<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sri Mulyani Soal Tingginya Inflasi Terus Menghantui hingga 2023</title><description>Risiko ekonomi global mulai dari kenaikan suku bunga hingga inflasi akan berlanjut hingga 2023.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/08/320/2607905/sri-mulyani-soal-tingginya-inflasi-terus-menghantui-hingga-2023</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/06/08/320/2607905/sri-mulyani-soal-tingginya-inflasi-terus-menghantui-hingga-2023"/><item><title>Sri Mulyani Soal Tingginya Inflasi Terus Menghantui hingga 2023</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/08/320/2607905/sri-mulyani-soal-tingginya-inflasi-terus-menghantui-hingga-2023</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/06/08/320/2607905/sri-mulyani-soal-tingginya-inflasi-terus-menghantui-hingga-2023</guid><pubDate>Rabu 08 Juni 2022 15:12 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/06/08/320/2607905/sri-mulyani-soal-tingginya-inflasi-terus-menghantui-hingga-2023-9x6RmlyV5d.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Sri Mulyani waspadai risiko ekonomi global (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/06/08/320/2607905/sri-mulyani-soal-tingginya-inflasi-terus-menghantui-hingga-2023-9x6RmlyV5d.jpeg</image><title>Sri Mulyani waspadai risiko ekonomi global (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Risiko ekonomi global mulai dari kenaikan suku bunga hingga inflasi akan berlanjut hingga 2023. Meskipun demikian, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dirinya tetap optimis bahwa di tahun 2023 momentum pemulihan ekonomi tetap berjalan.
BACA JUGA:Menu Sarapan Menlu-Sri Mulyani, G20, Krisis Energi dan Pangan

&quot;Dari pertemuan kami dengan Islamic Development Bank (IsDB), memang pembahasan mengenai risiko global dirasakan betul dan menjadi bahan pembahasan dalam Governors Roundtable Discussion dimana kita membahas mengenai munculnya risiko terutama dari sisi kenaikan inflasi karena kenaikan harga energi dan pangan yang mengakibatkan pengetatan moneter,&quot; ujar Sri dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/6/2022).
BACA JUGA:Anggaran Proyek Ibu Kota Nusantara Belum Ada, PUPR Tunggu Sri Mulyani

Dia menyebutkan, dalam forum itu, diskusi yang dibahas adalah seberapa cepat dan ketat kebijakan moneter untuk menangani inflasi yang akan berdampak pada perlemahan dari sisi produksi. Hal ini, kata Sri, yang akan terus menjadi bahan pembahasan pada level kebijakan makro di semua forum ekonomi dan keuangan, dan bahkan diprediksi akan muncul pembahasannya dalam diskusi forum G20.
&quot;Jadi dalam konteks ini, kita akan lihat dampaknya. Kalau seandainya pengetatannya cepat dan tinggi, maka dampak terhadap perlemahan ekonomi global akan terlihat spillovernya ke seluruh dunia, dan kedua, asumsi terhadap inflasi dan nilai tukar akan menghadapi kemungkinan terjadinya hal tersebut,&quot; papar Sri.Tetapi, sambung dia, pembahasan secara teknis mengenai masalah growth  dan tantangan global ini semuanya sepakat bahwa persoalan inflasi di  dunia saat ini kontribusi dari sisi produksi atau supply lebih dominan  dibandingkan kontribusi dari sisi permintaan. Implikasi kebijakannya  adalah jika kebijakan makro yaitu fiskal dan moneter terlalu cepat atau  ketat, yang tujuannya akan lebih cepat mempengaruhi sisi demand,  sebenarnya tidak menyelesaikan masalah dari sisi supply.
&quot;Ini karena masalah awalnya terletak di sisi supplynya, yang  pasokannya terkena disrupsi karena perang maupun karena pandemi, Ini  akan menjadi tema terus menerus dari sekarang hingga tahun 2023 karena  dinamika demand dan supply serta instrumen mana yang dianggap paling pas  untuk bisa menyelesaikan potensi terjadinya stagflasi tanpa menimbulkan  risiko ekonomi yang sangat besar. Ini yang akan menjadi tema di dalam  kebijakan makro dan mikro, bahkan ke sektoral,&quot; pungkas Sri.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Risiko ekonomi global mulai dari kenaikan suku bunga hingga inflasi akan berlanjut hingga 2023. Meskipun demikian, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dirinya tetap optimis bahwa di tahun 2023 momentum pemulihan ekonomi tetap berjalan.
BACA JUGA:Menu Sarapan Menlu-Sri Mulyani, G20, Krisis Energi dan Pangan

&quot;Dari pertemuan kami dengan Islamic Development Bank (IsDB), memang pembahasan mengenai risiko global dirasakan betul dan menjadi bahan pembahasan dalam Governors Roundtable Discussion dimana kita membahas mengenai munculnya risiko terutama dari sisi kenaikan inflasi karena kenaikan harga energi dan pangan yang mengakibatkan pengetatan moneter,&quot; ujar Sri dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/6/2022).
BACA JUGA:Anggaran Proyek Ibu Kota Nusantara Belum Ada, PUPR Tunggu Sri Mulyani

Dia menyebutkan, dalam forum itu, diskusi yang dibahas adalah seberapa cepat dan ketat kebijakan moneter untuk menangani inflasi yang akan berdampak pada perlemahan dari sisi produksi. Hal ini, kata Sri, yang akan terus menjadi bahan pembahasan pada level kebijakan makro di semua forum ekonomi dan keuangan, dan bahkan diprediksi akan muncul pembahasannya dalam diskusi forum G20.
&quot;Jadi dalam konteks ini, kita akan lihat dampaknya. Kalau seandainya pengetatannya cepat dan tinggi, maka dampak terhadap perlemahan ekonomi global akan terlihat spillovernya ke seluruh dunia, dan kedua, asumsi terhadap inflasi dan nilai tukar akan menghadapi kemungkinan terjadinya hal tersebut,&quot; papar Sri.Tetapi, sambung dia, pembahasan secara teknis mengenai masalah growth  dan tantangan global ini semuanya sepakat bahwa persoalan inflasi di  dunia saat ini kontribusi dari sisi produksi atau supply lebih dominan  dibandingkan kontribusi dari sisi permintaan. Implikasi kebijakannya  adalah jika kebijakan makro yaitu fiskal dan moneter terlalu cepat atau  ketat, yang tujuannya akan lebih cepat mempengaruhi sisi demand,  sebenarnya tidak menyelesaikan masalah dari sisi supply.
&quot;Ini karena masalah awalnya terletak di sisi supplynya, yang  pasokannya terkena disrupsi karena perang maupun karena pandemi, Ini  akan menjadi tema terus menerus dari sekarang hingga tahun 2023 karena  dinamika demand dan supply serta instrumen mana yang dianggap paling pas  untuk bisa menyelesaikan potensi terjadinya stagflasi tanpa menimbulkan  risiko ekonomi yang sangat besar. Ini yang akan menjadi tema di dalam  kebijakan makro dan mikro, bahkan ke sektoral,&quot; pungkas Sri.</content:encoded></item></channel></rss>
