<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rupiah Menguat Tipis di Level Rp14.926/USD</title><description>Nilai tukar rupiah terus mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Sempat ke Rp15.000 per 1 dolar Amerika Serikat, mata uang Garuda bergerak fluktuatif dan cenderung menguat 0,16% di Rp14.976, pada Kamis (7/7/2022), pukul 09.29 WIB.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/07/320/2625159/rupiah-menguat-tipis-di-level-rp14-926-usd</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/07/07/320/2625159/rupiah-menguat-tipis-di-level-rp14-926-usd"/><item><title>Rupiah Menguat Tipis di Level Rp14.926/USD</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/07/320/2625159/rupiah-menguat-tipis-di-level-rp14-926-usd</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/07/07/320/2625159/rupiah-menguat-tipis-di-level-rp14-926-usd</guid><pubDate>Kamis 07 Juli 2022 10:41 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/07/07/320/2625159/rupiah-menguat-tipis-di-level-rp14-926-usd-iOCTBjfnBM.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Rupiah. (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/07/07/320/2625159/rupiah-menguat-tipis-di-level-rp14-926-usd-iOCTBjfnBM.JPG</image><title>Rupiah. (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Nilai tukar rupiah terus mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Sempat ke Rp15.000 per 1 dolar Amerika Serikat, mata uang Garuda bergerak fluktuatif dan cenderung menguat 0,16% di Rp14.976, pada Kamis (7/7/2022), pukul 09.29 WIB.

Di tengah depresiasi mata uang nasional, sejumlah analis menilai terdapat emiten yang justru mendapat berkah, yakni perusahaan yang melakukan transaksi pendapatan dengan memakai kurs dolar.

&quot;Untuk emiten yang diuntungkan adalah emiten yang memiliki aktivitas bisnis dengan pendapatannya dalam bentuk dollar, sehingga apabila mencatat pembukuan keuangan dalam bentuk rupiah, maka ketika dikurskan dalam bentuk rupiah akan meningkat,&quot; kata Financial Expert PT Ajaib Sekuritas Asia, Chisty Maryani saat dihubungi MNC Portal Indonesia, dikutip Kamis (7/7/2022).
&amp;nbsp;BACA JUGA:Rupiah Rp15.000/USD, Waspada Inflasi Ikut Meroket
Komoditas batu bara menjadi ladang penghasilan bagi perusahaan eksportir untuk memanfaatkan cuan saat harga batu bara masih berada di level tertingginya.

Chisty menyebut tiga emiten yakni PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Harum Energy Tbk (HRUM)
&quot;Emiten tersebut juga dapat katalis positif dari kenaikan harga komoditas batubara karena gangguan rantai pasok global di tengah demand yang tinggi akan batubara,&quot; ujarnya.

Chisty juga merinci sejumlah sektor yang patut diwaspadai pelemahan kurs terjadi cukup lama. Beberapa emiten yang dimaksud adalah perusahaan yang memiliki pendapatan dalam bentuk rupiah namun mempunyai porsi utang yang besar dalam denominasi dollar AS.

&quot;Terlebih jika utang tersebut dengan metode floating yang tentunya besaran bunga akan mengikuti kenaikan suku bunga,&quot; ucapnya.

Selanjutnya adalah emiten yang melakukan kegiatan bisnis dengan skema impor bahan baku, dan melakukan penjualan di pasar domestik.

&quot;Mereka yang tidak memiliki porsi penjualan ekspor yang besar juga akan terdampak pelemahan mata uang rupiah terhadap dollar,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Nilai tukar rupiah terus mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Sempat ke Rp15.000 per 1 dolar Amerika Serikat, mata uang Garuda bergerak fluktuatif dan cenderung menguat 0,16% di Rp14.976, pada Kamis (7/7/2022), pukul 09.29 WIB.

Di tengah depresiasi mata uang nasional, sejumlah analis menilai terdapat emiten yang justru mendapat berkah, yakni perusahaan yang melakukan transaksi pendapatan dengan memakai kurs dolar.

&quot;Untuk emiten yang diuntungkan adalah emiten yang memiliki aktivitas bisnis dengan pendapatannya dalam bentuk dollar, sehingga apabila mencatat pembukuan keuangan dalam bentuk rupiah, maka ketika dikurskan dalam bentuk rupiah akan meningkat,&quot; kata Financial Expert PT Ajaib Sekuritas Asia, Chisty Maryani saat dihubungi MNC Portal Indonesia, dikutip Kamis (7/7/2022).
&amp;nbsp;BACA JUGA:Rupiah Rp15.000/USD, Waspada Inflasi Ikut Meroket
Komoditas batu bara menjadi ladang penghasilan bagi perusahaan eksportir untuk memanfaatkan cuan saat harga batu bara masih berada di level tertingginya.

Chisty menyebut tiga emiten yakni PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Harum Energy Tbk (HRUM)
&quot;Emiten tersebut juga dapat katalis positif dari kenaikan harga komoditas batubara karena gangguan rantai pasok global di tengah demand yang tinggi akan batubara,&quot; ujarnya.

Chisty juga merinci sejumlah sektor yang patut diwaspadai pelemahan kurs terjadi cukup lama. Beberapa emiten yang dimaksud adalah perusahaan yang memiliki pendapatan dalam bentuk rupiah namun mempunyai porsi utang yang besar dalam denominasi dollar AS.

&quot;Terlebih jika utang tersebut dengan metode floating yang tentunya besaran bunga akan mengikuti kenaikan suku bunga,&quot; ucapnya.

Selanjutnya adalah emiten yang melakukan kegiatan bisnis dengan skema impor bahan baku, dan melakukan penjualan di pasar domestik.

&quot;Mereka yang tidak memiliki porsi penjualan ekspor yang besar juga akan terdampak pelemahan mata uang rupiah terhadap dollar,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
