<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Terungkap! Ini Biang Kerok di Balik Naiknya Harga Komoditas</title><description>Lembaga penelitan Indonesia, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkap penyebab naiknya harga komoditas yang menggerus Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/05/30/320/2602656/terungkap-ini-biang-kerok-di-balik-naiknya-harga-komoditas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/05/30/320/2602656/terungkap-ini-biang-kerok-di-balik-naiknya-harga-komoditas"/><item><title>Terungkap! Ini Biang Kerok di Balik Naiknya Harga Komoditas</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/05/30/320/2602656/terungkap-ini-biang-kerok-di-balik-naiknya-harga-komoditas</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/05/30/320/2602656/terungkap-ini-biang-kerok-di-balik-naiknya-harga-komoditas</guid><pubDate>Senin 30 Mei 2022 16:18 WIB</pubDate><dc:creator>Advenia Elisabeth</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/05/30/320/2602656/terungkap-ini-biang-kerok-di-balik-naiknya-harga-komoditas-tBjqHTmXbf.jfif" expression="full" type="image/jpeg">Penyebab harga komoditas naik. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/05/30/320/2602656/terungkap-ini-biang-kerok-di-balik-naiknya-harga-komoditas-tBjqHTmXbf.jfif</image><title>Penyebab harga komoditas naik. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Lembaga penelitan Indonesia, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkap penyebab naiknya harga komoditas yang menggerus Indonesia.

Peneliti Departemen Ekonomi CSIS Adinova Fauri menyebut, faktor pemicunya karena adanya pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 sehingga memberi tekanan pada harga komoditas.

&quot;Sebenarnya ada kemiripan antara efek dari krisis Covid-19 dengan krisis sebelumnya. Namun yang membedakan adalah rebound harga komoditas pada krisis Covid ini lebih cepat,&quot; ujarnya dalam media briefing secara virtual, Senin (30/5/2022).
&amp;nbsp;BACA JUGA:Sri Mulyani: Neraca Komoditas Beri Informasi Akurat hingga Rencana Ekspor-Impor
Kemudian faktor berikutnya, konflik Rusia-Ukraina yang mengakibatkan terhambatnya produksi dan pengiriman lintas batas sehingga menambah beban harga pada komoditas.

Lebih lanjut Adinova menerangkan, karena tren harga komoditas yang meningkat kemudian diikuti adanya konflik dua negara tersebut, banyak negara yang kekurangan pasokan komoditas di mana seharusnya mendapat pasokan dari dua negara yang tengah berkonflik itu.

Sehingga, pemerintah di luar negara tersebut mengambil jalan restriksi ekspor komoditas yang gunanya untuk menjaga pasokan domestik.
&quot;Seperti India melarang ekspor gandum, itu karena untuk menjaga kebutuhan negaranya, termasuk juga Indonesia melarang ekspor CPO karena untuk pemenuhan dalam negeri,&quot; sambungnya.

Lalu faktor yang ketiga adalah efek dari perubahan iklim.

Adinova menjelaskan, perubahan iklim menambah tekanan pada supply agrikultur secara global.

Dia menilai, cuaca ekstrim menurunkan yield dari komoditas, serta produksi tidak bisa memenuhi permintaan.

Oleh karena itu, terdapat beberapa rekomendasi kebijakan yang diutarakan Adinova.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Dampak Larangan Ekspor CPO terhadap Harga Komoditas Lain
Pertama, pemerintah perlu memprioritaskan social protection atau bukan penetapan harga. Menurutnya, hal ini untuk melindungi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dari lonjakan harga yang terjadi.

&quot;Kemudian dari sisi supply, perlu memastikan ketersediaan pasokan komoditas. Menurut saya impor bisa jadi alternatif,&quot; ucapnya.

Adinova menambahkan, untuk jangka panjang, perlu adanya inovasi dan percepatan adopsi teknologi terutama bagi para petani di Indonesia.

Alasannya agar produk yang dihasilkan untuk pemenuhan dalam negeri tercukupi.</description><content:encoded>JAKARTA - Lembaga penelitan Indonesia, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkap penyebab naiknya harga komoditas yang menggerus Indonesia.

Peneliti Departemen Ekonomi CSIS Adinova Fauri menyebut, faktor pemicunya karena adanya pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 sehingga memberi tekanan pada harga komoditas.

&quot;Sebenarnya ada kemiripan antara efek dari krisis Covid-19 dengan krisis sebelumnya. Namun yang membedakan adalah rebound harga komoditas pada krisis Covid ini lebih cepat,&quot; ujarnya dalam media briefing secara virtual, Senin (30/5/2022).
&amp;nbsp;BACA JUGA:Sri Mulyani: Neraca Komoditas Beri Informasi Akurat hingga Rencana Ekspor-Impor
Kemudian faktor berikutnya, konflik Rusia-Ukraina yang mengakibatkan terhambatnya produksi dan pengiriman lintas batas sehingga menambah beban harga pada komoditas.

Lebih lanjut Adinova menerangkan, karena tren harga komoditas yang meningkat kemudian diikuti adanya konflik dua negara tersebut, banyak negara yang kekurangan pasokan komoditas di mana seharusnya mendapat pasokan dari dua negara yang tengah berkonflik itu.

Sehingga, pemerintah di luar negara tersebut mengambil jalan restriksi ekspor komoditas yang gunanya untuk menjaga pasokan domestik.
&quot;Seperti India melarang ekspor gandum, itu karena untuk menjaga kebutuhan negaranya, termasuk juga Indonesia melarang ekspor CPO karena untuk pemenuhan dalam negeri,&quot; sambungnya.

Lalu faktor yang ketiga adalah efek dari perubahan iklim.

Adinova menjelaskan, perubahan iklim menambah tekanan pada supply agrikultur secara global.

Dia menilai, cuaca ekstrim menurunkan yield dari komoditas, serta produksi tidak bisa memenuhi permintaan.

Oleh karena itu, terdapat beberapa rekomendasi kebijakan yang diutarakan Adinova.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Dampak Larangan Ekspor CPO terhadap Harga Komoditas Lain
Pertama, pemerintah perlu memprioritaskan social protection atau bukan penetapan harga. Menurutnya, hal ini untuk melindungi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dari lonjakan harga yang terjadi.

&quot;Kemudian dari sisi supply, perlu memastikan ketersediaan pasokan komoditas. Menurut saya impor bisa jadi alternatif,&quot; ucapnya.

Adinova menambahkan, untuk jangka panjang, perlu adanya inovasi dan percepatan adopsi teknologi terutama bagi para petani di Indonesia.

Alasannya agar produk yang dihasilkan untuk pemenuhan dalam negeri tercukupi.</content:encoded></item></channel></rss>
