<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ada Ancaman Krisis Air, Menteri PUPR: Kita Harus Bangun Lebih Banyak Bendungan</title><description>Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengingatkan mengenai ancaman krisis air global.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/05/31/470/2602918/ada-ancaman-krisis-air-menteri-pupr-kita-harus-bangun-lebih-banyak-bendungan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/05/31/470/2602918/ada-ancaman-krisis-air-menteri-pupr-kita-harus-bangun-lebih-banyak-bendungan"/><item><title>Ada Ancaman Krisis Air, Menteri PUPR: Kita Harus Bangun Lebih Banyak Bendungan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/05/31/470/2602918/ada-ancaman-krisis-air-menteri-pupr-kita-harus-bangun-lebih-banyak-bendungan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/05/31/470/2602918/ada-ancaman-krisis-air-menteri-pupr-kita-harus-bangun-lebih-banyak-bendungan</guid><pubDate>Selasa 31 Mei 2022 07:42 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/05/31/470/2602918/ada-ancaman-krisis-air-menteri-pupr-kita-harus-bangun-lebih-banyak-bendungan-kcig9R3tPm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Basuki utamakan pembangunan bendungan (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/05/31/470/2602918/ada-ancaman-krisis-air-menteri-pupr-kita-harus-bangun-lebih-banyak-bendungan-kcig9R3tPm.jpg</image><title>Menteri Basuki utamakan pembangunan bendungan (Foto: Antara)</title></images><description>JAKARTA - Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengingatkan mengenai ancaman krisis air global. Dia menjelaskan bahwa saat ini krisis air merupakan tantangan global seiring dengan meningkatnya permintaan air karena pesatnya urbanisasi, pertumbuhan ekonomi, pandemi COVID-19, dan isu perubahan iklim.
Studi OECD menyatakan permintaan air global akan meningkat sebesar 55% hingga tahun 2050, terutama karena pertumbuhan penduduk dan industri. Untuk itu, diperlukan pengelolaan sumber daya air secara efektif.

BACA JUGA:BPBD DKI Jakarta Siapkan Air Baku dari Waduk Antisipasi Krisis Air saat Kemarau

&amp;ldquo;Kita harus membangun lebih banyak bendungan dan mengelola bendungan eksisting lebih efisien. Sejak tahun 2015, Indonesia telah membangun 61 bendungan baru dan melakukan optimasi 231 bendungan/waduk eksisting untuk meningkatkan ketersediaan air mendukung pertanian, industri, pariwisata, perkotaan, kebutuhan domestik, dan kegiatan lainnya,&amp;rdquo; kata Basuki saat menghadiri Kongres Ke-27 Komisi Internasional Bendungan Besar (International Commission On Large Dams/ICOLD) di Marseille, Prancis, Selasa (31/5/2022).
Kongres dan Pertemuan Tahunan ICOLD yang merupakan agenda rutin komunitas bendungan internasional dengan pembahasan isu pembangunan dan pengelolaan bendungan besar diselenggarakan pada 30 Mei hingga 1 Juni 2022.
BACA JUGA:Kemarau Tiba, Berikut Wilayah Berpotensi Krisis Air Bersih di Jakarta
Untuk meningkatkan kapasitas retensi banjir pada musim hujan, kata Basuki, Kementerian PUPR RI akan menambah pintu air pada 21 bendungan baru dan 24 bendungan yang sedang dibangun.
Selain itu, untuk menjaga keseimbangan air pada wilayah sungai, saat ini telah dan akan terus dibangun fasilitas interkoneksi antarbendungan.&amp;ldquo;Dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat, kita mampu untuk  memanfaatkan kecerdasan buatan dan teknologi informasi terkini untuk  mengelola dan mengoperasikan waduk secara efektif. Sebagai contoh, untuk  mendapatkan parameter hidrologi yang lebih akurat dan juga mengurangi  risiko bencana, dilakukan pemodelan perkiraan inflow bendungan,&amp;rdquo; kata  Basuki.
Basuki juga menekankan bahwa seluruh pihak harus menaruh perhatian  lebih besar pada isu keselamatan bendungan, seperti pekerjaan perbaikan  bendungan, rehabilitasi instrumentasi bendungan, dan penyesuaian pola  operasi waduk.
Selain itu, Basuki berharap pertemuan ICOLD tahun ini dapat mendukung  pertukaran pengetahuan tentang pembangunan dan kemajuan bendungan di  seluruh dunia dan dapat menghasilkan beberapa ide atau terobosan baru  dalam pembangunan bendungan.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengingatkan mengenai ancaman krisis air global. Dia menjelaskan bahwa saat ini krisis air merupakan tantangan global seiring dengan meningkatnya permintaan air karena pesatnya urbanisasi, pertumbuhan ekonomi, pandemi COVID-19, dan isu perubahan iklim.
Studi OECD menyatakan permintaan air global akan meningkat sebesar 55% hingga tahun 2050, terutama karena pertumbuhan penduduk dan industri. Untuk itu, diperlukan pengelolaan sumber daya air secara efektif.

BACA JUGA:BPBD DKI Jakarta Siapkan Air Baku dari Waduk Antisipasi Krisis Air saat Kemarau

&amp;ldquo;Kita harus membangun lebih banyak bendungan dan mengelola bendungan eksisting lebih efisien. Sejak tahun 2015, Indonesia telah membangun 61 bendungan baru dan melakukan optimasi 231 bendungan/waduk eksisting untuk meningkatkan ketersediaan air mendukung pertanian, industri, pariwisata, perkotaan, kebutuhan domestik, dan kegiatan lainnya,&amp;rdquo; kata Basuki saat menghadiri Kongres Ke-27 Komisi Internasional Bendungan Besar (International Commission On Large Dams/ICOLD) di Marseille, Prancis, Selasa (31/5/2022).
Kongres dan Pertemuan Tahunan ICOLD yang merupakan agenda rutin komunitas bendungan internasional dengan pembahasan isu pembangunan dan pengelolaan bendungan besar diselenggarakan pada 30 Mei hingga 1 Juni 2022.
BACA JUGA:Kemarau Tiba, Berikut Wilayah Berpotensi Krisis Air Bersih di Jakarta
Untuk meningkatkan kapasitas retensi banjir pada musim hujan, kata Basuki, Kementerian PUPR RI akan menambah pintu air pada 21 bendungan baru dan 24 bendungan yang sedang dibangun.
Selain itu, untuk menjaga keseimbangan air pada wilayah sungai, saat ini telah dan akan terus dibangun fasilitas interkoneksi antarbendungan.&amp;ldquo;Dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat, kita mampu untuk  memanfaatkan kecerdasan buatan dan teknologi informasi terkini untuk  mengelola dan mengoperasikan waduk secara efektif. Sebagai contoh, untuk  mendapatkan parameter hidrologi yang lebih akurat dan juga mengurangi  risiko bencana, dilakukan pemodelan perkiraan inflow bendungan,&amp;rdquo; kata  Basuki.
Basuki juga menekankan bahwa seluruh pihak harus menaruh perhatian  lebih besar pada isu keselamatan bendungan, seperti pekerjaan perbaikan  bendungan, rehabilitasi instrumentasi bendungan, dan penyesuaian pola  operasi waduk.
Selain itu, Basuki berharap pertemuan ICOLD tahun ini dapat mendukung  pertukaran pengetahuan tentang pembangunan dan kemajuan bendungan di  seluruh dunia dan dapat menghasilkan beberapa ide atau terobosan baru  dalam pembangunan bendungan.</content:encoded></item></channel></rss>
