<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Utang Luar Negeri Turun, Sinyal Ekonomi Membaik?</title><description>Bank Indonesia mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mengalami penurunan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/26/320/2618403/utang-luar-negeri-turun-sinyal-ekonomi-membaik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/06/26/320/2618403/utang-luar-negeri-turun-sinyal-ekonomi-membaik"/><item><title>Utang Luar Negeri Turun, Sinyal Ekonomi Membaik?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/06/26/320/2618403/utang-luar-negeri-turun-sinyal-ekonomi-membaik</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/06/26/320/2618403/utang-luar-negeri-turun-sinyal-ekonomi-membaik</guid><pubDate>Minggu 26 Juni 2022 10:22 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi VOA</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/06/26/320/2618403/utang-luar-negeri-turun-sinyal-ekonomi-membaik-5OgADX06NA.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Utang Luar Negeri alami penurunan (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/06/26/320/2618403/utang-luar-negeri-turun-sinyal-ekonomi-membaik-5OgADX06NA.jpg</image><title>Utang Luar Negeri alami penurunan (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Bank Indonesia mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mengalami penurunan. Posisi ULN Indonesia pada April 2022 turun menjadi USD409,5 miliar dari sebelumnya USD412,1 miliar pada Februari.
&amp;ldquo;Perkembangan tersebut terutama disebabkan oleh penurunan posisi ULN sektor publik (Pemerintah dan Bank Sentral),&amp;rdquo; ungkap Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dilansir dari VOA, Minggu (26/6/2022).
BACA JUGA:Utang Luar Negeri Indonesia Naik Lagi Dekati Rp6.000 Triliun, Ini Biang Keroknya 

Apakah penurunan utang menjadi sinyal perbaikan ekonomi? Pengamat Ekonomi INDEF Eko Sulityanto menilai penurunan utang yang cukup signfikan ini disebabkan oleh beberapa faktor, terutama adanya utang jatuh tempo yang dibayar oleh pemerintah. Selain itu realisasi defisit fiskal masih terjaga di bawah tiga persen sehingga penyerapan utang cenderung lambat.
&amp;ldquo;Ketika lambat sepertinya Menkeu tahu bahwa ini pun dipaksakan ditambah anggaran tidak akan bisa menyerap lebih bagus, sehingga Menkeu melakukan upaya untuk mengurangi penarikan SBN global yang lebih banyak. Itu yang membuat utang cenderung turun,&amp;rdquo; ungkap Eko
BACA JUGA:Ini Penyebab Utang Luar Negeri RI Turun Jadi di Bawah Rp6.000 Triliun

Selain itu, ujarnya, pembiayaan oleh pemerintah didominasi oleh mata uang rupiah sehingga membantu mengurangi utang luar negeri. Eko melihat bahwa pemerintah cenderung membatasi untuk mengeluarkan global bond.
&amp;ldquo;Tapi over all menurut saya penurunan ini bagus katakanlah untuk membuat optimisme terutama dalam jangka pendek pada stabilitas nilai tukar rupiah, karena ULN dampak jangka pendek yang dikhawatirkan adalah dampaknya terhadap fluktuasi nilai tukar, kalau saat ini ULN turun itu berarti sebetulnya volatilitasnya harusnya juga kelihatan turun,&amp;rdquo; jelasnya.Meski begitu, ia mengatakan penurunan utang ini bukan berarti  pengelolaan utang yang dilakukan oleh pemerintah cukup baik. Pasalnya  pertumbuhan utang tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi yang  dihasilkan. Menurutnya, utang harus bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.
&amp;ldquo;Growth utang kita masih lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan  ekonomi, itu artinya kecepatan (pertumbuhan) utangnya masih lebih  kencang dibandingkan dengan kecepatan PDB-nya. PDB tahun lalu 3,67  persen, atau triwulan pertama lima persen sementara growth utang sekitar  10 persen atau double digit. Jadi, itu yang menggambarkan secara umum  kalau diukur dari sisi apakah sudah cukup baik dalam konteks output,  menurut saya masih menantang,&amp;rdquo; katanya.
Ia mengakui bahwa jika dilihat dari sisi governance, pemerintah  memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi dalam melakukan pembayaran utang  yang sudah jatuh tempo.
&amp;ldquo;ini menggambarkan bahwa seharusnya pemegang bond atau surat utang  Indonesia ya optimis bahwa pemerintah tidak kekurangan uang untuk  membayar utang,&amp;rdquo; katanya.
Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah rasio utang pemerintah  Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) cukup aman? Eko menjawab  bahwa saat ini rasio utang pemerintah terhadap PDB berkisar 39-40 persen  dari PDB. Jika dilihat dari standar yang ditetapkan oleh IMF yakni 60  persen terhadap PDB, utang pemerintah Indonesia masih aman.
Namun, pemerintah, menurut Eko, perlu memperhatikan rasio antara  utang dengan kemampuan negara untuk mengekspor. Dengan booming komoditas  Indonesia yang saat ini sedang tinggi, rasio utang saat ini tentu tidak  menjadi masalah.
Ia mengingatkan booming komoditas hanya berlangsung kurang lebih 2-3  tahun. Jadi, pemerintah perlu waspada apabila nanti terjadi penurunan  ekspor yang cukup signifikan pasca harga komoditas turun.
&amp;ldquo;Jadi itu tantangannya kalau ekspor turun kita harus siap-siap kena  goncangan dari besarnya rasio utang itu terhadap PDB, tapi over all  dikatakan sudah tidak aman ya engga juga. Jadi, kita itu tengah-tengah  dengan angka 40 persen karena buktinya goncangan di ekonomi itu tidak  terjadi dari sisi utang,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Bank Indonesia mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mengalami penurunan. Posisi ULN Indonesia pada April 2022 turun menjadi USD409,5 miliar dari sebelumnya USD412,1 miliar pada Februari.
&amp;ldquo;Perkembangan tersebut terutama disebabkan oleh penurunan posisi ULN sektor publik (Pemerintah dan Bank Sentral),&amp;rdquo; ungkap Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dilansir dari VOA, Minggu (26/6/2022).
BACA JUGA:Utang Luar Negeri Indonesia Naik Lagi Dekati Rp6.000 Triliun, Ini Biang Keroknya 

Apakah penurunan utang menjadi sinyal perbaikan ekonomi? Pengamat Ekonomi INDEF Eko Sulityanto menilai penurunan utang yang cukup signfikan ini disebabkan oleh beberapa faktor, terutama adanya utang jatuh tempo yang dibayar oleh pemerintah. Selain itu realisasi defisit fiskal masih terjaga di bawah tiga persen sehingga penyerapan utang cenderung lambat.
&amp;ldquo;Ketika lambat sepertinya Menkeu tahu bahwa ini pun dipaksakan ditambah anggaran tidak akan bisa menyerap lebih bagus, sehingga Menkeu melakukan upaya untuk mengurangi penarikan SBN global yang lebih banyak. Itu yang membuat utang cenderung turun,&amp;rdquo; ungkap Eko
BACA JUGA:Ini Penyebab Utang Luar Negeri RI Turun Jadi di Bawah Rp6.000 Triliun

Selain itu, ujarnya, pembiayaan oleh pemerintah didominasi oleh mata uang rupiah sehingga membantu mengurangi utang luar negeri. Eko melihat bahwa pemerintah cenderung membatasi untuk mengeluarkan global bond.
&amp;ldquo;Tapi over all menurut saya penurunan ini bagus katakanlah untuk membuat optimisme terutama dalam jangka pendek pada stabilitas nilai tukar rupiah, karena ULN dampak jangka pendek yang dikhawatirkan adalah dampaknya terhadap fluktuasi nilai tukar, kalau saat ini ULN turun itu berarti sebetulnya volatilitasnya harusnya juga kelihatan turun,&amp;rdquo; jelasnya.Meski begitu, ia mengatakan penurunan utang ini bukan berarti  pengelolaan utang yang dilakukan oleh pemerintah cukup baik. Pasalnya  pertumbuhan utang tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi yang  dihasilkan. Menurutnya, utang harus bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.
&amp;ldquo;Growth utang kita masih lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan  ekonomi, itu artinya kecepatan (pertumbuhan) utangnya masih lebih  kencang dibandingkan dengan kecepatan PDB-nya. PDB tahun lalu 3,67  persen, atau triwulan pertama lima persen sementara growth utang sekitar  10 persen atau double digit. Jadi, itu yang menggambarkan secara umum  kalau diukur dari sisi apakah sudah cukup baik dalam konteks output,  menurut saya masih menantang,&amp;rdquo; katanya.
Ia mengakui bahwa jika dilihat dari sisi governance, pemerintah  memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi dalam melakukan pembayaran utang  yang sudah jatuh tempo.
&amp;ldquo;ini menggambarkan bahwa seharusnya pemegang bond atau surat utang  Indonesia ya optimis bahwa pemerintah tidak kekurangan uang untuk  membayar utang,&amp;rdquo; katanya.
Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah rasio utang pemerintah  Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) cukup aman? Eko menjawab  bahwa saat ini rasio utang pemerintah terhadap PDB berkisar 39-40 persen  dari PDB. Jika dilihat dari standar yang ditetapkan oleh IMF yakni 60  persen terhadap PDB, utang pemerintah Indonesia masih aman.
Namun, pemerintah, menurut Eko, perlu memperhatikan rasio antara  utang dengan kemampuan negara untuk mengekspor. Dengan booming komoditas  Indonesia yang saat ini sedang tinggi, rasio utang saat ini tentu tidak  menjadi masalah.
Ia mengingatkan booming komoditas hanya berlangsung kurang lebih 2-3  tahun. Jadi, pemerintah perlu waspada apabila nanti terjadi penurunan  ekspor yang cukup signifikan pasca harga komoditas turun.
&amp;ldquo;Jadi itu tantangannya kalau ekspor turun kita harus siap-siap kena  goncangan dari besarnya rasio utang itu terhadap PDB, tapi over all  dikatakan sudah tidak aman ya engga juga. Jadi, kita itu tengah-tengah  dengan angka 40 persen karena buktinya goncangan di ekonomi itu tidak  terjadi dari sisi utang,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
