<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Garuda Indonesia Rugi Rp62,55 Triliun Sepanjang 2021</title><description>PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatatkan rugi tahun berjalan mencapai  USD4,17 miliar atau setara Rp62,55 triliun (kurs Rp15.000).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/08/278/2625943/garuda-indonesia-rugi-rp62-55-triliun-sepanjang-2021</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/07/08/278/2625943/garuda-indonesia-rugi-rp62-55-triliun-sepanjang-2021"/><item><title>Garuda Indonesia Rugi Rp62,55 Triliun Sepanjang 2021</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/08/278/2625943/garuda-indonesia-rugi-rp62-55-triliun-sepanjang-2021</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/07/08/278/2625943/garuda-indonesia-rugi-rp62-55-triliun-sepanjang-2021</guid><pubDate>Jum'at 08 Juli 2022 12:36 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Harian Neraca</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/07/08/278/2625943/garuda-indonesia-rugi-rp62-55-triliun-sepanjang-2021-QooXJ5D00i.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Utang Garuda Indonesia (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/07/08/278/2625943/garuda-indonesia-rugi-rp62-55-triliun-sepanjang-2021-QooXJ5D00i.jpg</image><title>Utang Garuda Indonesia (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatatkan rugi tahun berjalan mencapai USD4,17 miliar atau setara Rp62,55 triliun (kurs Rp15.000). Perseroan mencatatkan pendapatan usaha sebesar USD1,33 miliar setara Rp19,95 triliun. Pendapatan tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan beban usaha yang mencapai USD2,6 miliar setara Rp39 triliun.
BACA JUGA:Erick Thohir: Kerja Sama Garuda Indonesia dan Emirates Harus Lebih Besar Lagi

Belum lagi, pendapatan usaha lainnya juga tercatat negatif USD2,68 miliar. Hal ini membuat sepanjang 2021 Garuda Indonesia mencatatkan rugi usaha hingga USD3,96 miliar setara Rp59,4 triliun.
Adapun, dari sisi ekuitas, GIAA mencatatkan ekuitas negatif sebesar USD6,11 miliar akibat total liabilitas yang mencapai USD13,3 miliar berbanding aset yang hanya USD7,18 miliar. Besaran liabilitas GIAA yakni liabilitas jangka pendek yang sebesar USD5,77 miliar dan jangka panjang USD7,53 miliar. Sedangkan, total aset lancar yakni USD305,72 juta dan aset tidak lancar USD6,88 miliar. Saat itu, rasio utang terhadap asetnya pun mencapai 185%, dengan debt to equity ratio (-2,18).
BACA JUGA:Sederet Fakta Garuda Indonesia Terselamatkan dari Utang hingga Bangkrut

Di sisi lain, GIAA) berencana melakukan penambahan modal negara (PMN) dengan memberian hak memesan efefk terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Rencana ini dilakukan perseroan berdasarkan Rencana Perdamaian, dengan salah satu skema restrukturisasi utang Perseroan adalah dengan cara penerbitan Saham Baru yang akan dikeluarkan dalam rangka PMN melalui penambahan modal dengan memberikan HMETD, konversi atas Utang Perseroan kepada Kreditur yang Berhak Menerima Ekuitas melalui PMTHMETD, serta Konversi OWK.Berdasarkan surat tertanggal 12 Mei 2022 dari Menteri Badan Usaha  Milik Negara (BUMN), Pemerintah telah mengalokasikan Rp7,5 triliun dalam  anggaran pendapatan dan belanja negara tahunan untuk penyertaan modal  negara (PMN) kepada Perseroan. PMN akan dilaksanakan melalui penerbitan  saham dengan memberikan HMETD, di mana Pemerintah akan melaksanakan  HMETD milik Pemerintah dan menyetorkan modal baru di Perseroan sebesar  Rp7,5 triliun.
Sehubungan dengan PMN tersebut, GIAA berencana untuk melakukan  penambahan modal dengan memberikan HMETD kepada para pemegang saham  perseroan dalam jumlah sebanyak-banyaknya 225.585.894.911 lembar saham  atau sebesar 871,44% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor  perseroan pada saat keterbukaan informasi ini. Adapun saham baru dalam  penambahan modal dengan memberikan HMETD ini akan dikeluarkan dengan  nilai nominal per saham sebesar Rp459 atau harga pelaksanaan.</description><content:encoded>JAKARTA - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatatkan rugi tahun berjalan mencapai USD4,17 miliar atau setara Rp62,55 triliun (kurs Rp15.000). Perseroan mencatatkan pendapatan usaha sebesar USD1,33 miliar setara Rp19,95 triliun. Pendapatan tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan beban usaha yang mencapai USD2,6 miliar setara Rp39 triliun.
BACA JUGA:Erick Thohir: Kerja Sama Garuda Indonesia dan Emirates Harus Lebih Besar Lagi

Belum lagi, pendapatan usaha lainnya juga tercatat negatif USD2,68 miliar. Hal ini membuat sepanjang 2021 Garuda Indonesia mencatatkan rugi usaha hingga USD3,96 miliar setara Rp59,4 triliun.
Adapun, dari sisi ekuitas, GIAA mencatatkan ekuitas negatif sebesar USD6,11 miliar akibat total liabilitas yang mencapai USD13,3 miliar berbanding aset yang hanya USD7,18 miliar. Besaran liabilitas GIAA yakni liabilitas jangka pendek yang sebesar USD5,77 miliar dan jangka panjang USD7,53 miliar. Sedangkan, total aset lancar yakni USD305,72 juta dan aset tidak lancar USD6,88 miliar. Saat itu, rasio utang terhadap asetnya pun mencapai 185%, dengan debt to equity ratio (-2,18).
BACA JUGA:Sederet Fakta Garuda Indonesia Terselamatkan dari Utang hingga Bangkrut

Di sisi lain, GIAA) berencana melakukan penambahan modal negara (PMN) dengan memberian hak memesan efefk terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Rencana ini dilakukan perseroan berdasarkan Rencana Perdamaian, dengan salah satu skema restrukturisasi utang Perseroan adalah dengan cara penerbitan Saham Baru yang akan dikeluarkan dalam rangka PMN melalui penambahan modal dengan memberikan HMETD, konversi atas Utang Perseroan kepada Kreditur yang Berhak Menerima Ekuitas melalui PMTHMETD, serta Konversi OWK.Berdasarkan surat tertanggal 12 Mei 2022 dari Menteri Badan Usaha  Milik Negara (BUMN), Pemerintah telah mengalokasikan Rp7,5 triliun dalam  anggaran pendapatan dan belanja negara tahunan untuk penyertaan modal  negara (PMN) kepada Perseroan. PMN akan dilaksanakan melalui penerbitan  saham dengan memberikan HMETD, di mana Pemerintah akan melaksanakan  HMETD milik Pemerintah dan menyetorkan modal baru di Perseroan sebesar  Rp7,5 triliun.
Sehubungan dengan PMN tersebut, GIAA berencana untuk melakukan  penambahan modal dengan memberikan HMETD kepada para pemegang saham  perseroan dalam jumlah sebanyak-banyaknya 225.585.894.911 lembar saham  atau sebesar 871,44% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor  perseroan pada saat keterbukaan informasi ini. Adapun saham baru dalam  penambahan modal dengan memberikan HMETD ini akan dikeluarkan dengan  nilai nominal per saham sebesar Rp459 atau harga pelaksanaan.</content:encoded></item></channel></rss>
