<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Tahan Suku Bunga Acuan di 3,5%</title><description>Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan di level 3,5%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/23/320/2616819/bi-tahan-suku-bunga-acuan-di-3-5</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/06/23/320/2616819/bi-tahan-suku-bunga-acuan-di-3-5"/><item><title>BI Tahan Suku Bunga Acuan di 3,5%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/23/320/2616819/bi-tahan-suku-bunga-acuan-di-3-5</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/06/23/320/2616819/bi-tahan-suku-bunga-acuan-di-3-5</guid><pubDate>Kamis 23 Juni 2022 14:35 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/06/23/320/2616819/bi-tahan-suku-bunga-acuan-di-3-5-XiWDpOFOgk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bank Indonesia tahan suku bunga acuan (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/06/23/320/2616819/bi-tahan-suku-bunga-acuan-di-3-5-XiWDpOFOgk.jpg</image><title>Bank Indonesia tahan suku bunga acuan (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan di level 3,5%. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada tanggal 22-23 Juni 2022 memutuskan untuk kembali mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate ( BI7DRR ) sebesar 3,5% basis point (bps).
Demikian pula dengan suku bunga Deposit Facility, tetap sebesar 2,75% dan suku bunga Lending Facility tetap di angka di level 4,25%.
BACA JUGA:Bank Indonesia Tak Ingin Buru-Buru Tingkatkan Suku Bunga Acuan

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan terkendalinya inflasi, juga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah naiknya tekanan eksternal terkait meningkatnya risiko stagflasi di berbagai negara.
BACA JUGA:Suku Bunga AS Naik ke Level Tertinggi Sejak 1994, Dampaknya ke Ekonomi RI?

&quot;Berdasarkan assessment secara keseluruhan, Rapat Dewan Gubernur BI pada tanggal 22 sampai 23 Juni memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate sebesar 3,5%,&quot; kata Perry di Jakarta, Kamis (23/6/2022).
Ke depan, ketidakpastian ekonomi global diperkirakan masih akan  tinggi dengan makin mengemukanya risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi  dan peningkatan inflasi global, termasuk sebagai akibat dari makin  meluasnya kebijakan proteksionisme terutama pangan yang ditempuh oleh  berbagai negara.
&quot;Untuk itu, BI terus menempuh berbagai langkah penguatan bauran  kebijakan untuk menjaga stabilitas dan mendukung upaya pemulihan ekonomi  nasional lebih lanjut.&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan di level 3,5%. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada tanggal 22-23 Juni 2022 memutuskan untuk kembali mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate ( BI7DRR ) sebesar 3,5% basis point (bps).
Demikian pula dengan suku bunga Deposit Facility, tetap sebesar 2,75% dan suku bunga Lending Facility tetap di angka di level 4,25%.
BACA JUGA:Bank Indonesia Tak Ingin Buru-Buru Tingkatkan Suku Bunga Acuan

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan terkendalinya inflasi, juga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah naiknya tekanan eksternal terkait meningkatnya risiko stagflasi di berbagai negara.
BACA JUGA:Suku Bunga AS Naik ke Level Tertinggi Sejak 1994, Dampaknya ke Ekonomi RI?

&quot;Berdasarkan assessment secara keseluruhan, Rapat Dewan Gubernur BI pada tanggal 22 sampai 23 Juni memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate sebesar 3,5%,&quot; kata Perry di Jakarta, Kamis (23/6/2022).
Ke depan, ketidakpastian ekonomi global diperkirakan masih akan  tinggi dengan makin mengemukanya risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi  dan peningkatan inflasi global, termasuk sebagai akibat dari makin  meluasnya kebijakan proteksionisme terutama pangan yang ditempuh oleh  berbagai negara.
&quot;Untuk itu, BI terus menempuh berbagai langkah penguatan bauran  kebijakan untuk menjaga stabilitas dan mendukung upaya pemulihan ekonomi  nasional lebih lanjut.&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
