<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>The Fed Blakblakan Kemungkinan Resesi Ekonomi Terjadi Lagi</title><description>Ekonomi Amerika Serikat (AS) terancam resesi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/23/320/2616801/the-fed-blakblakan-kemungkinan-resesi-ekonomi-terjadi-lagi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/06/23/320/2616801/the-fed-blakblakan-kemungkinan-resesi-ekonomi-terjadi-lagi"/><item><title>The Fed Blakblakan Kemungkinan Resesi Ekonomi Terjadi Lagi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/23/320/2616801/the-fed-blakblakan-kemungkinan-resesi-ekonomi-terjadi-lagi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/06/23/320/2616801/the-fed-blakblakan-kemungkinan-resesi-ekonomi-terjadi-lagi</guid><pubDate>Kamis 23 Juni 2022 14:15 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/06/23/320/2616801/the-fed-blakblakan-kemungkinan-resesi-ekonomi-terjadi-lagi-tnvPndLTDB.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">AS terancam resesi ekonomi (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/06/23/320/2616801/the-fed-blakblakan-kemungkinan-resesi-ekonomi-terjadi-lagi-tnvPndLTDB.jpeg</image><title>AS terancam resesi ekonomi (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Ekonomi Amerika Serikat (AS) terancam resesi. Ketua Federal Reserve atau The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa bank sentral itu berkomitmen untuk memegang kembali kendali atas inflasi tanpa menimbulkan banyak kerusakan ataupun kerugian.
Namun The Fed hanya memiliki kuasa kecil dalam mengatasi gejala-gejala resesi yang paling terlihat di pompa bensin atau supermarket. Powell berbicara kepada Komite Perbankan Senat pada hari Rabu(22/6), seminggu setelah The Fed memerintahkan kenaikan suku bunga terbesar sejak 1994. Bank sentral itu berada di bawah tekanan yang meningkat untuk memerangi inflasi, yang mencapai level tertinggi dalam empat dekade sebesar 8,6% pada Mei lalu.
BACA JUGA:Harga Minyak Turun 3% Khawatir Ekonomi AS Resesi

&quot;Kita perlu menurunkan inflasi ke 2%. Kami menggunakan alat-alat kami untuk melakukan itu. Dan publik harus percaya bahwa kami akan mengendalikan inflasi kembali ke 2% dari waktu ke waktu,&quot; ujar Powell kepada parlemen.
Senator Elizabeth Warren memperingatkan bahwa kenaikan mendadak dalam tarif pinjaman dapat menghasilkan lonjakan PHK, dan itu tidak banyak membantu mengatasi guncangan pasokan yang telah mendorong kenaikan harga bensin dan bahan makanan.
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Turun di Tengah Ancaman Resesi Global

&quot;Anda tahu apa yang lebih buruk dari inflasi tinggi dan pengangguran rendah? Ini inflasi tinggi dan resesi dengan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Saya harap Anda akan mempertimbangkannya kembali, sebelum Anda mendorong ekonomi ini ke jurang,&quot; tegas Warren.
Powell menekankan ekonomi berada pada posisi yang baik untuk menahan suku bunga yang lebih tinggi, meskipun dia mengakui bahwa perang di Ukraina dan masalah rantai pasokan yang masih ada akan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi.&quot;Ini secara pasti adalah kemungkinan. Ini sama sekali bukan hasil  yang kami inginkan, tetapi masih sebuah kemungkinan. Kami tidak mencoba  memprovokasi  dan tidak berpikir bahwa kami perlu memprovokasi resesi,  tapi kami pikir sangat penting bahwa kami mengembalikan stabilitas  harga, benar-benar untuk kepentingan pasar tenaga kerja dan hal  lainnya,&quot; tambah Powell.
Ekonom-ekonom yang disurvei oleh Wall Street Journal menempatkan  peluang resesi dalam 12 bulan ke depan sebesar 44%, naik dari 28% di  bulan April.
Powell berpendapat bahwa memprediksi resesi sangat sulit, tetapi menambahkan bahwa dia tidak melihat risikonya terlalu tinggi.
&quot;Ekonomi AS untuk saat ini kuat. Pengeluaran kuat. Konsumen dalam  kondisi yang baik. Bisnis dalam kondisi yang baik. Kebijakan moneter  sudah terkenal sebagai alat yang tumpul. Dan ada risiko bahwa hasil yang  lebih lemah pasti mungkin terjadi. Tapi itu bukan tujuan kami,&quot; tegas  Powell.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Ekonomi Amerika Serikat (AS) terancam resesi. Ketua Federal Reserve atau The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa bank sentral itu berkomitmen untuk memegang kembali kendali atas inflasi tanpa menimbulkan banyak kerusakan ataupun kerugian.
Namun The Fed hanya memiliki kuasa kecil dalam mengatasi gejala-gejala resesi yang paling terlihat di pompa bensin atau supermarket. Powell berbicara kepada Komite Perbankan Senat pada hari Rabu(22/6), seminggu setelah The Fed memerintahkan kenaikan suku bunga terbesar sejak 1994. Bank sentral itu berada di bawah tekanan yang meningkat untuk memerangi inflasi, yang mencapai level tertinggi dalam empat dekade sebesar 8,6% pada Mei lalu.
BACA JUGA:Harga Minyak Turun 3% Khawatir Ekonomi AS Resesi

&quot;Kita perlu menurunkan inflasi ke 2%. Kami menggunakan alat-alat kami untuk melakukan itu. Dan publik harus percaya bahwa kami akan mengendalikan inflasi kembali ke 2% dari waktu ke waktu,&quot; ujar Powell kepada parlemen.
Senator Elizabeth Warren memperingatkan bahwa kenaikan mendadak dalam tarif pinjaman dapat menghasilkan lonjakan PHK, dan itu tidak banyak membantu mengatasi guncangan pasokan yang telah mendorong kenaikan harga bensin dan bahan makanan.
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Turun di Tengah Ancaman Resesi Global

&quot;Anda tahu apa yang lebih buruk dari inflasi tinggi dan pengangguran rendah? Ini inflasi tinggi dan resesi dengan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Saya harap Anda akan mempertimbangkannya kembali, sebelum Anda mendorong ekonomi ini ke jurang,&quot; tegas Warren.
Powell menekankan ekonomi berada pada posisi yang baik untuk menahan suku bunga yang lebih tinggi, meskipun dia mengakui bahwa perang di Ukraina dan masalah rantai pasokan yang masih ada akan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi.&quot;Ini secara pasti adalah kemungkinan. Ini sama sekali bukan hasil  yang kami inginkan, tetapi masih sebuah kemungkinan. Kami tidak mencoba  memprovokasi  dan tidak berpikir bahwa kami perlu memprovokasi resesi,  tapi kami pikir sangat penting bahwa kami mengembalikan stabilitas  harga, benar-benar untuk kepentingan pasar tenaga kerja dan hal  lainnya,&quot; tambah Powell.
Ekonom-ekonom yang disurvei oleh Wall Street Journal menempatkan  peluang resesi dalam 12 bulan ke depan sebesar 44%, naik dari 28% di  bulan April.
Powell berpendapat bahwa memprediksi resesi sangat sulit, tetapi menambahkan bahwa dia tidak melihat risikonya terlalu tinggi.
&quot;Ekonomi AS untuk saat ini kuat. Pengeluaran kuat. Konsumen dalam  kondisi yang baik. Bisnis dalam kondisi yang baik. Kebijakan moneter  sudah terkenal sebagai alat yang tumpul. Dan ada risiko bahwa hasil yang  lebih lemah pasti mungkin terjadi. Tapi itu bukan tujuan kami,&quot; tegas  Powell.</content:encoded></item></channel></rss>
