<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Prediksi Bank Indonesia soal Suku Bunga Antar Bank</title><description>Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo semula memperkirakan suku bunga transaksi antar bank pada akhir tahun ini akan naik menjadi 3,25%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/23/320/2616865/prediksi-bank-indonesia-soal-suku-bunga-antar-bank</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/06/23/320/2616865/prediksi-bank-indonesia-soal-suku-bunga-antar-bank"/><item><title>Prediksi Bank Indonesia soal Suku Bunga Antar Bank</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/23/320/2616865/prediksi-bank-indonesia-soal-suku-bunga-antar-bank</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/06/23/320/2616865/prediksi-bank-indonesia-soal-suku-bunga-antar-bank</guid><pubDate>Kamis 23 Juni 2022 15:21 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/06/23/320/2616865/prediksi-bank-indonesia-soal-suku-bunga-antar-bank-rjWyTwK3TW.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (Foto: BI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/06/23/320/2616865/prediksi-bank-indonesia-soal-suku-bunga-antar-bank-rjWyTwK3TW.jpg</image><title>Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (Foto: BI)</title></images><description>JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo semula memperkirakan suku bunga transaksi antar bank pada akhir tahun ini akan naik menjadi 3,25%.

Dengan perkembangan terbaru, BI akhirnya memprediksi suku bunga tersebut akan naik menjadi 3,5% pada tahun ini.

&quot;Pada tahun 2023, akan naik lagi 50 basis poin menjadi 4%,&quot; ujar Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI di Jakarta, Kamis(23/6/2022).
&amp;nbsp;BACA JUGA:Bank Indonesia Tak Ingin Buru-Buru Tingkatkan Suku Bunga Acuan
Dia menyebut pengetatan moneter ditempuh oleh bank-bank sentral terutama di negara-negara yang pertumbuhan ekonominya terus meningkat seperti di AS.

Serta di negara-negara inflasinya tinggi.

Hal itu disebabkan karena tidak adanya ruang fiskal atau menaikkan subsidi di negara-negara tersebut.
&quot;Tidak adanya ruang fiskal bagi negara menyebabkan kenaikan harga komoditas global berdampak pada meningkatnya harga-harga di dalam negeri,&quot; lanjutnya.

Dia menambahkan, bukan hanya The Fed AS, tapi beberapa bank sentral lain di Brazil, India, Malaysia, maupun di sejumlah negara lain juga menaikkan suku bunga.

&quot;Kenaikan suku bunga tentu saja menurunkan permintaan dan juga menurunkan pertumbuhan ekonomi,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo semula memperkirakan suku bunga transaksi antar bank pada akhir tahun ini akan naik menjadi 3,25%.

Dengan perkembangan terbaru, BI akhirnya memprediksi suku bunga tersebut akan naik menjadi 3,5% pada tahun ini.

&quot;Pada tahun 2023, akan naik lagi 50 basis poin menjadi 4%,&quot; ujar Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI di Jakarta, Kamis(23/6/2022).
&amp;nbsp;BACA JUGA:Bank Indonesia Tak Ingin Buru-Buru Tingkatkan Suku Bunga Acuan
Dia menyebut pengetatan moneter ditempuh oleh bank-bank sentral terutama di negara-negara yang pertumbuhan ekonominya terus meningkat seperti di AS.

Serta di negara-negara inflasinya tinggi.

Hal itu disebabkan karena tidak adanya ruang fiskal atau menaikkan subsidi di negara-negara tersebut.
&quot;Tidak adanya ruang fiskal bagi negara menyebabkan kenaikan harga komoditas global berdampak pada meningkatnya harga-harga di dalam negeri,&quot; lanjutnya.

Dia menambahkan, bukan hanya The Fed AS, tapi beberapa bank sentral lain di Brazil, India, Malaysia, maupun di sejumlah negara lain juga menaikkan suku bunga.

&quot;Kenaikan suku bunga tentu saja menurunkan permintaan dan juga menurunkan pertumbuhan ekonomi,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
