<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>OJK Beberkan 5 Tantangan Metaverse, Keamanan Data hingga Serangan Siber</title><description>Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan lima tantangan metaverse beserta risiko yang ada.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/27/320/2636917/ojk-beberkan-5-tantangan-metaverse-keamanan-data-hingga-serangan-siber</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/07/27/320/2636917/ojk-beberkan-5-tantangan-metaverse-keamanan-data-hingga-serangan-siber"/><item><title>OJK Beberkan 5 Tantangan Metaverse, Keamanan Data hingga Serangan Siber</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/27/320/2636917/ojk-beberkan-5-tantangan-metaverse-keamanan-data-hingga-serangan-siber</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/07/27/320/2636917/ojk-beberkan-5-tantangan-metaverse-keamanan-data-hingga-serangan-siber</guid><pubDate>Rabu 27 Juli 2022 08:11 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/07/27/320/2636917/ojk-beberkan-5-tantangan-metaverse-keamanan-data-hingga-serangan-siber-VchwyVglzD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">5 tantangan metaverse (Foto: The Standart)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/07/27/320/2636917/ojk-beberkan-5-tantangan-metaverse-keamanan-data-hingga-serangan-siber-VchwyVglzD.jpg</image><title>5 tantangan metaverse (Foto: The Standart)</title></images><description>JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan lima tantangan metaverse beserta risiko yang ada. Deputi Komisioner Perbankan I OJK Teguh Supangkat mengatakan, pengalaman para pengguna metaverse yang telah mencoba untuk masuk dalam layanan tersebut memberikan kesan bahwa tidak sesuai dengan harapan awal.
&amp;ldquo;Selain itu muncul konsen pengguna pada potensi penyalahgunaan data pribadi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Ini perlu dimitigasi dengan baik,&amp;rdquo; ungkap Teguh dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (27/7/2022).
BACA JUGA:FMIPA UGM Akan Tampilkan Purwarupa Candi Borobudur Versi Metaverse

Pernyataan Teguh adalah menanggapi sebuah survei pengalaman pertama ber-metaverse yang dialami oleh 1.000 responden pada periode survey Januari 2022.
Teguh juga mengutip sebuah data global, bahwa hingga 2022 Market Cap Web 2.0 Metaverse telah mencapai USD14,8 triliun. Sementara pengguna Web 3.0 Virtual Worlds telah mencapai 50 ribu users di seluruh dunia.
BACA JUGA:Mark Zuckerberg Prediksi 1 Miliar Orang Pakai Dunia Metaverse

Sementara revenue yang telah dibukukan sepanjang 2021 dari ruang virtual ini mencapai USD38,85 miliar. Adapun juga market size untuk AR, baik VR dan Mixed Reality telah mencapai USD28 miliar.
Untuk itu, Teguh memberikan sedikitnya lima tantangan yang perlu diantisipasi terkait perkembangan potensial metaverse saat ini.
1. Safety
Di mana para pengguna metaverse itu terancam dengan Cyberbullying, Stalking dan perilaku tidak menyenangkan di dunia virtual itu.
2. Data
Ini terkait dengan keamanan dan kerahasiaan data, mengingat ada identitas palsu yang memungkinkan terjadi.3. Security
Mengingat bertautan dengan area IT, di dunia metaverse juga ada ancaman serangan Cyber, dan Fraud.
4. Outsourcing.
Untuk diketahui, dalam penyelenggaran metaverse yang kebanyakan dikelola secara outsourcing, juga menimbulkan risiko tersendiri.
5. Collaboration
Dalam metaverse pengguna harus  berkolaborasi sebagai sebuah ekosistem. Sehingga ketergantungan antar  ekosistem akan beresiko ketika satu ekosistem alami down.
&amp;ldquo;Sebuah survey pada Maret 2022, mencatat bahwa potensial konsen  tertinggi yang harus diwaspadai oleh penggunaan data pribadi di dalam  metaverse, karena ada potensi online abuse, cyberbullying, dan persoalan  safety. Jadi teknologi bergerak memberikan potensi sekaligus risiko,&amp;rdquo;  jelas Teguh.
Untuk itu, dalam pengembangan teknologi metaverse menurut Teguh,  terdapat beberapa area yang perlu dipersiapkan dan dimatangkan yaitu  terkait dengan teknologinya sendiri.
Kemudian terkait dengan peningkatan kinerja untuk avatar dan definisi  standar aset digital agar dapat ditransfer antar dunia maya.
&amp;ldquo;Termasuk juga infrastruktur komersial yang mengintegrasikan dunia  maya berupa web 2.0 maupun web 3.0 dengan sistem pembayaran keuangan  tradisional. Ada evolusi sistem pembayaran berbasis digital webs aset,&amp;rdquo;  imbuhnya.
Hal lain menurut Teguh terkait dengan infrastruktur pajak, akuntansi,  dan sosial yang juga harus terus dikembangkan untuk bisa meregulasi  dengan sistem akuntansi yang ada, dikaitkan dengan metaverse.</description><content:encoded>JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan lima tantangan metaverse beserta risiko yang ada. Deputi Komisioner Perbankan I OJK Teguh Supangkat mengatakan, pengalaman para pengguna metaverse yang telah mencoba untuk masuk dalam layanan tersebut memberikan kesan bahwa tidak sesuai dengan harapan awal.
&amp;ldquo;Selain itu muncul konsen pengguna pada potensi penyalahgunaan data pribadi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Ini perlu dimitigasi dengan baik,&amp;rdquo; ungkap Teguh dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (27/7/2022).
BACA JUGA:FMIPA UGM Akan Tampilkan Purwarupa Candi Borobudur Versi Metaverse

Pernyataan Teguh adalah menanggapi sebuah survei pengalaman pertama ber-metaverse yang dialami oleh 1.000 responden pada periode survey Januari 2022.
Teguh juga mengutip sebuah data global, bahwa hingga 2022 Market Cap Web 2.0 Metaverse telah mencapai USD14,8 triliun. Sementara pengguna Web 3.0 Virtual Worlds telah mencapai 50 ribu users di seluruh dunia.
BACA JUGA:Mark Zuckerberg Prediksi 1 Miliar Orang Pakai Dunia Metaverse

Sementara revenue yang telah dibukukan sepanjang 2021 dari ruang virtual ini mencapai USD38,85 miliar. Adapun juga market size untuk AR, baik VR dan Mixed Reality telah mencapai USD28 miliar.
Untuk itu, Teguh memberikan sedikitnya lima tantangan yang perlu diantisipasi terkait perkembangan potensial metaverse saat ini.
1. Safety
Di mana para pengguna metaverse itu terancam dengan Cyberbullying, Stalking dan perilaku tidak menyenangkan di dunia virtual itu.
2. Data
Ini terkait dengan keamanan dan kerahasiaan data, mengingat ada identitas palsu yang memungkinkan terjadi.3. Security
Mengingat bertautan dengan area IT, di dunia metaverse juga ada ancaman serangan Cyber, dan Fraud.
4. Outsourcing.
Untuk diketahui, dalam penyelenggaran metaverse yang kebanyakan dikelola secara outsourcing, juga menimbulkan risiko tersendiri.
5. Collaboration
Dalam metaverse pengguna harus  berkolaborasi sebagai sebuah ekosistem. Sehingga ketergantungan antar  ekosistem akan beresiko ketika satu ekosistem alami down.
&amp;ldquo;Sebuah survey pada Maret 2022, mencatat bahwa potensial konsen  tertinggi yang harus diwaspadai oleh penggunaan data pribadi di dalam  metaverse, karena ada potensi online abuse, cyberbullying, dan persoalan  safety. Jadi teknologi bergerak memberikan potensi sekaligus risiko,&amp;rdquo;  jelas Teguh.
Untuk itu, dalam pengembangan teknologi metaverse menurut Teguh,  terdapat beberapa area yang perlu dipersiapkan dan dimatangkan yaitu  terkait dengan teknologinya sendiri.
Kemudian terkait dengan peningkatan kinerja untuk avatar dan definisi  standar aset digital agar dapat ditransfer antar dunia maya.
&amp;ldquo;Termasuk juga infrastruktur komersial yang mengintegrasikan dunia  maya berupa web 2.0 maupun web 3.0 dengan sistem pembayaran keuangan  tradisional. Ada evolusi sistem pembayaran berbasis digital webs aset,&amp;rdquo;  imbuhnya.
Hal lain menurut Teguh terkait dengan infrastruktur pajak, akuntansi,  dan sosial yang juga harus terus dikembangkan untuk bisa meregulasi  dengan sistem akuntansi yang ada, dikaitkan dengan metaverse.</content:encoded></item></channel></rss>
