<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Heboh Fenomena Shrinkflation, Ukuran Produk Dikecilkan tapi Harga Jual Sama</title><description>Heboh fenomena shrinkflation yang merupakan pengecilan ukuran kemasan tanpa menurunkan harga.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/09/320/2608769/heboh-fenomena-shrinkflation-ukuran-produk-dikecilkan-tapi-harga-jual-sama</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/06/09/320/2608769/heboh-fenomena-shrinkflation-ukuran-produk-dikecilkan-tapi-harga-jual-sama"/><item><title>Heboh Fenomena Shrinkflation, Ukuran Produk Dikecilkan tapi Harga Jual Sama</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/09/320/2608769/heboh-fenomena-shrinkflation-ukuran-produk-dikecilkan-tapi-harga-jual-sama</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/06/09/320/2608769/heboh-fenomena-shrinkflation-ukuran-produk-dikecilkan-tapi-harga-jual-sama</guid><pubDate>Kamis 09 Juni 2022 17:58 WIB</pubDate><dc:creator>Zuhirna Wulan Dilla</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/06/09/320/2608769/heboh-fenomena-shrinkflation-ukuran-produk-dikecilkan-tapi-harga-jual-sama-ySdySMLXA3.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Heboh fenomena shrinkflation. (Foto: VOA)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/06/09/320/2608769/heboh-fenomena-shrinkflation-ukuran-produk-dikecilkan-tapi-harga-jual-sama-ySdySMLXA3.JPG</image><title>Heboh fenomena shrinkflation. (Foto: VOA)</title></images><description>JAKARTA - Heboh fenomena shrinkflation yang merupakan pengecilan ukuran kemasan tanpa menurunkan harga.
Dikutip VOA Indonesia, hal ini terjadi pada toilet, hingga yogurt, kopi dan keripik jagung.
Di mana para produsen diam-diam mengecilkan ukuran kemasan tersebut.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Jadikan RI Produsen Mobil Listrik Dunia, Erick Thohir Gandeng Perusahaan China
Bahkan, fenomena ini terjadi di seluruh dunia.
Diketahui, di Amerika, sekotak kecil tissue yang beberapa bulan lalu memiliki 65 lembar kertas tissue, kini hanya 60 lembar.
Adapun Yogurt Chobani Flips menyusut dari 5,3 ons menjadi 4,5 ons.
Kemudian, di Inggris, Nestle memperkecil kaleng kopi Nescafe Azera Americano dari 100 gram menjadi 90 gram.
Lalu, di India, ukuran sebatang sabun cuci piring Vim diperkecil dari 155 gram menjadi 135 gram.
Hal ini akhirnya membuat para ahli buka suara dengan mengatakan penyusutan bukan hal baru, namun semakin meluas saat inflasi karena perusahaan bergulat dengan kenaikan biaya untuk bahan-bahan produk, pengemasan, tenaga kerja dan transportasi.Ini terjadi karena inflasi harga konsumen global naik sekitar 7% pada Mei lalu, yang menurut Standard&amp;amp;Poor Global akan berlanjut hingga September nanti.
&amp;ldquo;Hal ini datang bagai gelombang. Kita kebetulan berada dalam gelombang pasang karena inflasi,&amp;rdquo; ujar advokat konsumen dan mantan asisten jaksa agung Edgar Dworsky, di Massachusetts yang selama beberapa puluh tahun telah mendokumentasikan penyusutan yang terjadi di situs web Consumer World buatannya.
Dia menyebut mulai melihat boks-boks sereal yang lebih kecil sejak musim gugur lalu, dan shrinkflation ini kemudian terus membesar.
Dia memberi contoh, dari kertas tissue Cottonella Ultra Clean Care yang berkurang dari 340 lembar menjadi 312 lembar. Atau kopi Folgers yang kemasan plastinya mengecil dari 51 ons menjadi 43,5 ons, namun masih cukup untuk membuat 400 cangkir kopi.
Dia pun menerangkan kalau orongan untuk melakukan &amp;ldquo;shrinkflation&amp;rdquo; ini karena pelanggan akan mengetahui jika terjadi peningkatan harga, tetapi tidak akan menyadari adanya perubahan berat kemasan atau rincian kecil seperti jumlah lembaran tissue yang berkurang.
Sehingga perusahaan-perusahaan itu menyadari bahwa mereka juga dapat menggunakan trik untuk mengalihkan perhatian publik dari perampingan kemasan, seperti menandai paket yang lebih kecil dengan label baru yang cerah dan tetap menarik perhatian pembeli.
Ini juga dilakukan Fritos dengan tanda &amp;ldquo;Ukuran Pesta&amp;rdquo; atau &amp;ldquo;Party Size&amp;rdquo; yang tadinya 18 ons, kini hanya 1,5 ons &amp;ndash; dengan harga yang jauh lebih mahal.Dilanjut dengan PepsiCo tidak menjawab ketika ditanya tentang Fritos. Tetapi mengakui menyusutnya botol Gatorade.
Perusahaan itu baru-baru ini menghapus secara bertahap botol-botol berukuran 32 ons dan beralih menggunakan botol ukuran 28 ons yang diperkecil di bagian tengah untuk memudahkan konsumen memegangnya. Menurut Pepsi, perampingan itu sudah berlangsung selama beberapa tahun dan tidak terkait dengan iklim ekonomi saat ini.
Ada juga di Jepang, pembuat makanan ringan Calbee Inc, pada bulan Mei lalu mengumumkan pengurangan berat makanan hingga 10% dan kenaikan harga 10% pada banyak produknya. Ini termasuk keripik sayuran dan edamame renyah. Perusahaan ini menilai kenaikan tajam biaya bahan baku sebagai penyebab kenaikan harga.
Serta Domino's Pizza pada bulan Januari lalu mengumumkan akan mengecilkan ukuran sayap ayam dalam paketnya, dari 10 potong menjadi 8 potong, namun dengan harga yang sama yaitu USD7,99. Domino merujuk kenaikan harga ayam sebagai penyebabnya.
Pakar manajemen rantai pasokan di Arizona State University&amp;rsquo;s W.P. Carey School of Business Hitendra Chaturved, menyebut jika banyak perusahaan yang berjuang mengatasi kelangkaan sumber daya dan biaya bahan baku yang lebih tinggi.
Tetapi di sebagian kasus, keuntungan perusahaan-perusahaan itu &amp;ndash; atau penjualan yang dikurangi biaya menjalankan bisnis &amp;ndash; juga meningkat secara eksponensial, dan Chaturvedi merasa ini mengganggu.
Dia menunjuk pada Mondelez International, yang mulai mengecilkan ukuran coklat batangan Cadbury Dairy Milk di Inggris tanpa menurunkan harganya. Pendapatan operasional perusahaan itu naik 21% pada tahun 2021, tetapi turun pada kuartal pertama tahun 2022 karena tekanan biaya.
Ini sebagai perbandingan, laba operasional PepsiCo naik 11% pada tahun 2021, dan melonjak hingga 128% pada kuartal pertama tahun 2022.
&amp;ldquo;Saya tidak mengatakan mereka mencari untung, tetapi sepertinya demikian,&amp;rdquo; ujar Chaturvedi. &amp;ldquo;Apakah kita menggunakan kendala pasokan sebagai senjata untuk menghasilkan lebih banyak uang?&amp;rdquo; jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Heboh fenomena shrinkflation yang merupakan pengecilan ukuran kemasan tanpa menurunkan harga.
Dikutip VOA Indonesia, hal ini terjadi pada toilet, hingga yogurt, kopi dan keripik jagung.
Di mana para produsen diam-diam mengecilkan ukuran kemasan tersebut.
&amp;nbsp;BACA JUGA:Jadikan RI Produsen Mobil Listrik Dunia, Erick Thohir Gandeng Perusahaan China
Bahkan, fenomena ini terjadi di seluruh dunia.
Diketahui, di Amerika, sekotak kecil tissue yang beberapa bulan lalu memiliki 65 lembar kertas tissue, kini hanya 60 lembar.
Adapun Yogurt Chobani Flips menyusut dari 5,3 ons menjadi 4,5 ons.
Kemudian, di Inggris, Nestle memperkecil kaleng kopi Nescafe Azera Americano dari 100 gram menjadi 90 gram.
Lalu, di India, ukuran sebatang sabun cuci piring Vim diperkecil dari 155 gram menjadi 135 gram.
Hal ini akhirnya membuat para ahli buka suara dengan mengatakan penyusutan bukan hal baru, namun semakin meluas saat inflasi karena perusahaan bergulat dengan kenaikan biaya untuk bahan-bahan produk, pengemasan, tenaga kerja dan transportasi.Ini terjadi karena inflasi harga konsumen global naik sekitar 7% pada Mei lalu, yang menurut Standard&amp;amp;Poor Global akan berlanjut hingga September nanti.
&amp;ldquo;Hal ini datang bagai gelombang. Kita kebetulan berada dalam gelombang pasang karena inflasi,&amp;rdquo; ujar advokat konsumen dan mantan asisten jaksa agung Edgar Dworsky, di Massachusetts yang selama beberapa puluh tahun telah mendokumentasikan penyusutan yang terjadi di situs web Consumer World buatannya.
Dia menyebut mulai melihat boks-boks sereal yang lebih kecil sejak musim gugur lalu, dan shrinkflation ini kemudian terus membesar.
Dia memberi contoh, dari kertas tissue Cottonella Ultra Clean Care yang berkurang dari 340 lembar menjadi 312 lembar. Atau kopi Folgers yang kemasan plastinya mengecil dari 51 ons menjadi 43,5 ons, namun masih cukup untuk membuat 400 cangkir kopi.
Dia pun menerangkan kalau orongan untuk melakukan &amp;ldquo;shrinkflation&amp;rdquo; ini karena pelanggan akan mengetahui jika terjadi peningkatan harga, tetapi tidak akan menyadari adanya perubahan berat kemasan atau rincian kecil seperti jumlah lembaran tissue yang berkurang.
Sehingga perusahaan-perusahaan itu menyadari bahwa mereka juga dapat menggunakan trik untuk mengalihkan perhatian publik dari perampingan kemasan, seperti menandai paket yang lebih kecil dengan label baru yang cerah dan tetap menarik perhatian pembeli.
Ini juga dilakukan Fritos dengan tanda &amp;ldquo;Ukuran Pesta&amp;rdquo; atau &amp;ldquo;Party Size&amp;rdquo; yang tadinya 18 ons, kini hanya 1,5 ons &amp;ndash; dengan harga yang jauh lebih mahal.Dilanjut dengan PepsiCo tidak menjawab ketika ditanya tentang Fritos. Tetapi mengakui menyusutnya botol Gatorade.
Perusahaan itu baru-baru ini menghapus secara bertahap botol-botol berukuran 32 ons dan beralih menggunakan botol ukuran 28 ons yang diperkecil di bagian tengah untuk memudahkan konsumen memegangnya. Menurut Pepsi, perampingan itu sudah berlangsung selama beberapa tahun dan tidak terkait dengan iklim ekonomi saat ini.
Ada juga di Jepang, pembuat makanan ringan Calbee Inc, pada bulan Mei lalu mengumumkan pengurangan berat makanan hingga 10% dan kenaikan harga 10% pada banyak produknya. Ini termasuk keripik sayuran dan edamame renyah. Perusahaan ini menilai kenaikan tajam biaya bahan baku sebagai penyebab kenaikan harga.
Serta Domino's Pizza pada bulan Januari lalu mengumumkan akan mengecilkan ukuran sayap ayam dalam paketnya, dari 10 potong menjadi 8 potong, namun dengan harga yang sama yaitu USD7,99. Domino merujuk kenaikan harga ayam sebagai penyebabnya.
Pakar manajemen rantai pasokan di Arizona State University&amp;rsquo;s W.P. Carey School of Business Hitendra Chaturved, menyebut jika banyak perusahaan yang berjuang mengatasi kelangkaan sumber daya dan biaya bahan baku yang lebih tinggi.
Tetapi di sebagian kasus, keuntungan perusahaan-perusahaan itu &amp;ndash; atau penjualan yang dikurangi biaya menjalankan bisnis &amp;ndash; juga meningkat secara eksponensial, dan Chaturvedi merasa ini mengganggu.
Dia menunjuk pada Mondelez International, yang mulai mengecilkan ukuran coklat batangan Cadbury Dairy Milk di Inggris tanpa menurunkan harganya. Pendapatan operasional perusahaan itu naik 21% pada tahun 2021, tetapi turun pada kuartal pertama tahun 2022 karena tekanan biaya.
Ini sebagai perbandingan, laba operasional PepsiCo naik 11% pada tahun 2021, dan melonjak hingga 128% pada kuartal pertama tahun 2022.
&amp;ldquo;Saya tidak mengatakan mereka mencari untung, tetapi sepertinya demikian,&amp;rdquo; ujar Chaturvedi. &amp;ldquo;Apakah kita menggunakan kendala pasokan sebagai senjata untuk menghasilkan lebih banyak uang?&amp;rdquo; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
