<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Inflasi Juni Capai 4,35%, Harga-Harga pada Naik</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 4,35% (yoy) pada Juni 2022.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/02/320/2622301/inflasi-juni-capai-4-35-harga-harga-pada-naik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/07/02/320/2622301/inflasi-juni-capai-4-35-harga-harga-pada-naik"/><item><title>Inflasi Juni Capai 4,35%, Harga-Harga pada Naik</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/02/320/2622301/inflasi-juni-capai-4-35-harga-harga-pada-naik</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/07/02/320/2622301/inflasi-juni-capai-4-35-harga-harga-pada-naik</guid><pubDate>Sabtu 02 Juli 2022 12:25 WIB</pubDate><dc:creator>Heri Purnomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/07/02/320/2622301/inflasi-juni-capai-4-35-harga-harga-pada-naik-Y9n5HCDXtd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Inflasi tinggi sinyal bahaya bagi ekonomi (Foto: halomoney)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/07/02/320/2622301/inflasi-juni-capai-4-35-harga-harga-pada-naik-Y9n5HCDXtd.jpg</image><title>Inflasi tinggi sinyal bahaya bagi ekonomi (Foto: halomoney)</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 4,35% (yoy) pada Juni 2022. Inflasi tahunan yang berada di atas 4% ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2017 lalu.
Adapun, penyumbang kenaikan inflasi tersebut yakni, kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,47% atau terjadi inflasi 1,77% (mtm) serta Komoditas cabai merah sebesar 0,24%.
BACA JUGA:Inflasi Juni Tertinggi Sejak 2017, Lampu Kuning untuk Ekonomi Indonesia

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memprediksi kenaikan inflasi akan kembali terjadi pada penutupan akhir tahun 2022.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad melihat pada pertengahan tahun 2022 inflasi Indonesia sudah mencapai angka 4,35% secara tahunan dan kemungkinan besar akan terjadi kenaikan lagi jika kondisi penyebab inflasi tidak segera diatasi.
BACA JUGA:Inflasi Tertinggi Sejak 2017, BI Enggan Naikkan Suku Bunga

&quot;Ya kalau kita lihat ini kan baru pertengahan tahun. Sekarang kalau kita lihat year to year nya kan 4,35%  dan itu sudah dibatas angka psikologis  begitu ya. Kalau pada bulan Juni 2022 inflasi tercatat sebesar 0,61% month on month (mom), nah itu kita bisa kita hitung,&quot; ujarnya kepada MNC portal, dikutip Sabtu (2/7/2022).
&quot;Rata rata katakanlah sekarang kan inflasi bulananya 0,6%, katakkanlah ambil yang lebih rendah,  mislanya 0,4%, kemudain saat ini masih pertengahan tahun. Berartikan masih  masih ada enam bulan lagi, kalau 0,4 saja kali 6 bulan berarti 2,4%. Maka otomatis inflasi bisa tembus di atas 6 dan itu pertama kali dalam sejarah nanti bahwa sejak era inflasi rendah,&quot; tambahnya.Tauhid Ahmad mengatakan dalam kondisi seperti sekarang ini,  pemerintah perlu mengendalikan komoditas yang menjadi penyebab inflasi  mengalami kenaikan.
&quot;Jadi saya kira itu harus diantisipasi dengan menyediakan cadangan  terutama makan dan minuman. dan pemerintah harus melepasnya dipasar atau  operasi pasar dan saya kira itu menjadi salah satu strategi,&quot; katanya.
Selain itu, pemerintah harus memperbaiki jalur distribusi yang selama ini mengakibatkan harga-harga mengalami kenaikan.
&quot;Seperti kasus minyak gorengkan problemnya terkait distribusi, saya  kira yang lain juga seperti itu dan itu harus dikurangi sehingga bisa  menekan dan bisa mengefesiensikan biaya logistik ataupun biaya  distribusi,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 4,35% (yoy) pada Juni 2022. Inflasi tahunan yang berada di atas 4% ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2017 lalu.
Adapun, penyumbang kenaikan inflasi tersebut yakni, kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,47% atau terjadi inflasi 1,77% (mtm) serta Komoditas cabai merah sebesar 0,24%.
BACA JUGA:Inflasi Juni Tertinggi Sejak 2017, Lampu Kuning untuk Ekonomi Indonesia

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memprediksi kenaikan inflasi akan kembali terjadi pada penutupan akhir tahun 2022.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad melihat pada pertengahan tahun 2022 inflasi Indonesia sudah mencapai angka 4,35% secara tahunan dan kemungkinan besar akan terjadi kenaikan lagi jika kondisi penyebab inflasi tidak segera diatasi.
BACA JUGA:Inflasi Tertinggi Sejak 2017, BI Enggan Naikkan Suku Bunga

&quot;Ya kalau kita lihat ini kan baru pertengahan tahun. Sekarang kalau kita lihat year to year nya kan 4,35%  dan itu sudah dibatas angka psikologis  begitu ya. Kalau pada bulan Juni 2022 inflasi tercatat sebesar 0,61% month on month (mom), nah itu kita bisa kita hitung,&quot; ujarnya kepada MNC portal, dikutip Sabtu (2/7/2022).
&quot;Rata rata katakanlah sekarang kan inflasi bulananya 0,6%, katakkanlah ambil yang lebih rendah,  mislanya 0,4%, kemudain saat ini masih pertengahan tahun. Berartikan masih  masih ada enam bulan lagi, kalau 0,4 saja kali 6 bulan berarti 2,4%. Maka otomatis inflasi bisa tembus di atas 6 dan itu pertama kali dalam sejarah nanti bahwa sejak era inflasi rendah,&quot; tambahnya.Tauhid Ahmad mengatakan dalam kondisi seperti sekarang ini,  pemerintah perlu mengendalikan komoditas yang menjadi penyebab inflasi  mengalami kenaikan.
&quot;Jadi saya kira itu harus diantisipasi dengan menyediakan cadangan  terutama makan dan minuman. dan pemerintah harus melepasnya dipasar atau  operasi pasar dan saya kira itu menjadi salah satu strategi,&quot; katanya.
Selain itu, pemerintah harus memperbaiki jalur distribusi yang selama ini mengakibatkan harga-harga mengalami kenaikan.
&quot;Seperti kasus minyak gorengkan problemnya terkait distribusi, saya  kira yang lain juga seperti itu dan itu harus dikurangi sehingga bisa  menekan dan bisa mengefesiensikan biaya logistik ataupun biaya  distribusi,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
