<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Fast Tak Untungkan Perbankan? Ini Penjelasan Bank Indonesia</title><description>Sistem pembayaran BI Fast dianggap tidak menguntungkan perbankan karena bisa menurunkan fee based income.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/16/320/2630585/bi-fast-tak-untungkan-perbankan-ini-penjelasan-bank-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/07/16/320/2630585/bi-fast-tak-untungkan-perbankan-ini-penjelasan-bank-indonesia"/><item><title>BI Fast Tak Untungkan Perbankan? Ini Penjelasan Bank Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/16/320/2630585/bi-fast-tak-untungkan-perbankan-ini-penjelasan-bank-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/07/16/320/2630585/bi-fast-tak-untungkan-perbankan-ini-penjelasan-bank-indonesia</guid><pubDate>Sabtu 16 Juli 2022 10:00 WIB</pubDate><dc:creator>Kurniasih Miftakhul Jannah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/07/16/320/2630585/bi-fast-tak-untungkan-perbankan-ini-penjelasan-bank-indonesia-dyg7FTwC0i.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Filianingsih (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/07/16/320/2630585/bi-fast-tak-untungkan-perbankan-ini-penjelasan-bank-indonesia-dyg7FTwC0i.jpg</image><title>Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Filianingsih (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Sistem pembayaran BI Fast dianggap tidak menguntungkan perbankan karena bisa menurunkan fee based income. Padahal fee based income (pendapatan dari transfer, inkaso, deposit, katu kredit) seharusnya bisa menjadi salah satu pemasukan bagi perbankan.
Dengan sistem pembayaran BI Fast, biaya transfer antarbank turun menjadi Rp2.500 dari Rp6.500 per transaksi. Menanggapi hal ini, Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Filianingsih Hendarta justru menilai kalau BI Fast bisa menguntungkan.
BACA JUGA:Hari Kedua FMCBG G20, Gubernur BI Singgung Tantangan Ekonomi Global
Menurutnya, BI Fast memberikan keuntungan kepada masyarakat dengan turunnya biaya transfer. Tapi di sisi lain, BI Fast tidak menurunkan fee based income perbankan karena jumlah transaksi harian yang meningkat.
&quot;Ini keuntungan di publik, dulu sebelum ada BI Fast konsumen harus membayar Rp6.500, sekarang hanya Rp2.500, ada save Rp4.500, ini (BI Fast) tidak menurunkan fee based income perbankan,&quot; kata dia di Nusa Dua, Sabtu (16/7/2022).
BACA JUGA:IMF: Kebijakan Larangan Ekspor Bisa Perparah Krisis Pangan Dunia
Lebih jauh dia merinci, dengan adanya BI Fast volume transaksi di perbankan kini meningkat pesat. Dalam catatannya, sebelum adanya BI Fast rata-rata volume transaksi hanya 1.000 per hari.
&quot;Sekarang BI Fast, kalian perbankan transaksinya bisa naik sampai 5.000 per hari. Bahkan di bank besar, jumlah transaksi bisa naik 1 juta per hari,&quot; paparnya.Namun di sisi lain, Filia tidak menampik kalau volume transaksi BI  Fast di bank kecil atau BUKU I juga masih rendah. Bahkan ada yang hanya  sepuluh transaksi hari.
&quot;BI sebagai bank sentral, kami punya tagline sistem pembayaran harus  cepat, mudah, murah, aman, dan andal atau cemumuah, dan BI Fast ada di  sana,&quot; tambahnya.
Untuk diketahui, BI-FAST adalah infrastruktur Sistem Pembayaran ritel  nasional yang dapat memfasilitasi pembayaran ritel secara real-time,  aman, efisien, dan tersedia setiap saat (24/7).
BI-FAST diharapkan dapat memperkuat ketahanan Sistem Pembayaran Ritel  nasional dengan menyediakan alternatif terhadap infrastruktur Sistem  Pembayaran nasional eksisting.</description><content:encoded>JAKARTA - Sistem pembayaran BI Fast dianggap tidak menguntungkan perbankan karena bisa menurunkan fee based income. Padahal fee based income (pendapatan dari transfer, inkaso, deposit, katu kredit) seharusnya bisa menjadi salah satu pemasukan bagi perbankan.
Dengan sistem pembayaran BI Fast, biaya transfer antarbank turun menjadi Rp2.500 dari Rp6.500 per transaksi. Menanggapi hal ini, Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Filianingsih Hendarta justru menilai kalau BI Fast bisa menguntungkan.
BACA JUGA:Hari Kedua FMCBG G20, Gubernur BI Singgung Tantangan Ekonomi Global
Menurutnya, BI Fast memberikan keuntungan kepada masyarakat dengan turunnya biaya transfer. Tapi di sisi lain, BI Fast tidak menurunkan fee based income perbankan karena jumlah transaksi harian yang meningkat.
&quot;Ini keuntungan di publik, dulu sebelum ada BI Fast konsumen harus membayar Rp6.500, sekarang hanya Rp2.500, ada save Rp4.500, ini (BI Fast) tidak menurunkan fee based income perbankan,&quot; kata dia di Nusa Dua, Sabtu (16/7/2022).
BACA JUGA:IMF: Kebijakan Larangan Ekspor Bisa Perparah Krisis Pangan Dunia
Lebih jauh dia merinci, dengan adanya BI Fast volume transaksi di perbankan kini meningkat pesat. Dalam catatannya, sebelum adanya BI Fast rata-rata volume transaksi hanya 1.000 per hari.
&quot;Sekarang BI Fast, kalian perbankan transaksinya bisa naik sampai 5.000 per hari. Bahkan di bank besar, jumlah transaksi bisa naik 1 juta per hari,&quot; paparnya.Namun di sisi lain, Filia tidak menampik kalau volume transaksi BI  Fast di bank kecil atau BUKU I juga masih rendah. Bahkan ada yang hanya  sepuluh transaksi hari.
&quot;BI sebagai bank sentral, kami punya tagline sistem pembayaran harus  cepat, mudah, murah, aman, dan andal atau cemumuah, dan BI Fast ada di  sana,&quot; tambahnya.
Untuk diketahui, BI-FAST adalah infrastruktur Sistem Pembayaran ritel  nasional yang dapat memfasilitasi pembayaran ritel secara real-time,  aman, efisien, dan tersedia setiap saat (24/7).
BI-FAST diharapkan dapat memperkuat ketahanan Sistem Pembayaran Ritel  nasional dengan menyediakan alternatif terhadap infrastruktur Sistem  Pembayaran nasional eksisting.</content:encoded></item></channel></rss>
