<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Startup Banyak PHK Karyawan, Pendanaan Mulai Sulit?</title><description>PHK), mulai dari platform perusahaan plat merah Linkaja, Zenius, SiCepat hingga e-commerce JD.ID.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/05/27/320/2601261/startup-banyak-phk-karyawan-pendanaan-mulai-sulit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/05/27/320/2601261/startup-banyak-phk-karyawan-pendanaan-mulai-sulit"/><item><title>Startup Banyak PHK Karyawan, Pendanaan Mulai Sulit?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/05/27/320/2601261/startup-banyak-phk-karyawan-pendanaan-mulai-sulit</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/05/27/320/2601261/startup-banyak-phk-karyawan-pendanaan-mulai-sulit</guid><pubDate>Jum'at 27 Mei 2022 14:39 WIB</pubDate><dc:creator>Ikhsan Permana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/05/27/320/2601261/startup-banyak-phk-karyawan-pendanaan-mulai-sulit-vIZvjj0n7S.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">PHK Karyawan (Foto: Okezone/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/05/27/320/2601261/startup-banyak-phk-karyawan-pendanaan-mulai-sulit-vIZvjj0n7S.jpeg</image><title>PHK Karyawan (Foto: Okezone/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Perusahaan rintisan mulai melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), mulai dari platform perusahaan plat merah Linkaja, Zenius, SiCepat hingga e-commerce JD.ID.
Menanggapi itu, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi menyebut untuk meraih pengguna, startup rata-rata harus bakar uang. Sementara, pendanaan kian ke sini juga kian sulit.
BACA JUGA:SiCepat, JD.ID hingga Zenius PHK Karyawan, Ada Apa dengan Startup di RI?

&quot;Linkaja, Zenius, memang cukup berat karena pemain utamanya sudah jauh di depan. Kalau mau maju harus kuat bakar uang,&quot; ujar diakepada MNC Portal Indonesia, Jumat (27/5/2022).
Menurutnya, prospek pemain baru di perusahaan rintisan akan menemui tantangan yang cukup berat. Di mana diperlukan keuangan yang kuat dan inovasi layanan baru yang berbeda dari kompetitor.
&quot;Prospeknya berat, kecuali mengadopsi teknologi baru seperti internet of things, big data analytics, kecerdasan buatan, metaverse, virtual reality dan augmented reality&quot; kata Heru.
BACA JUGA:Startup Zenius PHK Ratusan Karyawan, Ternyata Ini Alasannya

Kemudian lanjut dia model dan sitem pendidikan akan berubah lagi setelah memasuki masa endemi. Zenius sebagai salah satu platform pendidikan perlu berinovasi agar bisa kembali berkembang.Sedangkan untuk fintech, sekarang sudah di dominasi oleh beberapa platform seperti Gopay dan OVO yang sudah cukup kuat, serta ShopeePay yang juga sedang berjuang.
&quot;Jadi pemain lagi harus upaya ekstra termasuk pendana, efisiensi dan strategi jitu memenangkan persaingan. Itu termasuk juga startup lain yang masih masuk di klasemen tengah. Bilamana tidak ada kemajuan dalam dua tahun ke depan, rontok hanya soal waktu,&quot; tegasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Perusahaan rintisan mulai melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), mulai dari platform perusahaan plat merah Linkaja, Zenius, SiCepat hingga e-commerce JD.ID.
Menanggapi itu, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi menyebut untuk meraih pengguna, startup rata-rata harus bakar uang. Sementara, pendanaan kian ke sini juga kian sulit.
BACA JUGA:SiCepat, JD.ID hingga Zenius PHK Karyawan, Ada Apa dengan Startup di RI?

&quot;Linkaja, Zenius, memang cukup berat karena pemain utamanya sudah jauh di depan. Kalau mau maju harus kuat bakar uang,&quot; ujar diakepada MNC Portal Indonesia, Jumat (27/5/2022).
Menurutnya, prospek pemain baru di perusahaan rintisan akan menemui tantangan yang cukup berat. Di mana diperlukan keuangan yang kuat dan inovasi layanan baru yang berbeda dari kompetitor.
&quot;Prospeknya berat, kecuali mengadopsi teknologi baru seperti internet of things, big data analytics, kecerdasan buatan, metaverse, virtual reality dan augmented reality&quot; kata Heru.
BACA JUGA:Startup Zenius PHK Ratusan Karyawan, Ternyata Ini Alasannya

Kemudian lanjut dia model dan sitem pendidikan akan berubah lagi setelah memasuki masa endemi. Zenius sebagai salah satu platform pendidikan perlu berinovasi agar bisa kembali berkembang.Sedangkan untuk fintech, sekarang sudah di dominasi oleh beberapa platform seperti Gopay dan OVO yang sudah cukup kuat, serta ShopeePay yang juga sedang berjuang.
&quot;Jadi pemain lagi harus upaya ekstra termasuk pendana, efisiensi dan strategi jitu memenangkan persaingan. Itu termasuk juga startup lain yang masih masuk di klasemen tengah. Bilamana tidak ada kemajuan dalam dua tahun ke depan, rontok hanya soal waktu,&quot; tegasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
