<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Erick Thohir Kesal E-Commerce Barangnya Asing, Fintech Jadi Tempat Penipuan</title><description>Menteri BUMN Erick Thohir kesal lantaran e-commerce dibanjiri produk asing.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/22/320/2616124/erick-thohir-kesal-e-commerce-barangnya-asing-fintech-jadi-tempat-penipuan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/06/22/320/2616124/erick-thohir-kesal-e-commerce-barangnya-asing-fintech-jadi-tempat-penipuan"/><item><title>Erick Thohir Kesal E-Commerce Barangnya Asing, Fintech Jadi Tempat Penipuan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/22/320/2616124/erick-thohir-kesal-e-commerce-barangnya-asing-fintech-jadi-tempat-penipuan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/06/22/320/2616124/erick-thohir-kesal-e-commerce-barangnya-asing-fintech-jadi-tempat-penipuan</guid><pubDate>Rabu 22 Juni 2022 15:08 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/06/22/320/2616124/erick-thohir-kesal-e-commerce-barangnya-asing-fintech-jadi-tempat-penipuan-7zEOKA2eKs.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Erick Thohir kesal e-commerce dibanjiri produk asing (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/06/22/320/2616124/erick-thohir-kesal-e-commerce-barangnya-asing-fintech-jadi-tempat-penipuan-7zEOKA2eKs.jpg</image><title>Erick Thohir kesal e-commerce dibanjiri produk asing (Foto: Antara)</title></images><description>JAKARTA - Menteri BUMN Erick Thohir kesal lantaran e-commerce dibanjiri produk asing. Menurutnya, dominasi produk asing dibandingkan produk lokal menjadi realita saat ini.
Padahal, potensi ekonomi digital di Indonesia diperkirakan tembus Rp1.736 triliun. Erick mencatat, ekonomi digital didominasi oleh sektor e-commerce pada 2025 mendatang melalui penjualan produk lokal.
BACA JUGA:E-Commerce: Laku Saja Belum Sudah Harus Bayar Materai

Pada 2025 ekonomi digital Tanah Air diproyeksi berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 10 persen. Pernyataan Erick didasarkan atas hasil riset Southeast Asia e-Conomy Report 2020.
Data tersebut juga didukung oleh sumber dari Startup Indonesia, di mana jumlah mobile connections mencapai 345,3 juta atau 125,6 persen dari total penduduk.
BACA JUGA:Belanja di E-Commerce Bakal Kena Bea Meterai Rp10 Ribu, Sudah Tepat?

Sementara itu, ada 202,6 juta internet users atau 73,7 persen dari total penduduk Indonesia. Erick menjelaskan era disrupsi digital tak hanya sebagai tantangan, melainkan juga merupakan peluang besar bagi Indonesia.
Tak hanya itu, Erick juga geram dengan sikap sejumlah aplikasi pinjaman online (pinjol) dalam ekosistem teknologi finansial (Fintech). Perkaranya, ada penipuan berkedok pinjaman pendanaan yang kerap dilakukan oknum tertentu.
&quot;Kita bicara e-commerce barangnya asing. Itu realita. Fintech bukannya bagus malah tempat penipuan pinjol,&quot; ungkap Erick saat mengisi Kuliah Umum di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, dikutip Rabu (22/6/2022).Satuan Tugas Waspada Investasi mencatat masyarakat kerap menjadikan  pinjaman online sebagai alternatif memenuhi kebutuhan hidup. Hingga  Maret 2022, dana pinjol yang tersalurkan ke masyarakat mencapai  Rp332,105 triliun dengan nilai outstanding mencapai Rp36,164 triliun.
Dana itu mengalir dari 860.971 pemberi pinjaman (lender) melalui 102  perusahaan pinjol berizin dari OJK ke 78.560.968 rekening peminjam.  Meski sudah marak kasus pinjol ilegal, tapi ternyata tak menurunkan  animo masyarakat untuk memanfaatkan aplikasi pinjol legal yang terdaftar  di OJK.
Ketua Satuan Tugas Waspada Investasi Tongam L Tobing menjelaskan  bahwa yang menjadi alasan masyarakat tetap nekat pakai pinjol legal atau  ilegal adalah untuk kebutuhan hidup.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri BUMN Erick Thohir kesal lantaran e-commerce dibanjiri produk asing. Menurutnya, dominasi produk asing dibandingkan produk lokal menjadi realita saat ini.
Padahal, potensi ekonomi digital di Indonesia diperkirakan tembus Rp1.736 triliun. Erick mencatat, ekonomi digital didominasi oleh sektor e-commerce pada 2025 mendatang melalui penjualan produk lokal.
BACA JUGA:E-Commerce: Laku Saja Belum Sudah Harus Bayar Materai

Pada 2025 ekonomi digital Tanah Air diproyeksi berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 10 persen. Pernyataan Erick didasarkan atas hasil riset Southeast Asia e-Conomy Report 2020.
Data tersebut juga didukung oleh sumber dari Startup Indonesia, di mana jumlah mobile connections mencapai 345,3 juta atau 125,6 persen dari total penduduk.
BACA JUGA:Belanja di E-Commerce Bakal Kena Bea Meterai Rp10 Ribu, Sudah Tepat?

Sementara itu, ada 202,6 juta internet users atau 73,7 persen dari total penduduk Indonesia. Erick menjelaskan era disrupsi digital tak hanya sebagai tantangan, melainkan juga merupakan peluang besar bagi Indonesia.
Tak hanya itu, Erick juga geram dengan sikap sejumlah aplikasi pinjaman online (pinjol) dalam ekosistem teknologi finansial (Fintech). Perkaranya, ada penipuan berkedok pinjaman pendanaan yang kerap dilakukan oknum tertentu.
&quot;Kita bicara e-commerce barangnya asing. Itu realita. Fintech bukannya bagus malah tempat penipuan pinjol,&quot; ungkap Erick saat mengisi Kuliah Umum di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, dikutip Rabu (22/6/2022).Satuan Tugas Waspada Investasi mencatat masyarakat kerap menjadikan  pinjaman online sebagai alternatif memenuhi kebutuhan hidup. Hingga  Maret 2022, dana pinjol yang tersalurkan ke masyarakat mencapai  Rp332,105 triliun dengan nilai outstanding mencapai Rp36,164 triliun.
Dana itu mengalir dari 860.971 pemberi pinjaman (lender) melalui 102  perusahaan pinjol berizin dari OJK ke 78.560.968 rekening peminjam.  Meski sudah marak kasus pinjol ilegal, tapi ternyata tak menurunkan  animo masyarakat untuk memanfaatkan aplikasi pinjol legal yang terdaftar  di OJK.
Ketua Satuan Tugas Waspada Investasi Tongam L Tobing menjelaskan  bahwa yang menjadi alasan masyarakat tetap nekat pakai pinjol legal atau  ilegal adalah untuk kebutuhan hidup.</content:encoded></item></channel></rss>
