<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Krisis Pangan hingga Pengungsian Rakyat Miskin Meningkat Imbas Perang Ukraina</title><description>Krisis pangan yang dipicu oleh perang Ukraina akan mendorong pengungsian rakyat miskin.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/17/320/2613092/krisis-pangan-hingga-pengungsian-rakyat-miskin-meningkat-imbas-perang-ukraina</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/06/17/320/2613092/krisis-pangan-hingga-pengungsian-rakyat-miskin-meningkat-imbas-perang-ukraina"/><item><title>Krisis Pangan hingga Pengungsian Rakyat Miskin Meningkat Imbas Perang Ukraina</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/17/320/2613092/krisis-pangan-hingga-pengungsian-rakyat-miskin-meningkat-imbas-perang-ukraina</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/06/17/320/2613092/krisis-pangan-hingga-pengungsian-rakyat-miskin-meningkat-imbas-perang-ukraina</guid><pubDate>Jum'at 17 Juni 2022 09:02 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/06/17/320/2613092/krisis-pangan-hingga-pengungsian-rakyat-miskin-meningkat-imbas-perang-ukraina-nxM2AsSCM1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perang Rusia-Ukraina (Foto: NewYorkTimes)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/06/17/320/2613092/krisis-pangan-hingga-pengungsian-rakyat-miskin-meningkat-imbas-perang-ukraina-nxM2AsSCM1.jpg</image><title>Perang Rusia-Ukraina (Foto: NewYorkTimes)</title></images><description>JAKARTA - Krisis pangan yang dipicu oleh perang Ukraina akan mendorong pengungsian rakyat miskin. Badan pengungsi PBB (UNHCR) menilai hal ini akan berpengaruh pada tingkat pengungsian secara global.
Sebuah laporan badan PBB menunjukkan bahwa sekitar 89,3 juta orang di dunia terpaksa mengungsi sebagai akibat dari penganiayaan, konflik, pelecehan dan kekerasan pada akhir 2021. Sejak itu, jutaan orang lainnya telah meninggalkan Ukraina atau terpaksa mengungsi di wilayah-wilayah perbatasannya. Terhambatnya ekspor biji-bijian dari Ukraina yang merupakan salah satu produsen andalan dunia, akan mengerek harga-harga pangan sehingga diyakini akan mendorong pengungsian di tempat lain.
BACA JUGA:Waspada Krisis Pangan, Jokowi Bangunkan Lahan yang Belum Dimanfaatkan
&quot;Jika Anda memiliki krisis pangan dengan kondisi yang saya jelaskan - perang, hak asasi manusia, iklim - itu hanya akan mempercepat tren yang saya jelaskan dalam laporan ini,&quot; kata Filippo Grandi dilansir dari VOA, Jumat (17/6/2022).
Dia menggambarkan angka-angka itu sebagai sesuatu yang mengejutkan. &amp;ldquo;Jelas dampaknya jika tidak segera diselesaikan akan cukup dahsyat.&amp;rdquo; Saat ini sudah terdapat lebih banyak orang yang melarikan diri dari negaranya sebagai akibat dari kenaikan harga dan pemberontakan kekerasan di wilayah Sahel Afrika, katanya.Secara keseluruhan, jumlah pengungsi meningkat setiap tahun selama  satu dekade terakhir, menurut laporan UNHCR. Seaat ini, jumlah pengungsi  lebih dari dua kali lipat dari 42,7 juta orang yang kehilangan tempat  tinggalnya pada 2012.
Grandi juga mengkritik apa yang disebutnya &quot;monopoli&quot; sumber daya  yang diberikan ke Ukraina, sedangkan program lain untuk membantu para  pengungsi kekurangan dana.
&quot;Ukraina seharusnya tidak membuat kita melupakan krisis lain,&quot;  katanya, menyebutkan konflik dua tahun di Ethiopia dan kekeringan di  Tanduk Afrika.</description><content:encoded>JAKARTA - Krisis pangan yang dipicu oleh perang Ukraina akan mendorong pengungsian rakyat miskin. Badan pengungsi PBB (UNHCR) menilai hal ini akan berpengaruh pada tingkat pengungsian secara global.
Sebuah laporan badan PBB menunjukkan bahwa sekitar 89,3 juta orang di dunia terpaksa mengungsi sebagai akibat dari penganiayaan, konflik, pelecehan dan kekerasan pada akhir 2021. Sejak itu, jutaan orang lainnya telah meninggalkan Ukraina atau terpaksa mengungsi di wilayah-wilayah perbatasannya. Terhambatnya ekspor biji-bijian dari Ukraina yang merupakan salah satu produsen andalan dunia, akan mengerek harga-harga pangan sehingga diyakini akan mendorong pengungsian di tempat lain.
BACA JUGA:Waspada Krisis Pangan, Jokowi Bangunkan Lahan yang Belum Dimanfaatkan
&quot;Jika Anda memiliki krisis pangan dengan kondisi yang saya jelaskan - perang, hak asasi manusia, iklim - itu hanya akan mempercepat tren yang saya jelaskan dalam laporan ini,&quot; kata Filippo Grandi dilansir dari VOA, Jumat (17/6/2022).
Dia menggambarkan angka-angka itu sebagai sesuatu yang mengejutkan. &amp;ldquo;Jelas dampaknya jika tidak segera diselesaikan akan cukup dahsyat.&amp;rdquo; Saat ini sudah terdapat lebih banyak orang yang melarikan diri dari negaranya sebagai akibat dari kenaikan harga dan pemberontakan kekerasan di wilayah Sahel Afrika, katanya.Secara keseluruhan, jumlah pengungsi meningkat setiap tahun selama  satu dekade terakhir, menurut laporan UNHCR. Seaat ini, jumlah pengungsi  lebih dari dua kali lipat dari 42,7 juta orang yang kehilangan tempat  tinggalnya pada 2012.
Grandi juga mengkritik apa yang disebutnya &quot;monopoli&quot; sumber daya  yang diberikan ke Ukraina, sedangkan program lain untuk membantu para  pengungsi kekurangan dana.
&quot;Ukraina seharusnya tidak membuat kita melupakan krisis lain,&quot;  katanya, menyebutkan konflik dua tahun di Ethiopia dan kekeringan di  Tanduk Afrika.</content:encoded></item></channel></rss>
