<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kejahatan Soceng Bikin Perbankan Rugi Rp246,5 Miliar</title><description>Kejahatan social enginering (soceng) merugikan dua pihak yakni perbankan dan juga nasabah.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/22/320/2616220/kejahatan-soceng-bikin-perbankan-rugi-rp246-5-miliar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/06/22/320/2616220/kejahatan-soceng-bikin-perbankan-rugi-rp246-5-miliar"/><item><title>Kejahatan Soceng Bikin Perbankan Rugi Rp246,5 Miliar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/22/320/2616220/kejahatan-soceng-bikin-perbankan-rugi-rp246-5-miliar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/06/22/320/2616220/kejahatan-soceng-bikin-perbankan-rugi-rp246-5-miliar</guid><pubDate>Rabu 22 Juni 2022 16:38 WIB</pubDate><dc:creator>Viola Triamanda</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/06/22/320/2616220/kejahatan-soceng-bikin-perbankan-rugi-rp246-5-miliar-KLEVzEDvWY.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perbankan rugi akibat soceng (Foto: Mint)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/06/22/320/2616220/kejahatan-soceng-bikin-perbankan-rugi-rp246-5-miliar-KLEVzEDvWY.jpg</image><title>Perbankan rugi akibat soceng (Foto: Mint)</title></images><description>JAKARTA - Kejahatan social enginering (soceng) merugikan dua pihak yakni perbankan dan juga nasabah. Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo menyatakan bahwa kerugian riil yang dialami Bank Umum dilaporkan sebesar Rp246,5 miliar.
&quot;Berdasarkan Laporan Strategi Antifraud yang disampaikan oleh perbankan ke OJK sampai dengan semester I 2021, kerugian riil yang dialami Bank Umum dilaporkan sebesar Rp246,5 miliar, sedangkan kerugian riil yang dialami Nasabah Bank dilaporkan sebesar Rp11,8 miliar,&quot; jelasnya kepada MPI, Rabu (22/6/2022).
BACA JUGA:Hati-Hati Ada Modus Soceng, Saldo Rekening Dikuras Sampai Kering

Menurutnya berbagai kejadian risiko keamanan siber dapat menyebabkan dampak terhadap Bank antara lain kerugian langsung dan kerugian tidak langsung.
&quot;Kerugian langsung merupakan kerugian yang dapat dihitung dan berdampak langsung pada Bank, contohnya kehilangan aset dan pembayaran ganti rugi kepada pihak lain (nasabah). Sedangkan  kerugian tidak langsung adalah kerugian yang sulit dihitung secara kuantitatif, namun dapat mengurangi efektivitas dari efisiensi bisnis Bank. Contoh dari kerugian tidak langsung adalah inefisiensi proses kerja, kehilangan kesempatan untuk memperoleh klaim/ keuntungan, dan kehilangan atau berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap bank,&quot; ucapnya.
Sementara itu nasabah tentunya turut merasakan kerugian yakni kerugian finansial berupa hilangnya dana di rekening serta terganggunya pelayanan transaksi pada saat proses investigasi dilakukan.Social engineering sendiri dapat diartikan sebagai tindakan  memperoleh informasi nasabah seperti PIN, nomor baru, dan/atau informasi  lain dengan cara menghubungi nasabah melalui telepon, SMS, atau media  lain untuk menyampaikan informasi tertentu agar nasabah menghubungi  nomor tertentu atau membuka situs web tertentu.
&quot;Berdasarkan pengamatan kami, terdapat 4 modus soceng yang saat ini  sedang marak di masyarakat, yaitu Info Perubahan Tarif Transfer Bank,  tawaran menjadi nasabah prioritas, akun layanan konsumen palsu dan  tawaran menjadi agen laku pandai,&quot; jelasnya.
Menurutnya pelaku social engineering terutama yang berasal dari  eksternal Bank mengincar secara acak dengan memanfaatkan kelengahan dan  ketidaktahuan nasabah. Namun sebagai contoh untuk modus penawaran  menjadi nasabah prioritas, tentunya pelaku bisa memetakan potensi dana  yang dimiliki oleh calon korbannya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kejahatan social enginering (soceng) merugikan dua pihak yakni perbankan dan juga nasabah. Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo menyatakan bahwa kerugian riil yang dialami Bank Umum dilaporkan sebesar Rp246,5 miliar.
&quot;Berdasarkan Laporan Strategi Antifraud yang disampaikan oleh perbankan ke OJK sampai dengan semester I 2021, kerugian riil yang dialami Bank Umum dilaporkan sebesar Rp246,5 miliar, sedangkan kerugian riil yang dialami Nasabah Bank dilaporkan sebesar Rp11,8 miliar,&quot; jelasnya kepada MPI, Rabu (22/6/2022).
BACA JUGA:Hati-Hati Ada Modus Soceng, Saldo Rekening Dikuras Sampai Kering

Menurutnya berbagai kejadian risiko keamanan siber dapat menyebabkan dampak terhadap Bank antara lain kerugian langsung dan kerugian tidak langsung.
&quot;Kerugian langsung merupakan kerugian yang dapat dihitung dan berdampak langsung pada Bank, contohnya kehilangan aset dan pembayaran ganti rugi kepada pihak lain (nasabah). Sedangkan  kerugian tidak langsung adalah kerugian yang sulit dihitung secara kuantitatif, namun dapat mengurangi efektivitas dari efisiensi bisnis Bank. Contoh dari kerugian tidak langsung adalah inefisiensi proses kerja, kehilangan kesempatan untuk memperoleh klaim/ keuntungan, dan kehilangan atau berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap bank,&quot; ucapnya.
Sementara itu nasabah tentunya turut merasakan kerugian yakni kerugian finansial berupa hilangnya dana di rekening serta terganggunya pelayanan transaksi pada saat proses investigasi dilakukan.Social engineering sendiri dapat diartikan sebagai tindakan  memperoleh informasi nasabah seperti PIN, nomor baru, dan/atau informasi  lain dengan cara menghubungi nasabah melalui telepon, SMS, atau media  lain untuk menyampaikan informasi tertentu agar nasabah menghubungi  nomor tertentu atau membuka situs web tertentu.
&quot;Berdasarkan pengamatan kami, terdapat 4 modus soceng yang saat ini  sedang marak di masyarakat, yaitu Info Perubahan Tarif Transfer Bank,  tawaran menjadi nasabah prioritas, akun layanan konsumen palsu dan  tawaran menjadi agen laku pandai,&quot; jelasnya.
Menurutnya pelaku social engineering terutama yang berasal dari  eksternal Bank mengincar secara acak dengan memanfaatkan kelengahan dan  ketidaktahuan nasabah. Namun sebagai contoh untuk modus penawaran  menjadi nasabah prioritas, tentunya pelaku bisa memetakan potensi dana  yang dimiliki oleh calon korbannya.</content:encoded></item></channel></rss>
