<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>The Fed Naikkan Suku Bunga 0,75% demi Redam Inflasi AS</title><description>Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,75% pada  pertemuan dewan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (FOMC).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/28/320/2637564/the-fed-naikkan-suku-bunga-0-75-demi-redam-inflasi-as</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/07/28/320/2637564/the-fed-naikkan-suku-bunga-0-75-demi-redam-inflasi-as"/><item><title>The Fed Naikkan Suku Bunga 0,75% demi Redam Inflasi AS</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/28/320/2637564/the-fed-naikkan-suku-bunga-0-75-demi-redam-inflasi-as</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/07/28/320/2637564/the-fed-naikkan-suku-bunga-0-75-demi-redam-inflasi-as</guid><pubDate>Kamis 28 Juli 2022 06:55 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/07/28/320/2637564/the-fed-naikkan-suku-bunga-0-75-demi-redam-inflasi-as-1xQKhXZXkT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">The Fed naikkan suku bunga 0,75% (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/07/28/320/2637564/the-fed-naikkan-suku-bunga-0-75-demi-redam-inflasi-as-1xQKhXZXkT.jpg</image><title>The Fed naikkan suku bunga 0,75% (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - The Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,75% pada pertemuan dewan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (FOMC).
Para pejabat Fed memilih dengan suara bulat keputusan tersebut yang membuat patokan suku bunga AS berada di kisaran 2,25% - 2,5%.
Kenaikan 75 basis poin ini mengangkat patokan suku bunga Fed berada di kisaran 2,25% - 2,5%. Ini juga menandai kenaikan suku bunga keempat Fed sejak Maret, dan merupakan laju pengetatan tercepat sejak 1981, dikutip dari Associated Press (AP), Kamis (28/7/2022).
BACA JUGA:Indeks Dolar AS Menguat Menanti Kenaikan Suku Bunga The Fed

Tingkat suku bunga AS saat ini menyamai siklus pengetatan di tahun 2016-2018, yang membawa suku bunga acuan ke wilayah yang dianggap Fed netral, yakni tidak mendorong atau memperlambat ekonomi.
Sebelumnya sejumlah pengamat memproyeksikan Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin, melanjutkan kenaikan yang sama pada pertemuan Juni lalu.
BACA JUGA:Wall Street Melemah Jelang Pertemuan The Fed

Gubernur Fed Jerome Powell menegaskan langkah ini diambil demi menahan gejolak inflasi, mengingat indeks harga konsumen AS mengalami lonjakan cukup signifikan pada periode terakhir sebesar 9,1% yoy, yang notabene tertinggi sejak 1981.
Dengan suku bunga pinjaman yang tinggi, maka hal itu akan membuat warga AS akan membayar lebih mahal atas cicilan rumah, pinjaman mobil ataupun kredit bisnis sejenis.Pada gilirannya, dengan kondisi seperti itu, maka konsumen  kemungkinan akan mengurangi aktivitas peminjaman dan urusan belanja  barang, yang diharapkan dapat mendinginkan ekonomi dan memperlambat laju  inflasi. Namun, hal tersebut dikhawatirkan dapat memukul pertumbuhan  ekonomi AS dan membawanya masuk dalam jurang resesi.
Sejumlah analis sebelumnya meyakini tanda-tanda bahwa ekonomi Paman  Sam bakal melambat dan bahkan mungkin menyusut pada paruh pertama tahun  ini.
Seiring hal itu, kekhawatiran terhadap Fed pun semakin menguat bahwa  mereka akan bertindak lebih agresif yang pada akhirnya dapat menyebabkan  penurunan aktivitas ekonomi yang dapat menyebabkan adanya pemutusan  hubungan kerja (PHK) dan meningkatnya pengangguran.
Sementara itu, lonjakan inflasi dan ketakutan akan resesi juga telah  mengikis kepercayaan konsumen dan menimbulkan kecemasan publik terkait  kondisi makro ekonomi. Hal tersebut juga mengirimkan sinyal waspada bagi  negara-negara berkembang yang masih bergantung terhadap investasi asing  yang menggunakan mata uang dolar.</description><content:encoded>JAKARTA - The Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,75% pada pertemuan dewan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (FOMC).
Para pejabat Fed memilih dengan suara bulat keputusan tersebut yang membuat patokan suku bunga AS berada di kisaran 2,25% - 2,5%.
Kenaikan 75 basis poin ini mengangkat patokan suku bunga Fed berada di kisaran 2,25% - 2,5%. Ini juga menandai kenaikan suku bunga keempat Fed sejak Maret, dan merupakan laju pengetatan tercepat sejak 1981, dikutip dari Associated Press (AP), Kamis (28/7/2022).
BACA JUGA:Indeks Dolar AS Menguat Menanti Kenaikan Suku Bunga The Fed

Tingkat suku bunga AS saat ini menyamai siklus pengetatan di tahun 2016-2018, yang membawa suku bunga acuan ke wilayah yang dianggap Fed netral, yakni tidak mendorong atau memperlambat ekonomi.
Sebelumnya sejumlah pengamat memproyeksikan Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin, melanjutkan kenaikan yang sama pada pertemuan Juni lalu.
BACA JUGA:Wall Street Melemah Jelang Pertemuan The Fed

Gubernur Fed Jerome Powell menegaskan langkah ini diambil demi menahan gejolak inflasi, mengingat indeks harga konsumen AS mengalami lonjakan cukup signifikan pada periode terakhir sebesar 9,1% yoy, yang notabene tertinggi sejak 1981.
Dengan suku bunga pinjaman yang tinggi, maka hal itu akan membuat warga AS akan membayar lebih mahal atas cicilan rumah, pinjaman mobil ataupun kredit bisnis sejenis.Pada gilirannya, dengan kondisi seperti itu, maka konsumen  kemungkinan akan mengurangi aktivitas peminjaman dan urusan belanja  barang, yang diharapkan dapat mendinginkan ekonomi dan memperlambat laju  inflasi. Namun, hal tersebut dikhawatirkan dapat memukul pertumbuhan  ekonomi AS dan membawanya masuk dalam jurang resesi.
Sejumlah analis sebelumnya meyakini tanda-tanda bahwa ekonomi Paman  Sam bakal melambat dan bahkan mungkin menyusut pada paruh pertama tahun  ini.
Seiring hal itu, kekhawatiran terhadap Fed pun semakin menguat bahwa  mereka akan bertindak lebih agresif yang pada akhirnya dapat menyebabkan  penurunan aktivitas ekonomi yang dapat menyebabkan adanya pemutusan  hubungan kerja (PHK) dan meningkatnya pengangguran.
Sementara itu, lonjakan inflasi dan ketakutan akan resesi juga telah  mengikis kepercayaan konsumen dan menimbulkan kecemasan publik terkait  kondisi makro ekonomi. Hal tersebut juga mengirimkan sinyal waspada bagi  negara-negara berkembang yang masih bergantung terhadap investasi asing  yang menggunakan mata uang dolar.</content:encoded></item></channel></rss>
