<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wamenparekraf: Ekowisata Harus Jadi Unique Selling Point Pariwisata Indonesia ke Dunia</title><description>Indonesia adalah negara dengan kekayaan sumber daya alam dan budaya yang besar memiliki potensi ekowisata untuk dikembangkan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/07/320/2625625/wamenparekraf-ekowisata-harus-jadi-unique-selling-point-pariwisata-indonesia-ke-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/07/07/320/2625625/wamenparekraf-ekowisata-harus-jadi-unique-selling-point-pariwisata-indonesia-ke-dunia"/><item><title>Wamenparekraf: Ekowisata Harus Jadi Unique Selling Point Pariwisata Indonesia ke Dunia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/07/320/2625625/wamenparekraf-ekowisata-harus-jadi-unique-selling-point-pariwisata-indonesia-ke-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/07/07/320/2625625/wamenparekraf-ekowisata-harus-jadi-unique-selling-point-pariwisata-indonesia-ke-dunia</guid><pubDate>Kamis 07 Juli 2022 20:00 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/07/07/320/2625625/wamenparekraf-ekowisata-harus-jadi-unique-selling-point-pariwisata-indonesia-ke-dunia-dGAQK1g4KL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo sebut ekowisata jadi unique selling point Indonesia (Foto: Kemenparekraf)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/07/07/320/2625625/wamenparekraf-ekowisata-harus-jadi-unique-selling-point-pariwisata-indonesia-ke-dunia-dGAQK1g4KL.jpg</image><title>Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo sebut ekowisata jadi unique selling point Indonesia (Foto: Kemenparekraf)</title></images><description>BALI &amp;ndash; Indonesia adalah negara dengan kekayaan sumber daya alam dan budaya yang besar memiliki potensi ekowisata untuk dikembangkan. Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo menilai hal ini bisa menjadi unique selling point pariwisata dan ekonomi kreatif, sehingga dapat meningkatkan dampak positif terhadap keberlanjutan lingkungan dan masyarakat.
Wamenparekraf/Wakabaparekraf Angela Tanoesoedibjo --yang juga Wakil Ketua Umum Partai Perindo Bidang Ekonomi Digital &amp;amp; Kreatif-- saat menyampaikan welcoming remarks dalam rangkaian acara peluncuran program &quot;Towards Climate Positive Tourism Through Decarbonization And Eco-Tourism&quot;, Kamis (7/7/2022) di Plataran Menjangan, Bali, mengatakan, ecotourism atau ekowisata dapat menjadi unique selling point dari pariwisata Indonesia.
BACA JUGA:Taman Ekowisata Cimenteng Diprediksi Selesai 2023

&quot;Hal inilah yang saya kira perlu kita perhatikan bersama dalam kita membangun ecotourism. Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa yang bisa kita kemas menjadi ekowisata, ini akan menjadi salah satu unique selling point dari Indonesia untuk dunia,&quot; kata Wamenparekraf Angela.
Sebagai langkah konkret dalam mengembangkan dan menyosialisasikan ekowisata, khususnya mengajak wisatawan turut andil dalam kegiatan wisata yang berkualitas dan berkelanjutan, Kemenparekraf menghadirkan program &quot;Towards Climate Positive Tourism Through Decarbonization And Eco-Tourism&quot; yang diluncurkan secara resmi oleh Menparekraf Sandiaga Uno pada Kamis (7/7/2022).
BACA JUGA:Masyarakat Adat Akhirnya Restui Pembangunan Ekowisata Hutan Bowosie Labuan Bajo

Program tersebut mencakup tiga hal utama, yakni peluncuran platform yang akan digunakan untuk melakukan carbon offset; peluncuran lima kawasan yang ditunjuk sebagai pilot project; dan deklarasi Kemenparekraf dalam menurunkan karbon emisi di sektor pariwisata.
&quot;Kenapa kemenparekraf sangat mendukung carbon footprint calculator dan offsetting ini, bahkan dalam beberapa forum internasional kita sudah meng-introduce ini, sudah memperkenalkan inisiasi ini kepada dunia, karena berdasarkan riset 1/5 dari emisi karbon global memang disebabkan oleh sektor transportasi dimana seperti kita ketahui sektor pariwisata sangat mengandalkan sektor transportasi,&quot; kata Angela.&quot;Oleh karena itu, dalam membangun sektor pariwisata yang resilience,  kita memang perlu menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan. Semoga  kehadiran kita hari ini bisa memberikan inspirasi baru sehingga kita  bisa menghadirkan inovasi-inovasi untuk akhirnya kita membangun  ekosistem pariwisata yang berkelanjutan yang bisa bermanfaat dari  generasi ke generasi,&quot; kata Wamenparekraf Angela.
Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event)  Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani, menjelaskan, dalam program  ini Kemenparekraf/Baparekraf menjalin kerja sama dengan berbagai pihak.  Diantaranya Jejak.in, Indecon, WiseSteps, dan sejumlah  kementerian/lembaga seperti Kementerian LHK, Kementerian Keuangan, dan  Kementerian Koordinator Kementerian dan Investasi, dan berbagai  pemerintah daerah.
&quot;Kami menyadari bahwa pemerintah dalam hal ini Kemenparekraf belum  memiliki program yang secara terarah terkait dengan berkontribusi untuk  pengurangan karbon, sehingga dengan kondisi seperti itu kami  berinisiatif untuk bekerja sama, berkolaborasi agar sektor pariwisata  dan ekonomi kreatif berkontribusi dalam komitmen Indonesia menurunkan  emisi karbon melalui program 'Towards Climate Positive Tourism Through  Decarbonization And Eco-Tourism',&quot; kata Rizki Handayani.
Bersama Jejak.in misalnya, Kemenparekraf akan bekerja sama dalam  pemanfaatan aplikasi yang memungkinkan wisatawan menghitung jumlah  karbon yang mereka hasilkan selama perjalanan di Indonesia.Hasil dari jejak karbon yang dikeluarkan selama berlibur di Indonesia   itu akan dikonversikan menjadi nilai uang, yang selanjutnya   memungkinkan wisatawan untuk menyalurkan nilai tersebut untuk mendukung   program-program pilihan seperti penanaman pohon, renewable energy, atau   pengembangan ekowisata.
Sementara itu, dengan WiseSteps, Kemenparekraf akan berkolaborasi   dalam menyusun peta jalan pengembangan ekowisata di Indonesia. Termasuk   mengembangkan tren wisata voluntary offsetting.
&quot;Bersama Indecon (Indonesia Ecotourism Network) kami bersama akan   terus menyosialisasikan ekowisata. Launching ini jadi langkah awal dari   kolaborasi berbagai pihak, baik pemerintah nasional, pemerintah daerah,   komunitas, NGO, media, serta akademisi untuk bersama-sama melaksanakan   apa yang menjadi komitmen secara nasional. Kita berharap program ini   dapat menjadi bagian dari konten narasi dalam World Tourism Day di Bali   pada September 2022,&quot; kata Rizki Handayani.</description><content:encoded>BALI &amp;ndash; Indonesia adalah negara dengan kekayaan sumber daya alam dan budaya yang besar memiliki potensi ekowisata untuk dikembangkan. Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo menilai hal ini bisa menjadi unique selling point pariwisata dan ekonomi kreatif, sehingga dapat meningkatkan dampak positif terhadap keberlanjutan lingkungan dan masyarakat.
Wamenparekraf/Wakabaparekraf Angela Tanoesoedibjo --yang juga Wakil Ketua Umum Partai Perindo Bidang Ekonomi Digital &amp;amp; Kreatif-- saat menyampaikan welcoming remarks dalam rangkaian acara peluncuran program &quot;Towards Climate Positive Tourism Through Decarbonization And Eco-Tourism&quot;, Kamis (7/7/2022) di Plataran Menjangan, Bali, mengatakan, ecotourism atau ekowisata dapat menjadi unique selling point dari pariwisata Indonesia.
BACA JUGA:Taman Ekowisata Cimenteng Diprediksi Selesai 2023

&quot;Hal inilah yang saya kira perlu kita perhatikan bersama dalam kita membangun ecotourism. Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa yang bisa kita kemas menjadi ekowisata, ini akan menjadi salah satu unique selling point dari Indonesia untuk dunia,&quot; kata Wamenparekraf Angela.
Sebagai langkah konkret dalam mengembangkan dan menyosialisasikan ekowisata, khususnya mengajak wisatawan turut andil dalam kegiatan wisata yang berkualitas dan berkelanjutan, Kemenparekraf menghadirkan program &quot;Towards Climate Positive Tourism Through Decarbonization And Eco-Tourism&quot; yang diluncurkan secara resmi oleh Menparekraf Sandiaga Uno pada Kamis (7/7/2022).
BACA JUGA:Masyarakat Adat Akhirnya Restui Pembangunan Ekowisata Hutan Bowosie Labuan Bajo

Program tersebut mencakup tiga hal utama, yakni peluncuran platform yang akan digunakan untuk melakukan carbon offset; peluncuran lima kawasan yang ditunjuk sebagai pilot project; dan deklarasi Kemenparekraf dalam menurunkan karbon emisi di sektor pariwisata.
&quot;Kenapa kemenparekraf sangat mendukung carbon footprint calculator dan offsetting ini, bahkan dalam beberapa forum internasional kita sudah meng-introduce ini, sudah memperkenalkan inisiasi ini kepada dunia, karena berdasarkan riset 1/5 dari emisi karbon global memang disebabkan oleh sektor transportasi dimana seperti kita ketahui sektor pariwisata sangat mengandalkan sektor transportasi,&quot; kata Angela.&quot;Oleh karena itu, dalam membangun sektor pariwisata yang resilience,  kita memang perlu menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan. Semoga  kehadiran kita hari ini bisa memberikan inspirasi baru sehingga kita  bisa menghadirkan inovasi-inovasi untuk akhirnya kita membangun  ekosistem pariwisata yang berkelanjutan yang bisa bermanfaat dari  generasi ke generasi,&quot; kata Wamenparekraf Angela.
Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event)  Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani, menjelaskan, dalam program  ini Kemenparekraf/Baparekraf menjalin kerja sama dengan berbagai pihak.  Diantaranya Jejak.in, Indecon, WiseSteps, dan sejumlah  kementerian/lembaga seperti Kementerian LHK, Kementerian Keuangan, dan  Kementerian Koordinator Kementerian dan Investasi, dan berbagai  pemerintah daerah.
&quot;Kami menyadari bahwa pemerintah dalam hal ini Kemenparekraf belum  memiliki program yang secara terarah terkait dengan berkontribusi untuk  pengurangan karbon, sehingga dengan kondisi seperti itu kami  berinisiatif untuk bekerja sama, berkolaborasi agar sektor pariwisata  dan ekonomi kreatif berkontribusi dalam komitmen Indonesia menurunkan  emisi karbon melalui program 'Towards Climate Positive Tourism Through  Decarbonization And Eco-Tourism',&quot; kata Rizki Handayani.
Bersama Jejak.in misalnya, Kemenparekraf akan bekerja sama dalam  pemanfaatan aplikasi yang memungkinkan wisatawan menghitung jumlah  karbon yang mereka hasilkan selama perjalanan di Indonesia.Hasil dari jejak karbon yang dikeluarkan selama berlibur di Indonesia   itu akan dikonversikan menjadi nilai uang, yang selanjutnya   memungkinkan wisatawan untuk menyalurkan nilai tersebut untuk mendukung   program-program pilihan seperti penanaman pohon, renewable energy, atau   pengembangan ekowisata.
Sementara itu, dengan WiseSteps, Kemenparekraf akan berkolaborasi   dalam menyusun peta jalan pengembangan ekowisata di Indonesia. Termasuk   mengembangkan tren wisata voluntary offsetting.
&quot;Bersama Indecon (Indonesia Ecotourism Network) kami bersama akan   terus menyosialisasikan ekowisata. Launching ini jadi langkah awal dari   kolaborasi berbagai pihak, baik pemerintah nasional, pemerintah daerah,   komunitas, NGO, media, serta akademisi untuk bersama-sama melaksanakan   apa yang menjadi komitmen secara nasional. Kita berharap program ini   dapat menjadi bagian dari konten narasi dalam World Tourism Day di Bali   pada September 2022,&quot; kata Rizki Handayani.</content:encoded></item></channel></rss>
