<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Waspadai Ancaman Nyata Krisis Ekonomi Global</title><description>Krisis ekonomi global sudah mulai dirasakan oleh banyak negara di dunia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/21/320/2633646/waspadai-ancaman-nyata-krisis-ekonomi-global</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/07/21/320/2633646/waspadai-ancaman-nyata-krisis-ekonomi-global"/><item><title>Waspadai Ancaman Nyata Krisis Ekonomi Global</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/21/320/2633646/waspadai-ancaman-nyata-krisis-ekonomi-global</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/07/21/320/2633646/waspadai-ancaman-nyata-krisis-ekonomi-global</guid><pubDate>Kamis 21 Juli 2022 12:43 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/07/21/320/2633646/waspadai-ancaman-nyata-krisis-ekonomi-global-9x7aKvMztO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Waspada nyata ancaman krisis ekonomi global (Foto: MNC Media)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/07/21/320/2633646/waspadai-ancaman-nyata-krisis-ekonomi-global-9x7aKvMztO.jpg</image><title>Waspada nyata ancaman krisis ekonomi global (Foto: MNC Media)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Krisis ekonomi global sudah mulai dirasakan oleh banyak negara di dunia. Mereka bersiap untuk menghadapi dampak resesi yang mungkin menyerang negaranya termasuk juga di Indonesia. Banyak faktor yang memicu krisis global mulai dampak pandemi Covid-19 hingga diperparah oleh perang Rusia dengan Ukraina yang belum menunjukkan tanda berakhir. Simak News RCTI+ yang terus memantau pergerakan ekonomi dunia yang kini sedang tidak baik-baik saja.
Krisis ekonomi global semakin nyata terlihat. Apa yang terjadi dengan Srilanka yang tak mampu membayar kewajiban obligasi (surat utang) di tahun ini, menjadi salah satu buktinya. Negara yang terletak di kawasan Asia Selatan itu masuk dalam krisis ekonomi yang parah dan dinyatakan bangkrut. Kondisi  penduduk Srilanka pun memprihatinkan. Pasokan listrik dibatasi, BBM sulit didapat dan sangat mahal, stok bahan pangan boleh dikatakan tidak ada, karena Srilanka tak mampu lagi impor bahan pangan.
BACA JUGA:Bertemu Pengusaha Besar AS, Menko Airlangga Bahas Krisis Pangan hingga IKN

Krisis ekonomi yang parah diikuti oleh krisis politik. Rakyat Srilanka pun marah, kerusuhan pun meletus. Mereka pun memaksa Presiden dan Perdana Menteri Srilanka untuk mengundurkan diri. Srilanka tidak sendiri, menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat ini, ada sembilan negara yang terancam bangkrut dalam waktu dekat. Afghanistan, Argentina, Mesir, Laos, Lebanon, Myanmar, Pakistan, Turki dan Zimbabwe menjadi negara yang terancam bernasib sama dengan Srilanka.
Miliader dunia, Bill Gate mengungkapkan bahwa badai krisis ekonomi global semakin mendekat. Hal itu terjadi akibat tingginya inflasi di Amerika Serikat (AS) terdampak pandemi yang diperparah konflik Rusia dan Ukraina. inflasi di Negeri Paman Sam pada Juni kembali melejit mencapai 9,1% secara tahunan (year on year/yoy), tertinggi dalam 41 tahun terakhir. Banyak ekonom agar mewaspadai tingginya inflasi di Amerika Serikat bisa berimbas pada banyak negara di dunia.
BACA JUGA:Menteri Bahlil: Kurang Pas Kalau Indonesia Dianggap Krisis
Presiden Joko Widodo juga mengingatkan bahwa krisis ekonomi global memang sudah di depan mata. Menurut Kepala Negara, saat ini ada 60 negara di dunia yang kondisi ekonominya terancam ambruk. Dari 60 negara tersebut, 42 negara sudah mengarah ke arah sana.
&quot;Siapa yang mau membantu mereka, mungkin kalau 1, 2, 3 negara krisis bisa dibantu dari lembaga-lembaga Internasional, tapi kalau sudah 42 negara? Kita harus berjaga-jaga, waspada, hati-hati. Kita tidak berada pada posisi normal,&quot; jelas Presiden.
Sebenarnya lembaga keuangan dunia seperti IMF, Bank Dunia dan lain-lain sudah memprediksi Pandemi Covid 19 akan mempengaruhi kondisi ekonomi dunia. Tanda-tanda ke arah sana, bisa dilihat saat negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar di dunia mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif. Bank Dunia (2020), sudah mengingatkan akan ada negara yang tak mampu membayar utangnya dalam 2-3 tahun ke depan.Krisis ekonomi global makin diperparah oleh meletusnya perang  Rusia-Ukraina. Selama ini dua negara Eropa ini menjadi produsen dan  eksportir komoditas utama dunia. Mulai dari minyak dan gas, batubara,  gandum hingga bahan baku pupuk. Perang yang berkecamuk antara  Rusia-Ukraina ini mengganggu produksi dan distribusi komoditas utama  yang dibutuhkan dunia.
Dampak perang di kedua negara tersebut sudah mulai dirasakan oleh  para petani di Indonesia. Seperti yang disampaikan oleh Miswanti dan  juga Roni Setiawan petani tanaman pangan (padi) Dari Desa Ngadirejo,  Kecamatan Ermoko Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Di Bulan Juli ini,  mereka sudah tidak bisa menebus pupuk bersubsidi yang disediakan  pemerintah. Ini terjadi karena memang kurangnya pasokan bahan baku  membuat pupuk tersendat.
Selisih harga pupuk bersubsidi dengan nonsubsidi di   bsia mencapai  tiga kali lipat. &amp;ldquo;Kami memohon dengan sangat kepada Kementrian Pertanian  agar pasokan pupuk bersubsidi bisa ditambah kembali,&amp;rdquo; kata Miswati  sambil memohon. Roni Setiawan menambahkan tanpa tambahan pupuk yang  memadai sudah bisa diprediksi hasil panen akan merosot jauh baik dari  sisi kualitas maupun kuantitas.
Secara umum kondisi ekonomi Indonesia mamang masih tergolong kuat,  bahkan boleh dikatakan salah satu yang terkuat di dunia. Buktinya, saat  negara-negara lain mengalami lonjakan inflasi, di Indonesia inflasi  masih terjaga. BPS mencatat pada Mei 2022 inflasi di Indonesia sebesar  0,40%. Bandingkan dengan inflasi di bulan yang sama di Amerika Serikat  yang mencapai 8,6%, Thailand (7,1%), India (7%), Korea Selatan (5,4%)  dan China (2,1%).
Meski kondisi ekonomi tergolong kuat, jika negara-negara lain  terpuruk, dampaknya pasti akan dirasakan Indonesia. Untuk itulah dalam  setiap kesempatan pemerintah terus mewanti-wanti agar semua pihak  mewaspadai dan mencermati kondisi ekonomi global.Sebagai news aggregator terbesar saat ini, News RCTI+ selalu   menampilkan kondisi ekonomi teranyar di dalam negeri maupun global.   Termasuk juga informasi pasang surut indeks pasar modal di Tanah Air   maupun dunia secara berkala ditampilkan. Begitu pula dengan harga   komoditas dunia seperti emas, gandum, batubara, minyak bumi dan   lain-lain. Inflasi, pertumbuhan ekonomi dan indikator ekonomi lainnya   dari berbagai negara menjadi salah satu berita utama yang disajikan   setiap hari.
Informasi tersebut ditayangkan agar menjadi gambaran dan panduan bagi   para pemangku kepentingan agar dapat membuat kebijakan yang tepat  untuk  menjaga kondisi ekonomi dalam negeri. Sekaligus juga sebagai  masukan  bagi masyarakat untuk tidak panik dalam menghadapi kondisi  ekonomi dalam  beberapa waktu ke depan.
&quot;News RCTI+ terus berkomitmen untuk memberitakan berbagai fenomena   menarik, berdampak luas dan menjadi perhatian publik,&amp;rsquo;&amp;rsquo; kata Co-Managing   Director RCTI+, Valencia Tanoesoedibjo. Dia berharap News RCTI+ bisa   menambah pengetahuan, hiburan sekaligus sumber inspirasi bagi masyarakat   atas informasi penting yang disampaikan setiap hari.
Sebanyak 93 publisher menyuplai ribuan berita setiap hari ke News   RCTI+ dalam berbagai isu di segala bidang. Ribuan berita tersebut   ditampung dalam 14 kategori atau kanal. Yaitu, Berita Utama, Terkini,   Populer, Otomotif, Travel, Ekonomi, Gaya Hidup, Muslim, Seleb,   Teknologi, Olahraga, Global, Nasional, dan Infografis. News RCTI+ juga   sudah menyediakan Topik Menarik untuk memudahkan pembaca mencari   kumpulan berita menarik yang disukainya.
Publisher-publisher yang telah berkolaborasi dengan RCTI+   diantaranya: Okezone.com, Sindonews.com, Inews.id, Republika.com,   Jawapos.com, Bisnis.com, Brilio.net, Tabloidbintang.com, Katadata.co.id,   Rmol.id, rm.id, Infobanknews.com, dan Inilah.com. Selain itu ada   Indozone.id, Ayojakarta.com, Pojoksatu.id, Alinea.id, Gwigwi.com,   dw.com, todaykpop.com, Indosport, Skor.id, dan masih banyak lagi.
Tak hanya publisher yang home base-nya di Jakarta, News RCTI+ juga   menggandeng banyak publisher berpengaruh yang markasnya di daerah. Sebut   saja Radarjogja.com, Bantenhits.com, Ayosemarang.com, Ayobogor.com,   Suarantb.com, Lombokpost.com, Suarasurabaya.net, Sumselupdate.com,   Bukamatanews.id, Mandalapos.co.id dan masih banyak yang lain.
News menjadi satu bagian penting dari lima pilar yang ada di RCTI+.   Selain news, empat pilar lainnya adalah video, audio, home of talent   (HOT), dan games. Sehingga jika sudah cukup dengan informasi berita di   News RCTI+, para pembaca juga bisa langsung melanjutkan petualangannya   dengan menonton original series dan original movies, mendengarkan radio,   bermain games hingga menonton bakat-bakat para seniman di home of   talent (HOT). Banyak hiburan dan juga pengetahuan penting dan   mengasyikkan tersaji sangat lengkap di RCTI+.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Krisis ekonomi global sudah mulai dirasakan oleh banyak negara di dunia. Mereka bersiap untuk menghadapi dampak resesi yang mungkin menyerang negaranya termasuk juga di Indonesia. Banyak faktor yang memicu krisis global mulai dampak pandemi Covid-19 hingga diperparah oleh perang Rusia dengan Ukraina yang belum menunjukkan tanda berakhir. Simak News RCTI+ yang terus memantau pergerakan ekonomi dunia yang kini sedang tidak baik-baik saja.
Krisis ekonomi global semakin nyata terlihat. Apa yang terjadi dengan Srilanka yang tak mampu membayar kewajiban obligasi (surat utang) di tahun ini, menjadi salah satu buktinya. Negara yang terletak di kawasan Asia Selatan itu masuk dalam krisis ekonomi yang parah dan dinyatakan bangkrut. Kondisi  penduduk Srilanka pun memprihatinkan. Pasokan listrik dibatasi, BBM sulit didapat dan sangat mahal, stok bahan pangan boleh dikatakan tidak ada, karena Srilanka tak mampu lagi impor bahan pangan.
BACA JUGA:Bertemu Pengusaha Besar AS, Menko Airlangga Bahas Krisis Pangan hingga IKN

Krisis ekonomi yang parah diikuti oleh krisis politik. Rakyat Srilanka pun marah, kerusuhan pun meletus. Mereka pun memaksa Presiden dan Perdana Menteri Srilanka untuk mengundurkan diri. Srilanka tidak sendiri, menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat ini, ada sembilan negara yang terancam bangkrut dalam waktu dekat. Afghanistan, Argentina, Mesir, Laos, Lebanon, Myanmar, Pakistan, Turki dan Zimbabwe menjadi negara yang terancam bernasib sama dengan Srilanka.
Miliader dunia, Bill Gate mengungkapkan bahwa badai krisis ekonomi global semakin mendekat. Hal itu terjadi akibat tingginya inflasi di Amerika Serikat (AS) terdampak pandemi yang diperparah konflik Rusia dan Ukraina. inflasi di Negeri Paman Sam pada Juni kembali melejit mencapai 9,1% secara tahunan (year on year/yoy), tertinggi dalam 41 tahun terakhir. Banyak ekonom agar mewaspadai tingginya inflasi di Amerika Serikat bisa berimbas pada banyak negara di dunia.
BACA JUGA:Menteri Bahlil: Kurang Pas Kalau Indonesia Dianggap Krisis
Presiden Joko Widodo juga mengingatkan bahwa krisis ekonomi global memang sudah di depan mata. Menurut Kepala Negara, saat ini ada 60 negara di dunia yang kondisi ekonominya terancam ambruk. Dari 60 negara tersebut, 42 negara sudah mengarah ke arah sana.
&quot;Siapa yang mau membantu mereka, mungkin kalau 1, 2, 3 negara krisis bisa dibantu dari lembaga-lembaga Internasional, tapi kalau sudah 42 negara? Kita harus berjaga-jaga, waspada, hati-hati. Kita tidak berada pada posisi normal,&quot; jelas Presiden.
Sebenarnya lembaga keuangan dunia seperti IMF, Bank Dunia dan lain-lain sudah memprediksi Pandemi Covid 19 akan mempengaruhi kondisi ekonomi dunia. Tanda-tanda ke arah sana, bisa dilihat saat negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar di dunia mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif. Bank Dunia (2020), sudah mengingatkan akan ada negara yang tak mampu membayar utangnya dalam 2-3 tahun ke depan.Krisis ekonomi global makin diperparah oleh meletusnya perang  Rusia-Ukraina. Selama ini dua negara Eropa ini menjadi produsen dan  eksportir komoditas utama dunia. Mulai dari minyak dan gas, batubara,  gandum hingga bahan baku pupuk. Perang yang berkecamuk antara  Rusia-Ukraina ini mengganggu produksi dan distribusi komoditas utama  yang dibutuhkan dunia.
Dampak perang di kedua negara tersebut sudah mulai dirasakan oleh  para petani di Indonesia. Seperti yang disampaikan oleh Miswanti dan  juga Roni Setiawan petani tanaman pangan (padi) Dari Desa Ngadirejo,  Kecamatan Ermoko Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Di Bulan Juli ini,  mereka sudah tidak bisa menebus pupuk bersubsidi yang disediakan  pemerintah. Ini terjadi karena memang kurangnya pasokan bahan baku  membuat pupuk tersendat.
Selisih harga pupuk bersubsidi dengan nonsubsidi di   bsia mencapai  tiga kali lipat. &amp;ldquo;Kami memohon dengan sangat kepada Kementrian Pertanian  agar pasokan pupuk bersubsidi bisa ditambah kembali,&amp;rdquo; kata Miswati  sambil memohon. Roni Setiawan menambahkan tanpa tambahan pupuk yang  memadai sudah bisa diprediksi hasil panen akan merosot jauh baik dari  sisi kualitas maupun kuantitas.
Secara umum kondisi ekonomi Indonesia mamang masih tergolong kuat,  bahkan boleh dikatakan salah satu yang terkuat di dunia. Buktinya, saat  negara-negara lain mengalami lonjakan inflasi, di Indonesia inflasi  masih terjaga. BPS mencatat pada Mei 2022 inflasi di Indonesia sebesar  0,40%. Bandingkan dengan inflasi di bulan yang sama di Amerika Serikat  yang mencapai 8,6%, Thailand (7,1%), India (7%), Korea Selatan (5,4%)  dan China (2,1%).
Meski kondisi ekonomi tergolong kuat, jika negara-negara lain  terpuruk, dampaknya pasti akan dirasakan Indonesia. Untuk itulah dalam  setiap kesempatan pemerintah terus mewanti-wanti agar semua pihak  mewaspadai dan mencermati kondisi ekonomi global.Sebagai news aggregator terbesar saat ini, News RCTI+ selalu   menampilkan kondisi ekonomi teranyar di dalam negeri maupun global.   Termasuk juga informasi pasang surut indeks pasar modal di Tanah Air   maupun dunia secara berkala ditampilkan. Begitu pula dengan harga   komoditas dunia seperti emas, gandum, batubara, minyak bumi dan   lain-lain. Inflasi, pertumbuhan ekonomi dan indikator ekonomi lainnya   dari berbagai negara menjadi salah satu berita utama yang disajikan   setiap hari.
Informasi tersebut ditayangkan agar menjadi gambaran dan panduan bagi   para pemangku kepentingan agar dapat membuat kebijakan yang tepat  untuk  menjaga kondisi ekonomi dalam negeri. Sekaligus juga sebagai  masukan  bagi masyarakat untuk tidak panik dalam menghadapi kondisi  ekonomi dalam  beberapa waktu ke depan.
&quot;News RCTI+ terus berkomitmen untuk memberitakan berbagai fenomena   menarik, berdampak luas dan menjadi perhatian publik,&amp;rsquo;&amp;rsquo; kata Co-Managing   Director RCTI+, Valencia Tanoesoedibjo. Dia berharap News RCTI+ bisa   menambah pengetahuan, hiburan sekaligus sumber inspirasi bagi masyarakat   atas informasi penting yang disampaikan setiap hari.
Sebanyak 93 publisher menyuplai ribuan berita setiap hari ke News   RCTI+ dalam berbagai isu di segala bidang. Ribuan berita tersebut   ditampung dalam 14 kategori atau kanal. Yaitu, Berita Utama, Terkini,   Populer, Otomotif, Travel, Ekonomi, Gaya Hidup, Muslim, Seleb,   Teknologi, Olahraga, Global, Nasional, dan Infografis. News RCTI+ juga   sudah menyediakan Topik Menarik untuk memudahkan pembaca mencari   kumpulan berita menarik yang disukainya.
Publisher-publisher yang telah berkolaborasi dengan RCTI+   diantaranya: Okezone.com, Sindonews.com, Inews.id, Republika.com,   Jawapos.com, Bisnis.com, Brilio.net, Tabloidbintang.com, Katadata.co.id,   Rmol.id, rm.id, Infobanknews.com, dan Inilah.com. Selain itu ada   Indozone.id, Ayojakarta.com, Pojoksatu.id, Alinea.id, Gwigwi.com,   dw.com, todaykpop.com, Indosport, Skor.id, dan masih banyak lagi.
Tak hanya publisher yang home base-nya di Jakarta, News RCTI+ juga   menggandeng banyak publisher berpengaruh yang markasnya di daerah. Sebut   saja Radarjogja.com, Bantenhits.com, Ayosemarang.com, Ayobogor.com,   Suarantb.com, Lombokpost.com, Suarasurabaya.net, Sumselupdate.com,   Bukamatanews.id, Mandalapos.co.id dan masih banyak yang lain.
News menjadi satu bagian penting dari lima pilar yang ada di RCTI+.   Selain news, empat pilar lainnya adalah video, audio, home of talent   (HOT), dan games. Sehingga jika sudah cukup dengan informasi berita di   News RCTI+, para pembaca juga bisa langsung melanjutkan petualangannya   dengan menonton original series dan original movies, mendengarkan radio,   bermain games hingga menonton bakat-bakat para seniman di home of   talent (HOT). Banyak hiburan dan juga pengetahuan penting dan   mengasyikkan tersaji sangat lengkap di RCTI+.</content:encoded></item></channel></rss>
