<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Minyak Sawit Jadi Penyebab Penurunan Ekspor Industri Pengolahan</title><description>Ekspor industri pengolahan mengalami penurunan ekspor terdalam sebesar 25,92% pada Mei 2022 dibandingkan April 2022.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/15/320/2612110/minyak-sawit-jadi-penyebab-penurunan-ekspor-industri-pengolahan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/06/15/320/2612110/minyak-sawit-jadi-penyebab-penurunan-ekspor-industri-pengolahan"/><item><title>Minyak Sawit Jadi Penyebab Penurunan Ekspor Industri Pengolahan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/15/320/2612110/minyak-sawit-jadi-penyebab-penurunan-ekspor-industri-pengolahan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/06/15/320/2612110/minyak-sawit-jadi-penyebab-penurunan-ekspor-industri-pengolahan</guid><pubDate>Rabu 15 Juni 2022 15:51 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/06/15/320/2612110/minyak-sawit-jadi-penyebab-penurunan-ekspor-industri-pengolahan-04rlfaFlxw.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Minyak sawit picu penurunan ekspor (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/06/15/320/2612110/minyak-sawit-jadi-penyebab-penurunan-ekspor-industri-pengolahan-04rlfaFlxw.jpg</image><title>Minyak sawit picu penurunan ekspor (Foto: Antara)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Ekspor industri pengolahan mengalami penurunan ekspor terdalam sebesar 25,92% pada Mei 2022 dibandingkan April 2022. Badan Pusat Statistik (BPS) menilai restriksi alias pelarangan ekspor minyak sawit menjadi pemicunya.
&quot;Jadi, yang mengalami penurunan secara month to month (MoM) ini, utamanya adalah industri pengolahan yang mengalami penurunan ekspor terdalam, yaitu turun 25,92%. Untuk minyak kelapa sawit, kita mengalami restriksi ekspor pada Mei lalu, sehingga minyak kelapa sawit mengalami penurunan ekspor pada Mei 2022,&quot; kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dilansir dari Antara, Rabu (15/6/2022).
BACA JUGA:Zulkifli Hasan Jadi Mendag, Minyak Goreng hingga Ekspor CPO Jadi PR

Setianto menyampaikan, penurunan ekspor minyak kelapa sawit Indonesia terlihat dari data ekspor komoditas itu ke India yang turun 100% pada Mei 2022 menjadi 0 rupiah dari April 2022 sebesar USD376,60 juta.
Kemudian, ekspor minyak sawit ke Pakistan juga turun 90,17% menjadi USD21,90 juta dari sebelumnya USD222,80 juta pada April 2022. Adapun penurunan ekspor minyak sawit terbesar terjadi dari Riau yang menurun 91,57% menjadi USD84,40 juta pada Mei 2022 dibandingkan April 2022 sebesar USD1 miliar.
BACA JUGA:Ekspor Indonesia Turun 21,29% pada Mei 2022

Setianto menambahkan, nilai ekspor RI pada Mei 2022 mencapai USD21,51 miliar atau turun 21,29% dibandingkan bulan sebelumnya. Kendati demikian, nilai ekspor tersebut mengalami peningkatan 27% jika dibandingkan ekspor pada Mei tahun sebelumnya.
Menurut Setianto, penurunan ekspor Mei 2022 terjadi hampir di semua sektor, baik sektor industri pengolahan; pertanian, kehutanan, dan perikanan; serta industri pertambangan. &quot;Hanya sektor migas yang mengalami peningkatan ekspor pada Mei 2022 sebesar 4,38%,&quot; ujar Setianto.Adapun ekspor sektor pertanian mengalami penurunan 25,92%, dengan  penurunan terbesar terjadi pada ekspor sarang burung walet dan tanaman  obat. Kemudian, penurunan juga terjadi pada sektor pertambangan sebesar  12,92% yang didorong oleh penurunan komoditas bijih tembaga dan lignit.
Sementara itu, ekspor sektor migas mengalami peningkatan 4,38% (MoM),  utamanya didorong oleh komoditas migas untuk minyak mentah dan gas.  &quot;Komoditas yang mengalami peningkatan antara lain nikel, tembaga, bahan  anyaman nabati, minuman, alkohol, cuka, korek api, kembang api, dan  bahan peledak,&quot; tukas Setianto.
Berdasarkan negara tujuan, peningkatan ekspor RI terbesar adalah menuju negara Tiongkok, Amerika Serikat, dan Singapura.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Ekspor industri pengolahan mengalami penurunan ekspor terdalam sebesar 25,92% pada Mei 2022 dibandingkan April 2022. Badan Pusat Statistik (BPS) menilai restriksi alias pelarangan ekspor minyak sawit menjadi pemicunya.
&quot;Jadi, yang mengalami penurunan secara month to month (MoM) ini, utamanya adalah industri pengolahan yang mengalami penurunan ekspor terdalam, yaitu turun 25,92%. Untuk minyak kelapa sawit, kita mengalami restriksi ekspor pada Mei lalu, sehingga minyak kelapa sawit mengalami penurunan ekspor pada Mei 2022,&quot; kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dilansir dari Antara, Rabu (15/6/2022).
BACA JUGA:Zulkifli Hasan Jadi Mendag, Minyak Goreng hingga Ekspor CPO Jadi PR

Setianto menyampaikan, penurunan ekspor minyak kelapa sawit Indonesia terlihat dari data ekspor komoditas itu ke India yang turun 100% pada Mei 2022 menjadi 0 rupiah dari April 2022 sebesar USD376,60 juta.
Kemudian, ekspor minyak sawit ke Pakistan juga turun 90,17% menjadi USD21,90 juta dari sebelumnya USD222,80 juta pada April 2022. Adapun penurunan ekspor minyak sawit terbesar terjadi dari Riau yang menurun 91,57% menjadi USD84,40 juta pada Mei 2022 dibandingkan April 2022 sebesar USD1 miliar.
BACA JUGA:Ekspor Indonesia Turun 21,29% pada Mei 2022

Setianto menambahkan, nilai ekspor RI pada Mei 2022 mencapai USD21,51 miliar atau turun 21,29% dibandingkan bulan sebelumnya. Kendati demikian, nilai ekspor tersebut mengalami peningkatan 27% jika dibandingkan ekspor pada Mei tahun sebelumnya.
Menurut Setianto, penurunan ekspor Mei 2022 terjadi hampir di semua sektor, baik sektor industri pengolahan; pertanian, kehutanan, dan perikanan; serta industri pertambangan. &quot;Hanya sektor migas yang mengalami peningkatan ekspor pada Mei 2022 sebesar 4,38%,&quot; ujar Setianto.Adapun ekspor sektor pertanian mengalami penurunan 25,92%, dengan  penurunan terbesar terjadi pada ekspor sarang burung walet dan tanaman  obat. Kemudian, penurunan juga terjadi pada sektor pertambangan sebesar  12,92% yang didorong oleh penurunan komoditas bijih tembaga dan lignit.
Sementara itu, ekspor sektor migas mengalami peningkatan 4,38% (MoM),  utamanya didorong oleh komoditas migas untuk minyak mentah dan gas.  &quot;Komoditas yang mengalami peningkatan antara lain nikel, tembaga, bahan  anyaman nabati, minuman, alkohol, cuka, korek api, kembang api, dan  bahan peledak,&quot; tukas Setianto.
Berdasarkan negara tujuan, peningkatan ekspor RI terbesar adalah menuju negara Tiongkok, Amerika Serikat, dan Singapura.</content:encoded></item></channel></rss>
