<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>OJK Ungkap Sektor Jasa Keuangan Makin Stabil, Ini Buktinya</title><description>Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap sektor keuangan tetap stabil terjaga.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/05/26/320/2600508/ojk-ungkap-sektor-jasa-keuangan-makin-stabil-ini-buktinya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/05/26/320/2600508/ojk-ungkap-sektor-jasa-keuangan-makin-stabil-ini-buktinya"/><item><title>OJK Ungkap Sektor Jasa Keuangan Makin Stabil, Ini Buktinya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/05/26/320/2600508/ojk-ungkap-sektor-jasa-keuangan-makin-stabil-ini-buktinya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/05/26/320/2600508/ojk-ungkap-sektor-jasa-keuangan-makin-stabil-ini-buktinya</guid><pubDate>Kamis 26 Mei 2022 08:39 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/05/26/320/2600508/ojk-ungkap-sektor-jasa-keuangan-makin-stabil-ini-buktinya-yvs8v7WTcz.jpg" expression="full" type="image/jpeg">OJK sebut industri jasa keuangan stabil (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/05/26/320/2600508/ojk-ungkap-sektor-jasa-keuangan-makin-stabil-ini-buktinya-yvs8v7WTcz.jpg</image><title>OJK sebut industri jasa keuangan stabil (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap sektor keuangan tetap stabil terjaga. Data OJK per April 2022, kredit perbankan tumbuh sebesar 9,10% yoy atau 3,69% ytd meningkat signifikan dari bulan Maret yang tumbuh 6,67% yoy.
&quot;Secara sektoral, kredit sektor pertambangan dan manufaktur mencatatkan kenaikan terbesar secara mtm masing-masing sebesar Rp21,5 triliun dan Rp20,8 triliun,&quot; ungkap Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK Anto Prabowo dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (26/5/2022).
BACA JUGA:Jadi Wakil Ketua DK OJK, Mirza Adityaswara Resmi Mundur dari Komisaris Teladan Prima Agro 

Sementara, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 10,11% yoy atau 0,08% ytd. Untuk industri asuransi mencatatkan penghimpunan premi pada April 2022 sebesar Rp21,8 triliun dengan rincian Asuransi Jiwa sebesar Rp8,6 triliun, Asuransi Umum dan Reasuransi sebesar Rp13,2 triliun.
Kemudian Fintech P2P lending pada April 2022 mencatatkan outstanding pembiayaan sebesar Rp38,68 triliun atau tumbuh sebesar 87,7% yoy. Piutang perusahaan pembiayaan pada April 2022 tumbuh sebesar 4,51% yoy.
Di pasar modal, hingga 24 Mei 2022, jumlah penawaran umum yang dilakukan emiten mencapai 79 dengan total nilai penghimpunan dana mencapai Rp100,1 triliun. Dari jumlah penawaran umum tersebut, 23 diantaranya dilakukan oleh emiten baru. Dalam pipeline saat ini terdapat 105 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran sebesar Rp68,67 triliun.
BACA JUGA:Mahkamah Agung Pastikan Tidak Ada Pelantikan DK OJK Besok

&quot;Peningkatan kinerja intermediasi tersebut terjadi di tengah perekonomian global yang masih menghadapi tekanan inflasi yang persisten tinggi dan telah mendorong pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif oleh mayoritas bank sentral dunia,&quot; kata Anto.
Konflik Rusia-Ukraina serta terganggunya global supply chain akibat lockdown di China, juga terus mendorong kenaikan harga komoditas terutama energi dan pangan. Kenaikan inflasi yang diikuti oleh pengetatan kebijakan moneter global telah meningkatkan potensi terjadinya hard landing, sehingga meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global dan terjadinya outflow dari pasar keuangan negara-negara emerging market.
Namun demikian, kinerja perekonomian domestik masih terjaga terlihat  dari rilis PDB triwulan I-2022 yang terpantau sebesar 5,01% (yoy),  diikuti dengan peningkatan kinerja mayoritas perusahaan publik di  periode yang sama.
OJK juga mengatakan, indikator ekonomi high frequency juga terpantau  masih positif, mengindikasikan berlanjutnya pemulihan ekonomi. Selain  itu, pemerintah juga telah menaikkan anggaran subsidi energi menjadi  Rp443,6 triliun, terbesar sepanjang sejarah. Namun demikian, perlu  dicermati tren kenaikan inflasi domestik dan dampak pelarangan ekspor  CPO terhadap kinerja neraca perdagangan pada Mei 2022.
Di tengah perkembangan tersebut, pasar keuangan domestik secara umum  bergerak volatil, sejalan dengan pelemahan pasar keuangan global seiring  aksi risk off investor. Hingga 20 Mei 2022, IHSG tercatat melemah 4,3%  (mtd) atau sejak awal tahun ke level 6.918. Kondisi ini menurut OJK  sejalan dengan aliran dana nonresiden (investor asing) yang tercatat  outflow sebesar Rp9,23 triliun (mtd).
Pasar Surat Berharga Negara (SBN) sejak awal tahun (mtd) juga  terpantau melemah dengan rerata yield SBN naik 42,5 bps di seluruh  tenor, sejalan dengan outflow SBN investor nonresiden Rp37,81 triliun  sejak awal tahun (mtd). Sepanjang Mei 2022, total net outflow nonresiden  di IHSG dan pasar SBN adalah Rp47,04 triliun.
Dalam laporannya, OJK mengatakan profil risiko lembaga jasa keuangan  pada April 2022 masih relatif terjaga, dengan rasio kredit bermasalah  perbankan (NPL/Non Performing Loan) gross tercatat 3,00%. Sementara NPL  net 0,83%.
Sementara itu, likuiditas perbankan berada pada level yang memadai.  Rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid/DPK per April 2022  terpantau masing-masing pada level 131,21% dan 29,38%, di atas threshold  masing-masing sebesar 50% dan 10%.
OJK menilai, perbankan dapat memenuhi peningkatan Giro Wajib Minimum  (GWM) lanjutan sebesar 1%persen per Juni 2022, dengan likuiditas yang  dipandang masih memadai untuk menyalurkan kredit dalam rangka  melanjutkan momentum pemulihan ekonomi.
Permodalan lembaga jasa keuangan sampai saat ini terjaga dengan pada  level yang memadai. Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan tercatat  24,32%. Kemudian Risk-Based Capital (RBC) industri asuransi jiwa dan  asuransi umum masing-masing tercatat 506,22% dan 321,51%, jauh di atas  ambang batas ketentuan sebesar 120%. Begitu juga gearing ratio  perusahaan pembiayaan yang sebesar 2,01 kali, jauh di bawah batas  maksimum 10 kali.</description><content:encoded>JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap sektor keuangan tetap stabil terjaga. Data OJK per April 2022, kredit perbankan tumbuh sebesar 9,10% yoy atau 3,69% ytd meningkat signifikan dari bulan Maret yang tumbuh 6,67% yoy.
&quot;Secara sektoral, kredit sektor pertambangan dan manufaktur mencatatkan kenaikan terbesar secara mtm masing-masing sebesar Rp21,5 triliun dan Rp20,8 triliun,&quot; ungkap Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK Anto Prabowo dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (26/5/2022).
BACA JUGA:Jadi Wakil Ketua DK OJK, Mirza Adityaswara Resmi Mundur dari Komisaris Teladan Prima Agro 

Sementara, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 10,11% yoy atau 0,08% ytd. Untuk industri asuransi mencatatkan penghimpunan premi pada April 2022 sebesar Rp21,8 triliun dengan rincian Asuransi Jiwa sebesar Rp8,6 triliun, Asuransi Umum dan Reasuransi sebesar Rp13,2 triliun.
Kemudian Fintech P2P lending pada April 2022 mencatatkan outstanding pembiayaan sebesar Rp38,68 triliun atau tumbuh sebesar 87,7% yoy. Piutang perusahaan pembiayaan pada April 2022 tumbuh sebesar 4,51% yoy.
Di pasar modal, hingga 24 Mei 2022, jumlah penawaran umum yang dilakukan emiten mencapai 79 dengan total nilai penghimpunan dana mencapai Rp100,1 triliun. Dari jumlah penawaran umum tersebut, 23 diantaranya dilakukan oleh emiten baru. Dalam pipeline saat ini terdapat 105 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran sebesar Rp68,67 triliun.
BACA JUGA:Mahkamah Agung Pastikan Tidak Ada Pelantikan DK OJK Besok

&quot;Peningkatan kinerja intermediasi tersebut terjadi di tengah perekonomian global yang masih menghadapi tekanan inflasi yang persisten tinggi dan telah mendorong pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif oleh mayoritas bank sentral dunia,&quot; kata Anto.
Konflik Rusia-Ukraina serta terganggunya global supply chain akibat lockdown di China, juga terus mendorong kenaikan harga komoditas terutama energi dan pangan. Kenaikan inflasi yang diikuti oleh pengetatan kebijakan moneter global telah meningkatkan potensi terjadinya hard landing, sehingga meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global dan terjadinya outflow dari pasar keuangan negara-negara emerging market.
Namun demikian, kinerja perekonomian domestik masih terjaga terlihat  dari rilis PDB triwulan I-2022 yang terpantau sebesar 5,01% (yoy),  diikuti dengan peningkatan kinerja mayoritas perusahaan publik di  periode yang sama.
OJK juga mengatakan, indikator ekonomi high frequency juga terpantau  masih positif, mengindikasikan berlanjutnya pemulihan ekonomi. Selain  itu, pemerintah juga telah menaikkan anggaran subsidi energi menjadi  Rp443,6 triliun, terbesar sepanjang sejarah. Namun demikian, perlu  dicermati tren kenaikan inflasi domestik dan dampak pelarangan ekspor  CPO terhadap kinerja neraca perdagangan pada Mei 2022.
Di tengah perkembangan tersebut, pasar keuangan domestik secara umum  bergerak volatil, sejalan dengan pelemahan pasar keuangan global seiring  aksi risk off investor. Hingga 20 Mei 2022, IHSG tercatat melemah 4,3%  (mtd) atau sejak awal tahun ke level 6.918. Kondisi ini menurut OJK  sejalan dengan aliran dana nonresiden (investor asing) yang tercatat  outflow sebesar Rp9,23 triliun (mtd).
Pasar Surat Berharga Negara (SBN) sejak awal tahun (mtd) juga  terpantau melemah dengan rerata yield SBN naik 42,5 bps di seluruh  tenor, sejalan dengan outflow SBN investor nonresiden Rp37,81 triliun  sejak awal tahun (mtd). Sepanjang Mei 2022, total net outflow nonresiden  di IHSG dan pasar SBN adalah Rp47,04 triliun.
Dalam laporannya, OJK mengatakan profil risiko lembaga jasa keuangan  pada April 2022 masih relatif terjaga, dengan rasio kredit bermasalah  perbankan (NPL/Non Performing Loan) gross tercatat 3,00%. Sementara NPL  net 0,83%.
Sementara itu, likuiditas perbankan berada pada level yang memadai.  Rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid/DPK per April 2022  terpantau masing-masing pada level 131,21% dan 29,38%, di atas threshold  masing-masing sebesar 50% dan 10%.
OJK menilai, perbankan dapat memenuhi peningkatan Giro Wajib Minimum  (GWM) lanjutan sebesar 1%persen per Juni 2022, dengan likuiditas yang  dipandang masih memadai untuk menyalurkan kredit dalam rangka  melanjutkan momentum pemulihan ekonomi.
Permodalan lembaga jasa keuangan sampai saat ini terjaga dengan pada  level yang memadai. Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan tercatat  24,32%. Kemudian Risk-Based Capital (RBC) industri asuransi jiwa dan  asuransi umum masing-masing tercatat 506,22% dan 321,51%, jauh di atas  ambang batas ketentuan sebesar 120%. Begitu juga gearing ratio  perusahaan pembiayaan yang sebesar 2,01 kali, jauh di bawah batas  maksimum 10 kali.</content:encoded></item></channel></rss>
