.
Beberapa komoditas itu meliputi gas alam yang naik 125,8% (ytd), batu bara 166,1% (ytd), minyak mentah jenis Brent 45,7% (ytd), CPO 20,9% (ytd), gandum 55,6% (ytd), jagung 31,6% (ytd), kedelai 28,1% (ytd) dan grain naik 15,5% (ytd).
BACA JUGA:Inflasi AS Tinggi, Dolar Jadi Pilihan Aset Safe Haven

Sri Mulyani menuturkan kenaikan harga komoditas tersebut pada akhirnya menyebabkan inflasi tinggi di berbagai negara terutama negara yang tidak melakukan shock absorber.
&amp;ldquo;Ini langsung dirasakan rakyatnya sehingga masyarakat di negara tersebut menghadapi inflasi tinggi,&amp;rdquo; ujarnya.
Sebagai contoh, Rusia mengalami inflasi 17,8%, Brasil 12,1%, Amerika Serikat (AS) 8,3%, Inggris 9%, Meksiko 7,7%, Afrika Selatan 5,9%, Korea Selatan 4,8%, dan India 7,8%.Inflasi yang tinggi menyebabkan negara-negara ini melakukan  pengetatan kebijakan moneter seperti Rusia sebanyak 975 basis poin (bps)  sejak 2021 dengan tingkat suku bunga acuan 17% dan Brasil 1.075 bps  sejak 2021 dengan suku bunga acuan 12,75%.
&amp;ldquo;Di banyak negara interest rate segera meningkat terutama emerging  kenaikannya cukup cepat untuk menjaga inflasinya,&amp;rdquo; jelas Sri Mulyani.
Sementara untuk Indonesia, dia mengatakan saat ini masih cukup  terkendali karena tidak semua kenaikan harga komoditas dunia dirasakan  oleh masyarakat.
Inflasi Indonesia pada April 2022 adalah sebesar 3,5% (yoy) yang sudah relatif meningkat dibandingkan 24 bulan ke belakang.
&amp;ldquo;Inflasi masih kita kendalikan karena tidak semua kenaikan harga  dunia dirasakan oleh rakyat. Tentu akibatnya kita harus memberikan  subsidi,&amp;rdquo; kata Sri Mulyani.</content:encoded></item></channel></rss>
