<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rupiah Nyaris Rp15.000/USD, Ekonom: Picu Kenaikan Biaya Impor</title><description>Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (AS) nyaris menembus Rp15.000 per USD.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/05/320/2623700/rupiah-nyaris-rp15-000-usd-ekonom-picu-kenaikan-biaya-impor</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/07/05/320/2623700/rupiah-nyaris-rp15-000-usd-ekonom-picu-kenaikan-biaya-impor"/><item><title>Rupiah Nyaris Rp15.000/USD, Ekonom: Picu Kenaikan Biaya Impor</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/05/320/2623700/rupiah-nyaris-rp15-000-usd-ekonom-picu-kenaikan-biaya-impor</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/07/05/320/2623700/rupiah-nyaris-rp15-000-usd-ekonom-picu-kenaikan-biaya-impor</guid><pubDate>Selasa 05 Juli 2022 09:10 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/07/05/320/2623700/rupiah-nyaris-rp15-000-usd-ekonom-picu-kenaikan-biaya-impor-k0vRhgdug5.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Rupiah melemah nyaris Rp15.000 (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/07/05/320/2623700/rupiah-nyaris-rp15-000-usd-ekonom-picu-kenaikan-biaya-impor-k0vRhgdug5.jpeg</image><title>Rupiah melemah nyaris Rp15.000 (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) nyaris menembus Rp15.000 per USD. Hingga hari ini, kurs Rupiah sudah berada di level Rp14.985 per USD.
Menanggapi hal ini, ekonom sekaligus Direktur CELIOS Bhima Yudhistira mengatakan bahwa pelemahan kurs dikhawatirkan memicu imported inflation atau kenaikan biaya impor terutama pangan.
BACA JUGA:Rupiah Nyaris Rp15.000/USD, Tingginya Inflasi Juni Jadi Biang Kerok
&quot;Sejauh ini imported inflation belum dirasakan karena produsen masih menahan harga di tingkat konsumen. Tapi ketika beban biaya impor sudah naik signifikan akibat selisih kurs maka imbasnya ke konsumen juga,&quot; ungkap Bhima kepada MNC Portal di Jakarta, Selasa(5/7/2022).
BACA JUGA:Buruan Daftar Kartu Prakerja Gelombang 35, Ada Jutaan Rupiah yang Bisa Didapat!
Dia mengatakan, beban utang luar negeri sektor swasta meningkat, karena pendapatan sebagian besar diperoleh dalam bentuk rupiah sementara bunga dan cicilan pokok berbentuk valas.&quot;Situasi currency missmatch akan mendorong swasta lakukan berbagai  cara salah satunya efisiensi operasional. Tidak semua perusahaan swasta  yang memiliki ULN lakukan hedging,&quot; terang Bhima.
Selain itu, pelemahan kurs rupiah mendorong percepatan kenaikan suku bunga acuan.
&quot;BI perlu naikkan 25-50 bps suku bunga untuk tahan aliran modal  keluar. Tapi, menaikkan suku bunga acuan berimbas kepada pelaku usaha  korporasi, UMKM maupun konsumen. Cicilan KPR dan kendaraan bermotor bisa  lebih mahal,&quot; pungkas Bhima.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) nyaris menembus Rp15.000 per USD. Hingga hari ini, kurs Rupiah sudah berada di level Rp14.985 per USD.
Menanggapi hal ini, ekonom sekaligus Direktur CELIOS Bhima Yudhistira mengatakan bahwa pelemahan kurs dikhawatirkan memicu imported inflation atau kenaikan biaya impor terutama pangan.
BACA JUGA:Rupiah Nyaris Rp15.000/USD, Tingginya Inflasi Juni Jadi Biang Kerok
&quot;Sejauh ini imported inflation belum dirasakan karena produsen masih menahan harga di tingkat konsumen. Tapi ketika beban biaya impor sudah naik signifikan akibat selisih kurs maka imbasnya ke konsumen juga,&quot; ungkap Bhima kepada MNC Portal di Jakarta, Selasa(5/7/2022).
BACA JUGA:Buruan Daftar Kartu Prakerja Gelombang 35, Ada Jutaan Rupiah yang Bisa Didapat!
Dia mengatakan, beban utang luar negeri sektor swasta meningkat, karena pendapatan sebagian besar diperoleh dalam bentuk rupiah sementara bunga dan cicilan pokok berbentuk valas.&quot;Situasi currency missmatch akan mendorong swasta lakukan berbagai  cara salah satunya efisiensi operasional. Tidak semua perusahaan swasta  yang memiliki ULN lakukan hedging,&quot; terang Bhima.
Selain itu, pelemahan kurs rupiah mendorong percepatan kenaikan suku bunga acuan.
&quot;BI perlu naikkan 25-50 bps suku bunga untuk tahan aliran modal  keluar. Tapi, menaikkan suku bunga acuan berimbas kepada pelaku usaha  korporasi, UMKM maupun konsumen. Cicilan KPR dan kendaraan bermotor bisa  lebih mahal,&quot; pungkas Bhima.</content:encoded></item></channel></rss>
