<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Indonesia Butuh Rp6.500 Triliun untuk Infrastruktur, Uang dari Mana?</title><description>Indonesia membutuhkan dana sekitar Rp6.500 triliun untuk membangun infrastruktur sampai tahun 2024.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/08/320/2625981/indonesia-butuh-rp6-500-triliun-untuk-infrastruktur-uang-dari-mana</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/07/08/320/2625981/indonesia-butuh-rp6-500-triliun-untuk-infrastruktur-uang-dari-mana"/><item><title>Indonesia Butuh Rp6.500 Triliun untuk Infrastruktur, Uang dari Mana?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/08/320/2625981/indonesia-butuh-rp6-500-triliun-untuk-infrastruktur-uang-dari-mana</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/07/08/320/2625981/indonesia-butuh-rp6-500-triliun-untuk-infrastruktur-uang-dari-mana</guid><pubDate>Jum'at 08 Juli 2022 13:44 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/07/08/320/2625981/indonesia-butuh-rp6-500-triliun-untuk-infrastruktur-uang-dari-mana-tTxAridXsb.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Indonesia butuh Rp6.500 triliun untuk bangun infrastruktur (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/07/08/320/2625981/indonesia-butuh-rp6-500-triliun-untuk-infrastruktur-uang-dari-mana-tTxAridXsb.jpg</image><title>Indonesia butuh Rp6.500 triliun untuk bangun infrastruktur (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Indonesia membutuhkan dana sekitar Rp6.500 triliun untuk membangun infrastruktur sampai tahun 2024. Dari kebutuhan dana tersebut, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya bisa memenuhi 42%, sedangkan sisanya akan berasal dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sektor swasta.
&quot;Maka dari itu pembiayaan adalah salah satu cara menekan biaya tersebut. Bagaimana kami bisa mendesain pembiayaan sedemikian rupa,&quot; ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) Luky Alfirman dilansir dari Antara, Jumat (8/7/2022).
BACA JUGA:Benahi Infrastruktur Konektivitas, PUPR Siapkan Anggaran Rp40,25 Triliun

Dia menjelaskan pemerintah saat ini terus mengundang pembiayaan dari sektor swasta. Hal tersebut seiring dengan pembahasan dalam Presidensi G20 di Indonesia yakni meningkatkan partisipasi sektor swasta, lantaran pemerintah tidak bisa menanggung seluruh biaya pembangunan sendirian.
Berinvestasi di infrastruktur merupakan investasi jangka panjang, sehingga harus ada kepastian di dalam proyek yang diinvestasikan.
BACA JUGA:PUPR Habiskan Rp197 Miliar untuk Pembangunan Infrastruktur

Oleh karenanya Luky berpendapat pihaknya terus berusaha memberi kepastian dengan mengelola risiko yang ada agar investor, terutama di dalam negeri, berminat untuk menanamkan modal mereka pada suatu proyek infrastruktur.&quot;Kami mendesain sedemikian rupa risiko ini, bagaimana bisa kami  perkecil karena itu terasosiasi dengan harga yang harus kami bayar  nantinya,&quot; ucap dia.
Sementara untuk investor luar negeri, ia menuturkan biasanya calon  penanam modal akan cenderung melihat kondisi politik hingga prospek  ekonomi Indonesia sebelum memutuskan berinvestasi dalam suatu proyek  infrastruktur di Tanah Air.
Dengan demikian, kata dia, stabilitas kondisi politik dan perbaikan  ekonomi domestik sangat penting guna menarik investasi dari luar negeri.</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia membutuhkan dana sekitar Rp6.500 triliun untuk membangun infrastruktur sampai tahun 2024. Dari kebutuhan dana tersebut, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya bisa memenuhi 42%, sedangkan sisanya akan berasal dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sektor swasta.
&quot;Maka dari itu pembiayaan adalah salah satu cara menekan biaya tersebut. Bagaimana kami bisa mendesain pembiayaan sedemikian rupa,&quot; ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) Luky Alfirman dilansir dari Antara, Jumat (8/7/2022).
BACA JUGA:Benahi Infrastruktur Konektivitas, PUPR Siapkan Anggaran Rp40,25 Triliun

Dia menjelaskan pemerintah saat ini terus mengundang pembiayaan dari sektor swasta. Hal tersebut seiring dengan pembahasan dalam Presidensi G20 di Indonesia yakni meningkatkan partisipasi sektor swasta, lantaran pemerintah tidak bisa menanggung seluruh biaya pembangunan sendirian.
Berinvestasi di infrastruktur merupakan investasi jangka panjang, sehingga harus ada kepastian di dalam proyek yang diinvestasikan.
BACA JUGA:PUPR Habiskan Rp197 Miliar untuk Pembangunan Infrastruktur

Oleh karenanya Luky berpendapat pihaknya terus berusaha memberi kepastian dengan mengelola risiko yang ada agar investor, terutama di dalam negeri, berminat untuk menanamkan modal mereka pada suatu proyek infrastruktur.&quot;Kami mendesain sedemikian rupa risiko ini, bagaimana bisa kami  perkecil karena itu terasosiasi dengan harga yang harus kami bayar  nantinya,&quot; ucap dia.
Sementara untuk investor luar negeri, ia menuturkan biasanya calon  penanam modal akan cenderung melihat kondisi politik hingga prospek  ekonomi Indonesia sebelum memutuskan berinvestasi dalam suatu proyek  infrastruktur di Tanah Air.
Dengan demikian, kata dia, stabilitas kondisi politik dan perbaikan  ekonomi domestik sangat penting guna menarik investasi dari luar negeri.</content:encoded></item></channel></rss>
