<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>R&amp;I Pertahankan Peringkat Utang Indonesia, Gubernur BI: Stabilitas Makroekonomi Terjaga</title><description>R&amp;amp;I kembali mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada BBB+ (Investment Grade).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/05/320/2623723/r-i-pertahankan-peringkat-utang-indonesia-gubernur-bi-stabilitas-makroekonomi-terjaga</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/07/05/320/2623723/r-i-pertahankan-peringkat-utang-indonesia-gubernur-bi-stabilitas-makroekonomi-terjaga"/><item><title>R&amp;I Pertahankan Peringkat Utang Indonesia, Gubernur BI: Stabilitas Makroekonomi Terjaga</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/05/320/2623723/r-i-pertahankan-peringkat-utang-indonesia-gubernur-bi-stabilitas-makroekonomi-terjaga</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/07/05/320/2623723/r-i-pertahankan-peringkat-utang-indonesia-gubernur-bi-stabilitas-makroekonomi-terjaga</guid><pubDate>Selasa 05 Juli 2022 09:46 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/07/05/320/2623723/r-i-pertahankan-peringkat-utang-indonesia-gubernur-bi-stabilitas-makroekonomi-terjaga-FeReNEgQ35.jpg" expression="full" type="image/jpeg">R&amp;I pertahankan peringkat utang Indonesia (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/07/05/320/2623723/r-i-pertahankan-peringkat-utang-indonesia-gubernur-bi-stabilitas-makroekonomi-terjaga-FeReNEgQ35.jpg</image><title>R&amp;I pertahankan peringkat utang Indonesia (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Lembaga Pemeringkat Rating and Investment Information, Inc. (R&amp;amp;I) kembali mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada BBB+ (Investment Grade) dengan outlook stabil pada 4 Juli 2022.
Keputusan ini mempertimbangkan terjaganya stabilitas eksternal Indonesia yang didukung oleh momentum pemulihan ekonomi yang terus berlanjut dan perbaikan postur fiskal. R&amp;amp;I melihat kebijakan moneter masih memiliki ruang di tengah inflasi yang meningkat secara gradual, dan perbaikan fiskal didukung kenaikan harga komoditas.
BACA JUGA:S&amp;amp;P Naikkan Outlook RI Jadi Stabil, Pertahankan Investment Grade

Menanggapi keputusan R&amp;amp;I tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyatakan afirmasi rating Indonesia pada peringkat BBB+ dengan outlook stabil menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi, peningkatan risiko stagflasi seiring kenaikan suku bunga kebijakan secara global di tengah ekonomi yang baru pulih, serta makin luasnya kebijakan proteksionisme oleh berbagai negara, pemangku kepentingan internasional tetap memiliki keyakinan yang kuat atas terjaganya stabilitas makroekonomi dan prospek ekonomi jangka menengah Indonesia.
BACA JUGA:Gandeng Jet Investment Group, PTDI Jual CN235 ke Pasar Dunia

&quot;Hal ini didukung oleh kredibilitas kebijakan yang tinggi serta sinergi bauran kebijakan yang kuat antara Bank Indonesia dan Pemerintah. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan ekonomi dan keuangan global dan domestik, merumuskan dan melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan stabilitas keuangan, termasuk penyesuaian lebih lanjut stance kebijakan bila diperlukan, serta terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional,&quot; ujar Perry dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Selasa(5/7/2022).
R&amp;amp;I memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh kuat pada 2022, dimana Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan PDB akan berada pada kisaran 4,8%-5,5% pada 2022.Untuk meredam dampak kenaikan harga komoditas global terhadap  inflasi, Pemerintah telah menaikkan alokasi subsidi dan belanja sosial  (shock absorber), yang akan dibiayai melalui peningkatan penerimaan  sejalan dengan tingginya harga komoditas. Pemerintah memperkirakan  defisit fiskal pada 2022 sebesar 3,9% dari PDB, menurun dibandingkan  4,6% dari PDB pada 2021. Rasio utang Pemerintah yang tercatat sebesar  40,7% dari PDB pada akhir 2021, masih lebih rendah dibandingkan negara  peer.
Pada sisi eksternal, neraca transaksi berjalan mencatatkan surplus  pada 2021, didukung oleh perbaikan terms of trade seiring kenaikan harga  komoditas, dan kembali mencatatkan surplus pada triwulan I-2022.  Transaksi berjalan diperkirakan akan kembali defisit pada 2022 pada  kisaran yang terkendali, sehingga mendukung ketahanan eksternal  Indonesia. Cadangan devisa pada akhir Mei 2022 tercatat USD135,6 miliar,  setara dengan lebih dari enam bulan impor dan pembayaran utang luar  negeri pemerintah, serta jauh di atas utang luar negeri Indonesia yang  jatuh tempo dalam satu tahun.
R&amp;amp;I sebelumnya mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik  Indonesia pada BBB+ dengan outlook stabil (dua level di atas tingkat  terendah Investment Grade) pada 22 April 2021.</description><content:encoded>JAKARTA - Lembaga Pemeringkat Rating and Investment Information, Inc. (R&amp;amp;I) kembali mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada BBB+ (Investment Grade) dengan outlook stabil pada 4 Juli 2022.
Keputusan ini mempertimbangkan terjaganya stabilitas eksternal Indonesia yang didukung oleh momentum pemulihan ekonomi yang terus berlanjut dan perbaikan postur fiskal. R&amp;amp;I melihat kebijakan moneter masih memiliki ruang di tengah inflasi yang meningkat secara gradual, dan perbaikan fiskal didukung kenaikan harga komoditas.
BACA JUGA:S&amp;amp;P Naikkan Outlook RI Jadi Stabil, Pertahankan Investment Grade

Menanggapi keputusan R&amp;amp;I tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyatakan afirmasi rating Indonesia pada peringkat BBB+ dengan outlook stabil menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi, peningkatan risiko stagflasi seiring kenaikan suku bunga kebijakan secara global di tengah ekonomi yang baru pulih, serta makin luasnya kebijakan proteksionisme oleh berbagai negara, pemangku kepentingan internasional tetap memiliki keyakinan yang kuat atas terjaganya stabilitas makroekonomi dan prospek ekonomi jangka menengah Indonesia.
BACA JUGA:Gandeng Jet Investment Group, PTDI Jual CN235 ke Pasar Dunia

&quot;Hal ini didukung oleh kredibilitas kebijakan yang tinggi serta sinergi bauran kebijakan yang kuat antara Bank Indonesia dan Pemerintah. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan ekonomi dan keuangan global dan domestik, merumuskan dan melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan stabilitas keuangan, termasuk penyesuaian lebih lanjut stance kebijakan bila diperlukan, serta terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional,&quot; ujar Perry dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Selasa(5/7/2022).
R&amp;amp;I memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh kuat pada 2022, dimana Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan PDB akan berada pada kisaran 4,8%-5,5% pada 2022.Untuk meredam dampak kenaikan harga komoditas global terhadap  inflasi, Pemerintah telah menaikkan alokasi subsidi dan belanja sosial  (shock absorber), yang akan dibiayai melalui peningkatan penerimaan  sejalan dengan tingginya harga komoditas. Pemerintah memperkirakan  defisit fiskal pada 2022 sebesar 3,9% dari PDB, menurun dibandingkan  4,6% dari PDB pada 2021. Rasio utang Pemerintah yang tercatat sebesar  40,7% dari PDB pada akhir 2021, masih lebih rendah dibandingkan negara  peer.
Pada sisi eksternal, neraca transaksi berjalan mencatatkan surplus  pada 2021, didukung oleh perbaikan terms of trade seiring kenaikan harga  komoditas, dan kembali mencatatkan surplus pada triwulan I-2022.  Transaksi berjalan diperkirakan akan kembali defisit pada 2022 pada  kisaran yang terkendali, sehingga mendukung ketahanan eksternal  Indonesia. Cadangan devisa pada akhir Mei 2022 tercatat USD135,6 miliar,  setara dengan lebih dari enam bulan impor dan pembayaran utang luar  negeri pemerintah, serta jauh di atas utang luar negeri Indonesia yang  jatuh tempo dalam satu tahun.
R&amp;amp;I sebelumnya mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik  Indonesia pada BBB+ dengan outlook stabil (dua level di atas tingkat  terendah Investment Grade) pada 22 April 2021.</content:encoded></item></channel></rss>
