<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menteri Bahlil: Kurang Pas Kalau Indonesia Dianggap Krisis</title><description>Menteri Investasi Bahlil Lahadalia tidak setuju jika Indonesia dianggap mengalami krisis.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/20/320/2633142/menteri-bahlil-kurang-pas-kalau-indonesia-dianggap-krisis</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/07/20/320/2633142/menteri-bahlil-kurang-pas-kalau-indonesia-dianggap-krisis"/><item><title>Menteri Bahlil: Kurang Pas Kalau Indonesia Dianggap Krisis</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/20/320/2633142/menteri-bahlil-kurang-pas-kalau-indonesia-dianggap-krisis</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/07/20/320/2633142/menteri-bahlil-kurang-pas-kalau-indonesia-dianggap-krisis</guid><pubDate>Rabu 20 Juli 2022 16:20 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/07/20/320/2633142/menteri-bahlil-kurang-pas-kalau-indonesia-dianggap-krisis-Hw2tj17fiB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Investasi Bahlil tak setuju jika Indonesia dianggap krisis (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/07/20/320/2633142/menteri-bahlil-kurang-pas-kalau-indonesia-dianggap-krisis-Hw2tj17fiB.jpg</image><title>Menteri Investasi Bahlil tak setuju jika Indonesia dianggap krisis (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Investasi Bahlil Lahadalia tidak setuju jika Indonesia dianggap mengalami krisis. Menurut dia, bukannya krisis, tetapi Indonesia memang harus menerapkan prinsip hati-hati di tengah ketidakpastian global yang tengah terjadi saat ini.
&quot;Mohon maaf, saya agak sedikit kurang pas kalau dianggap Indonesia itu krisis. Apanya yang krisis? Bahwa kondisi kita harus hati-hati, iya,&quot; katanya dilansir dari Antara, Rabu (20/7/2022).
BACA JUGA:Pertemuan Menteri CPOPC, Menko Airlangga Tegaskan Sawit sebagai Solusi Bagi Krisis Pangan dan Energi Dunia

Bahlil menuturkan kondisi global saat ini memang tidak baik karena adanya krisis pangan, energi, dan inflasi yang tinggi di sejumlah negara. Indonesia pun tidak bisa menghindari hal tersebut karena sebagian pangan dan sumber energi untuk kebutuhan dalam negeri masih diimpor.
Mantan Ketua Umum Hipmi itu menilai masalah pangan bisa didukung dengan substitusi pangan lokal yang melimpah. Namun, ia mengakui masalah energi memang masih cukup rumit diselesaikan. Ia bahkan menyebut Indonesia harus siap akan kondisi yang tidak menguntungkan jika subsidi energi nantinya terus meningkat.
BACA JUGA:Dunia Akui Kekuatan Ekonomi RI di Tengah Krisis Global

&quot;Problem kita di minyak, makanya kita cepat harus mengubah dari fosil ke EBT. Contoh, katakanlah kita lagi mendorong program motor listrik, kita kurangi BBM, kemudian gas LPG juga kita dorong ke listrik,&quot; katanya.
Bahlil menuturkan, dari sisi investasi, Indonesia juga masih cukup populer jadi destinasi investasi. Hal itu berdasarkan capaian pertumbuhan realisasi investasi asing sepanjang semester I 2022 yang mencapai 35,8% yoy.Realisasi penanaman modal asing (PMA) pada periode Januari-Juni 2022  tercatat mencapai Rp310,4 triliun, porsinya mencapai 53,1% dari total  realisasi investasi di periode tersebut sebesar Rp584,6 triliun.
&quot;Kenapa investasi asing kita tetap percaya pada Indonesia?  Fundamental ekonomi kita dianggap cukup bagus karena pertumbuhan kita  sangat bagus, inflasi kita sekalipun ada kenaikan, tapi kita jaga, dan  rasio utang kita masih tetap dalam kondisi yang insya Allah baik  sekalipun memang tambah terus. Tapi, aset kita di satu sisi nambah terus  dan ini juga jaga stabilitas pertumbuhan, konsumsi dan daya beli kita,&quot;  ungkapnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Investasi Bahlil Lahadalia tidak setuju jika Indonesia dianggap mengalami krisis. Menurut dia, bukannya krisis, tetapi Indonesia memang harus menerapkan prinsip hati-hati di tengah ketidakpastian global yang tengah terjadi saat ini.
&quot;Mohon maaf, saya agak sedikit kurang pas kalau dianggap Indonesia itu krisis. Apanya yang krisis? Bahwa kondisi kita harus hati-hati, iya,&quot; katanya dilansir dari Antara, Rabu (20/7/2022).
BACA JUGA:Pertemuan Menteri CPOPC, Menko Airlangga Tegaskan Sawit sebagai Solusi Bagi Krisis Pangan dan Energi Dunia

Bahlil menuturkan kondisi global saat ini memang tidak baik karena adanya krisis pangan, energi, dan inflasi yang tinggi di sejumlah negara. Indonesia pun tidak bisa menghindari hal tersebut karena sebagian pangan dan sumber energi untuk kebutuhan dalam negeri masih diimpor.
Mantan Ketua Umum Hipmi itu menilai masalah pangan bisa didukung dengan substitusi pangan lokal yang melimpah. Namun, ia mengakui masalah energi memang masih cukup rumit diselesaikan. Ia bahkan menyebut Indonesia harus siap akan kondisi yang tidak menguntungkan jika subsidi energi nantinya terus meningkat.
BACA JUGA:Dunia Akui Kekuatan Ekonomi RI di Tengah Krisis Global

&quot;Problem kita di minyak, makanya kita cepat harus mengubah dari fosil ke EBT. Contoh, katakanlah kita lagi mendorong program motor listrik, kita kurangi BBM, kemudian gas LPG juga kita dorong ke listrik,&quot; katanya.
Bahlil menuturkan, dari sisi investasi, Indonesia juga masih cukup populer jadi destinasi investasi. Hal itu berdasarkan capaian pertumbuhan realisasi investasi asing sepanjang semester I 2022 yang mencapai 35,8% yoy.Realisasi penanaman modal asing (PMA) pada periode Januari-Juni 2022  tercatat mencapai Rp310,4 triliun, porsinya mencapai 53,1% dari total  realisasi investasi di periode tersebut sebesar Rp584,6 triliun.
&quot;Kenapa investasi asing kita tetap percaya pada Indonesia?  Fundamental ekonomi kita dianggap cukup bagus karena pertumbuhan kita  sangat bagus, inflasi kita sekalipun ada kenaikan, tapi kita jaga, dan  rasio utang kita masih tetap dalam kondisi yang insya Allah baik  sekalipun memang tambah terus. Tapi, aset kita di satu sisi nambah terus  dan ini juga jaga stabilitas pertumbuhan, konsumsi dan daya beli kita,&quot;  ungkapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
