<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>28.000 Lowongan Kerja Dibuka Di Industri Batang</title><description>Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) Jawa Tengah memerlukan ribuan tenaga kerja.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/07/320/2625601/28-000-lowongan-kerja-dibuka-di-industri-batang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/07/07/320/2625601/28-000-lowongan-kerja-dibuka-di-industri-batang"/><item><title>28.000 Lowongan Kerja Dibuka Di Industri Batang</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/07/320/2625601/28-000-lowongan-kerja-dibuka-di-industri-batang</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/07/07/320/2625601/28-000-lowongan-kerja-dibuka-di-industri-batang</guid><pubDate>Kamis 07 Juli 2022 19:28 WIB</pubDate><dc:creator>Arif Budianto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/07/07/320/2625601/28-000-lowongan-kerja-dibuka-di-industri-batang-jO9EGOrrn8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Lowongan kerja kawasan industri (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/07/07/320/2625601/28-000-lowongan-kerja-dibuka-di-industri-batang-jO9EGOrrn8.jpg</image><title>Lowongan kerja kawasan industri (Foto: Okezone)</title></images><description>BANDUNG - Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) Jawa Tengah memerlukan ribuan tenaga kerja. Dalam beberapa tahun ke depan, kawasan tersebut memerlukan setidaknya 28.000 tenaga kerja terampil.
&quot;Kebutuhan tenaga kerja di sana sekitar 20.000-an orang, dalam jangka panjang bisa 28.000-an orang. Ini yang harus kita  siapkan. Bagaimana pekerja lokal tidak jadi penonton, tapi menjadi pekerja di daerahnya sendiri, &quot; kata Deputi II Kantor Staf Presiden (KSP) Abetnego Tarigan, Kamis (7/7/2022).
BACA JUGA:Deretan Masalah Kawasan Industri dari Infrastruktur Belum Mumpuni hingga Perizinan

Menurut dia, pihaknya saat ini konsen mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) lokal agar memenuhi kebutuhan industri di kawasan tersebut. Saat ini, setidaknya sudah ada 10 investor yang siap beroperasi di KITB. Mereka bergerak di berbagai bidang.
&quot;Kita terus lakukan upaya agar pekerja lokal bisa terserap. Tapi selama ini memang antara kebutuhan dan kesiapan perlu disiapkan. Ini yang terus kita dorong agar mereka punya skil sesuai kebutuhan.  Ini proses yang kita dorong agar terjadi mitch mach, &quot; jelas dia.
BACA JUGA:Kawasan Industri Beralih ke Eco Industrial Park, Simak Keuntungannya

Digelarnya FGD ini, kata dia, untuk mengetahui kebutuhan industri. Sehingga nantinya diharapkan tidak mendatangkan pekerja dari jauh. Mereka harus disiapkan  soal softskill, daya tahan, dan lainnya. Nantinya mereka akan dilatih melalui pelatihan BLK, SMK, dan lainnya.
Focus Group Discussion (FGD) kali ini melibatkan antar pemangku kepentingan, mulai dari tingkat kementerian, antara lain; Kemendikbud Ristek RI, Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Perindustrian, Bappenas, Kemenparekraf. Untuk tingkat pemerintah daerah, tingkat Provinsi Jawa Tengah, diantaranya Sekretaris Daerah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi. Sementara untuk Daerah tingkat II, akan melibatkan dua Kabupaten, Batang dan Cilacap.Direktur Operasi &amp;amp; Teknik KITB Adler Manarissan Siahaan  mengatakan, kawasan industri Terpadu Batang dengan branding &amp;ldquo;Grand  Batang City&amp;rdquo; ini merupakan fast growing company yang masuk dalam Proyek  Strategis Nasional. Kawasan ini dengan total luasan 4.300 hektare yang  dibagi menjadi 3 Klaster yakni Creation, Innovation dan Leisure.
&quot;Saat ini, pada fase 1 ada 450 hektare dari klaster 1 sudah berhasil  sold out dalam waktu kurang dari 2 tahun. Terdapat 12 investor yang  sudah berkomitmen. Tujuh investor diantaranya sudah melaksanakan  Perjanjian Pemanfaatan Tanah Industri di Grand Batang City, &quot; jelas dia.
Menurut dia, kegiatan ini menindaklanjuti terkait isu tenaga kerja  sebagaimana amanah Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya di KITB pada  tanggal 21 April 2021 dan instruksi dari Kantor Staf Presiden (KSP).  Penyelenggaraan FGD ini sebagai dukungan kepada Pemerintah, berdasarkan  Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2019, tentang pengendalian program  prioritas nasional dan pengelolaan isu strategis.
Salah satu prioritas utama dibentuknya KITB adalah untuk mendukung  penyediaan SDM di Indonesia, utamanya di Provinsi Jawa Tengah.  Menuju  cita-cita bersama dalam membangun SDM yang terampil, menguasai ilmu  pengetahuan dan teknologi. Kerja sama dengan berbagai sektor seperti  industri, pemerintah, swasta dan lainnya penting dioptimalkan.
Sementara Grand Batang City merupakan sebuah proyek ambisius di mana  Pemerintah Indonesia menyiapkan infrastruktur yang berkualitas.  &amp;ldquo;Kegiatan FGD dan Rapat Koordinasi ini sebagai katalisator penggerak  ekonomi dari sisi suprastrukturnya untuk masa depan&amp;rdquo; imbuh Budi Reing  Wirawan, GM Human Capital Management PT KITB.</description><content:encoded>BANDUNG - Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) Jawa Tengah memerlukan ribuan tenaga kerja. Dalam beberapa tahun ke depan, kawasan tersebut memerlukan setidaknya 28.000 tenaga kerja terampil.
&quot;Kebutuhan tenaga kerja di sana sekitar 20.000-an orang, dalam jangka panjang bisa 28.000-an orang. Ini yang harus kita  siapkan. Bagaimana pekerja lokal tidak jadi penonton, tapi menjadi pekerja di daerahnya sendiri, &quot; kata Deputi II Kantor Staf Presiden (KSP) Abetnego Tarigan, Kamis (7/7/2022).
BACA JUGA:Deretan Masalah Kawasan Industri dari Infrastruktur Belum Mumpuni hingga Perizinan

Menurut dia, pihaknya saat ini konsen mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) lokal agar memenuhi kebutuhan industri di kawasan tersebut. Saat ini, setidaknya sudah ada 10 investor yang siap beroperasi di KITB. Mereka bergerak di berbagai bidang.
&quot;Kita terus lakukan upaya agar pekerja lokal bisa terserap. Tapi selama ini memang antara kebutuhan dan kesiapan perlu disiapkan. Ini yang terus kita dorong agar mereka punya skil sesuai kebutuhan.  Ini proses yang kita dorong agar terjadi mitch mach, &quot; jelas dia.
BACA JUGA:Kawasan Industri Beralih ke Eco Industrial Park, Simak Keuntungannya

Digelarnya FGD ini, kata dia, untuk mengetahui kebutuhan industri. Sehingga nantinya diharapkan tidak mendatangkan pekerja dari jauh. Mereka harus disiapkan  soal softskill, daya tahan, dan lainnya. Nantinya mereka akan dilatih melalui pelatihan BLK, SMK, dan lainnya.
Focus Group Discussion (FGD) kali ini melibatkan antar pemangku kepentingan, mulai dari tingkat kementerian, antara lain; Kemendikbud Ristek RI, Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Perindustrian, Bappenas, Kemenparekraf. Untuk tingkat pemerintah daerah, tingkat Provinsi Jawa Tengah, diantaranya Sekretaris Daerah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi. Sementara untuk Daerah tingkat II, akan melibatkan dua Kabupaten, Batang dan Cilacap.Direktur Operasi &amp;amp; Teknik KITB Adler Manarissan Siahaan  mengatakan, kawasan industri Terpadu Batang dengan branding &amp;ldquo;Grand  Batang City&amp;rdquo; ini merupakan fast growing company yang masuk dalam Proyek  Strategis Nasional. Kawasan ini dengan total luasan 4.300 hektare yang  dibagi menjadi 3 Klaster yakni Creation, Innovation dan Leisure.
&quot;Saat ini, pada fase 1 ada 450 hektare dari klaster 1 sudah berhasil  sold out dalam waktu kurang dari 2 tahun. Terdapat 12 investor yang  sudah berkomitmen. Tujuh investor diantaranya sudah melaksanakan  Perjanjian Pemanfaatan Tanah Industri di Grand Batang City, &quot; jelas dia.
Menurut dia, kegiatan ini menindaklanjuti terkait isu tenaga kerja  sebagaimana amanah Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya di KITB pada  tanggal 21 April 2021 dan instruksi dari Kantor Staf Presiden (KSP).  Penyelenggaraan FGD ini sebagai dukungan kepada Pemerintah, berdasarkan  Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2019, tentang pengendalian program  prioritas nasional dan pengelolaan isu strategis.
Salah satu prioritas utama dibentuknya KITB adalah untuk mendukung  penyediaan SDM di Indonesia, utamanya di Provinsi Jawa Tengah.  Menuju  cita-cita bersama dalam membangun SDM yang terampil, menguasai ilmu  pengetahuan dan teknologi. Kerja sama dengan berbagai sektor seperti  industri, pemerintah, swasta dan lainnya penting dioptimalkan.
Sementara Grand Batang City merupakan sebuah proyek ambisius di mana  Pemerintah Indonesia menyiapkan infrastruktur yang berkualitas.  &amp;ldquo;Kegiatan FGD dan Rapat Koordinasi ini sebagai katalisator penggerak  ekonomi dari sisi suprastrukturnya untuk masa depan&amp;rdquo; imbuh Budi Reing  Wirawan, GM Human Capital Management PT KITB.</content:encoded></item></channel></rss>
