<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Minyak Dunia Beragam, WTI Dibanderol USD104/Barel</title><description>Harga minyak dunia ditutup beragam pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/12/320/2627837/harga-minyak-dunia-beragam-wti-dibanderol-usd104-barel</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/07/12/320/2627837/harga-minyak-dunia-beragam-wti-dibanderol-usd104-barel"/><item><title>Harga Minyak Dunia Beragam, WTI Dibanderol USD104/Barel</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/12/320/2627837/harga-minyak-dunia-beragam-wti-dibanderol-usd104-barel</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/07/12/320/2627837/harga-minyak-dunia-beragam-wti-dibanderol-usd104-barel</guid><pubDate>Selasa 12 Juli 2022 06:32 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/07/12/320/2627837/harga-minyak-dunia-beragam-wti-dibanderol-usd104-barel-TNeVBUzhsq.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga minyak dunia mixed (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/07/12/320/2627837/harga-minyak-dunia-beragam-wti-dibanderol-usd104-barel-TNeVBUzhsq.jpg</image><title>Harga minyak dunia mixed (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Harga minyak dunia ditutup beragam pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB). Harga minyak mixed karena pasar menilai risiko dari sisi penawaran dan permintaan, menyeimbangkan penurunan permintaan yang diperkirakan karena pengujian massal untuk COVID-19 di China terhadap kekhawatiran yang sedang berlangsung atas ketatnya pasokan.
Melansir Antara, Selasa (12/7/2022), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September naik tipis 8 sen atau 0,1%, menjadi menetap di USD107,10 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjaka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 70 sen atau 0,7%, menjadi ditutup di USD104,09 per barel.
BACA JUGA:Khawatir Resesi, Harga Minyak di Minggu Ini Anjlok 4,1%

Dengan Federal Reserve AS diperkirakan akan terus menaikkan suku bunga, open interest di bursa berjangka New York Mercantile Exchange (NYMEX) turun pada 7 Juli ke level terendah sejak Oktober 2015 karena investor mengurangi aset-aset berisiko.
Pekan lalu, spekulan minyak memangkas posisi net long futures dan opsi mereka di NYMEX dan Intercontinental Exchanges ke level terendah sejak April 2020.
BACA JUGA:Harga Minyak Brent dan WTI Turun hingga 2%

&quot;Pasar minyak ditarik ke dua arah dengan fundamental fisik yang sangat ketat terhadap kekhawatiran permintaan yang berwawasan ke depan dan tanda-tanda kehancuran permintaan yang disebabkan oleh harga,&quot; kata analis di EBW Analytics dalam sebuah catatan.
Pasar diguncang di awal sesi oleh berita bahwa China telah menemukan kasus pertama dari subvarian Omicron yang sangat menular di Shanghai yang dapat mengarah pada putaran pengujian massal lainnya, yang akan mengurangi permintaan bahan bakar.&quot;Dampak gabungan dari kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan  wabah COVID baru hampir tidak dapat datang pada waktu yang lebih buruk  untuk pasar minyak,&quot; kata Investec Risk Solutions dalam sebuah catatan.
Juga memberi tekanan pada minyak adalah kenaikan dolar AS terhadap  sekeranjang mata uang lainnya ke level tertinggi sejak Oktober 2002.  Dolar yang lebih kuat mengurangi permintaan minyak karena membuat bahan  bakar lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Para menteri keuangan zona euro mengatakan perang melawan inflasi  adalah prioritas saat ini meskipun pertumbuhan di blok itu berkurang,  karena mereka diberitahu tentang prospek ekonomi yang memburuk oleh  Komisi Eropa.
Pasar tetap gelisah tentang rencana negara-negara Barat untuk  membatasi harga minyak Rusia, dengan Presiden Rusia Vladimir Putin  memperingatkan bahwa sanksi lebih lanjut dapat menyebabkan konsekuensi  &quot;bencana&quot; di pasar energi global.
Sementara itu, Presiden Brazil Jair Bolsonaro mengatakan bahwa  kesepakatan sudah dekat dengan Moskow untuk membeli minyak diesel yang  jauh lebih murah dari Rusia.</description><content:encoded>JAKARTA - Harga minyak dunia ditutup beragam pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB). Harga minyak mixed karena pasar menilai risiko dari sisi penawaran dan permintaan, menyeimbangkan penurunan permintaan yang diperkirakan karena pengujian massal untuk COVID-19 di China terhadap kekhawatiran yang sedang berlangsung atas ketatnya pasokan.
Melansir Antara, Selasa (12/7/2022), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September naik tipis 8 sen atau 0,1%, menjadi menetap di USD107,10 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjaka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 70 sen atau 0,7%, menjadi ditutup di USD104,09 per barel.
BACA JUGA:Khawatir Resesi, Harga Minyak di Minggu Ini Anjlok 4,1%

Dengan Federal Reserve AS diperkirakan akan terus menaikkan suku bunga, open interest di bursa berjangka New York Mercantile Exchange (NYMEX) turun pada 7 Juli ke level terendah sejak Oktober 2015 karena investor mengurangi aset-aset berisiko.
Pekan lalu, spekulan minyak memangkas posisi net long futures dan opsi mereka di NYMEX dan Intercontinental Exchanges ke level terendah sejak April 2020.
BACA JUGA:Harga Minyak Brent dan WTI Turun hingga 2%

&quot;Pasar minyak ditarik ke dua arah dengan fundamental fisik yang sangat ketat terhadap kekhawatiran permintaan yang berwawasan ke depan dan tanda-tanda kehancuran permintaan yang disebabkan oleh harga,&quot; kata analis di EBW Analytics dalam sebuah catatan.
Pasar diguncang di awal sesi oleh berita bahwa China telah menemukan kasus pertama dari subvarian Omicron yang sangat menular di Shanghai yang dapat mengarah pada putaran pengujian massal lainnya, yang akan mengurangi permintaan bahan bakar.&quot;Dampak gabungan dari kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan  wabah COVID baru hampir tidak dapat datang pada waktu yang lebih buruk  untuk pasar minyak,&quot; kata Investec Risk Solutions dalam sebuah catatan.
Juga memberi tekanan pada minyak adalah kenaikan dolar AS terhadap  sekeranjang mata uang lainnya ke level tertinggi sejak Oktober 2002.  Dolar yang lebih kuat mengurangi permintaan minyak karena membuat bahan  bakar lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Para menteri keuangan zona euro mengatakan perang melawan inflasi  adalah prioritas saat ini meskipun pertumbuhan di blok itu berkurang,  karena mereka diberitahu tentang prospek ekonomi yang memburuk oleh  Komisi Eropa.
Pasar tetap gelisah tentang rencana negara-negara Barat untuk  membatasi harga minyak Rusia, dengan Presiden Rusia Vladimir Putin  memperingatkan bahwa sanksi lebih lanjut dapat menyebabkan konsekuensi  &quot;bencana&quot; di pasar energi global.
Sementara itu, Presiden Brazil Jair Bolsonaro mengatakan bahwa  kesepakatan sudah dekat dengan Moskow untuk membeli minyak diesel yang  jauh lebih murah dari Rusia.</content:encoded></item></channel></rss>
