<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita UMKM Bangkit Berkat Go Digital</title><description>Pandemi covid-19 sempat mematikan usaha para pelaku UMKM. Untuk itu, para pelaku UMKM harus memutar otak.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/28/455/2637903/cerita-umkm-bangkit-berkat-go-digital</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/07/28/455/2637903/cerita-umkm-bangkit-berkat-go-digital"/><item><title>Cerita UMKM Bangkit Berkat Go Digital</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/07/28/455/2637903/cerita-umkm-bangkit-berkat-go-digital</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/07/28/455/2637903/cerita-umkm-bangkit-berkat-go-digital</guid><pubDate>Kamis 28 Juli 2022 15:38 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/07/28/455/2637903/cerita-umkm-bangkit-berkat-go-digital-eYVYHP4n1l.jpg" expression="full" type="image/jpeg">UMKM go digital (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/07/28/455/2637903/cerita-umkm-bangkit-berkat-go-digital-eYVYHP4n1l.jpg</image><title>UMKM go digital (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Pandemi covid-19 sempat mematikan usaha para pelaku UMKM. Untuk itu, para pelaku UMKM harus memutar otak dengan mulai menjajakan dagangannya melalui platform digital.
Hasil survei yang dilakukan oleh United Nation Development Programme (UNDP) dan Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia menyebutkan bahwa, sekitar 44% UMKM yang disurvei, telah bergabung dan berjualan di platform e-commerce selama pandemi.
BACA JUGA:Anggaran BLT UMKM Ditambah, Kapan Sih Cairnya?

Riset lainnya yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) pada 2020 turut mencatat tiga provinsi dengan peningkatan jumlah pelaku usaha tertinggi di salah satu platform e-commerce, Tokopedia, selama pandemi yaitu Bali (66,2%), Yogyakarta (42,2%) dan DKI Jakarta (28,3%).
Pemilik IniTempe, Beni Santoso, baru mulai mengenal dan memanfaatkan platform digital saat pandemi tahun 2020, setelah sebelumnya sejak berdiri tahun 2016 hanya menjual produk tempenya secara offline ke berbagai restoran di Bali.
BACA JUGA:Manfaat Hak Kekayaan Intelektual, UMKM Buruan Daftar Mereknya 

Namun, pandemi COVID-19 membuat banyak restoran di Bali tutup dan memaksa Beni untuk mencari solusi agar bisnisnya tetap berjalan. Ditambah lagi, mayoritas pembeli IniTempe merupakan warga asing yang jumlahnya terus menurun sejak pandemi.
Setelah beralih ke online, dengan perjuangan dari nol mempelajari teknologi, IniTempe pun mulai menyasar pasar lokal dengan memasarkan produknya ke luar pulau Bali melalui e-commerce.&quot;Kita tidak akan bisa menang di kandang sendiri. Oleh karena itu,  saya memutuskan untuk jualan online. Berkat go digital saya malah bisa  ekspansi bisnis ke kota dan pulau lain. Walaupun di tengah pandemi,  IniTempe tidak melakukan PHK. Wisatawan lokal pun jadi tau soal  IniTempe, &quot; jelas Beni.
Kini, produk IniTempe yang dipasarkan pun menjadi sangat beragam.  Yang tadinya hanya menjual tempe segar, sekarang IniTempe mulai  menawarkan berbagai jenis produk olahan berbahan dasar tempe seperti  cokelat tempe, keripik tempe, dan lainnya.
Selain menjual berbagai produk olahan tempe, IniTempe juga membuka  masterclass, yakni kelas bagi orang-orang yang tertarik untuk belajar  mengenai proses pembuatan tempe. Kelas ini pun terbuka bagi masyarakat  lokal maupun wisatawan mancanegara, bahkan dari India hingga China.
Kemudian produk asal Bali, Grande Granola, fokus memproduksi sereal  berbahan dasar granola yang menggunakan gandum bersertifikasi organik  dan tanpa bahan pengawet. Luciana Dewi, pemilik Grande Granola, turut  menceritakan perjuangannya dalam mengembangkan bisnis di tengah pandemi.
Sama halnya dengan IniTempe, awalnya Grande Granola mengandalkan  pemasukan dari turis lokal maupun turis asing. Namun, sejak pandemi  jumlah turis di Bali menurun cukup signifikan. Hal ini turut berdampak  terhadap bisnis Grande Granola. Luciana mengatakan, &amp;ldquo;70% penghasilan  sebelum pandemi berasal dari turis asing dan turis lokal. Setelah  pandemi, omzet kami jatuh hingga 40%.&amp;rdquo;Akhirnya, Luciana pun mencari strategi baru demi bangkit dari   keterpurukan meskipun penjualannya terus menurun. Salah satunya dengan   mengembangkan bisnisnya secara online melalui platform digital.
Luciana menjelaskan &amp;ldquo;Sejak &amp;lsquo;go digital&amp;rsquo;, Grande Granola juga mulai   dikenal dan jumlah pembeli pun terus meningkat. Pendapatan kami di masa   pandemi 80% berasal dari salah satu platform e-commerce asal Indonesia   yaitu Tokopedia.
Berawal dari omzet yang tidak seberapa saat baru memanfaatkan   platform e-commerce, omzet bulanan Grande Granola yang berasal dari   Tokopedia saat ini telah mencapai puluhan juta.
&amp;ldquo;Kami tidak menyerah walaupun dihadapi dengan pandemi. Waktu luang   yang dimiliki, kami gunakan untuk memikirkan strategi bisnis dan secara   aktif mengembangkan bisnis secara online. Nyatanya, dengan adanya   pandemi kami menjadi tau potensi yang dimiliki dengan &amp;lsquo;go digital&amp;rsquo;,   ucapnya.
Dalam mengembangkan bisnisnya, Luciana juga tidak lupa memberdayakan   masyarakat sekitar dan berbagi kepada yang membutuhkan. Saat ini,  Grande  Granola telah memberdayakan perempuan lokal di Bali dalam  operasinya  serta melakukan kegiatan-kegiatan sosial seperti berdonasi  untuk  membiayai sekolah anak-anak yang membutuhkan.</description><content:encoded>JAKARTA - Pandemi covid-19 sempat mematikan usaha para pelaku UMKM. Untuk itu, para pelaku UMKM harus memutar otak dengan mulai menjajakan dagangannya melalui platform digital.
Hasil survei yang dilakukan oleh United Nation Development Programme (UNDP) dan Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia menyebutkan bahwa, sekitar 44% UMKM yang disurvei, telah bergabung dan berjualan di platform e-commerce selama pandemi.
BACA JUGA:Anggaran BLT UMKM Ditambah, Kapan Sih Cairnya?

Riset lainnya yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) pada 2020 turut mencatat tiga provinsi dengan peningkatan jumlah pelaku usaha tertinggi di salah satu platform e-commerce, Tokopedia, selama pandemi yaitu Bali (66,2%), Yogyakarta (42,2%) dan DKI Jakarta (28,3%).
Pemilik IniTempe, Beni Santoso, baru mulai mengenal dan memanfaatkan platform digital saat pandemi tahun 2020, setelah sebelumnya sejak berdiri tahun 2016 hanya menjual produk tempenya secara offline ke berbagai restoran di Bali.
BACA JUGA:Manfaat Hak Kekayaan Intelektual, UMKM Buruan Daftar Mereknya 

Namun, pandemi COVID-19 membuat banyak restoran di Bali tutup dan memaksa Beni untuk mencari solusi agar bisnisnya tetap berjalan. Ditambah lagi, mayoritas pembeli IniTempe merupakan warga asing yang jumlahnya terus menurun sejak pandemi.
Setelah beralih ke online, dengan perjuangan dari nol mempelajari teknologi, IniTempe pun mulai menyasar pasar lokal dengan memasarkan produknya ke luar pulau Bali melalui e-commerce.&quot;Kita tidak akan bisa menang di kandang sendiri. Oleh karena itu,  saya memutuskan untuk jualan online. Berkat go digital saya malah bisa  ekspansi bisnis ke kota dan pulau lain. Walaupun di tengah pandemi,  IniTempe tidak melakukan PHK. Wisatawan lokal pun jadi tau soal  IniTempe, &quot; jelas Beni.
Kini, produk IniTempe yang dipasarkan pun menjadi sangat beragam.  Yang tadinya hanya menjual tempe segar, sekarang IniTempe mulai  menawarkan berbagai jenis produk olahan berbahan dasar tempe seperti  cokelat tempe, keripik tempe, dan lainnya.
Selain menjual berbagai produk olahan tempe, IniTempe juga membuka  masterclass, yakni kelas bagi orang-orang yang tertarik untuk belajar  mengenai proses pembuatan tempe. Kelas ini pun terbuka bagi masyarakat  lokal maupun wisatawan mancanegara, bahkan dari India hingga China.
Kemudian produk asal Bali, Grande Granola, fokus memproduksi sereal  berbahan dasar granola yang menggunakan gandum bersertifikasi organik  dan tanpa bahan pengawet. Luciana Dewi, pemilik Grande Granola, turut  menceritakan perjuangannya dalam mengembangkan bisnis di tengah pandemi.
Sama halnya dengan IniTempe, awalnya Grande Granola mengandalkan  pemasukan dari turis lokal maupun turis asing. Namun, sejak pandemi  jumlah turis di Bali menurun cukup signifikan. Hal ini turut berdampak  terhadap bisnis Grande Granola. Luciana mengatakan, &amp;ldquo;70% penghasilan  sebelum pandemi berasal dari turis asing dan turis lokal. Setelah  pandemi, omzet kami jatuh hingga 40%.&amp;rdquo;Akhirnya, Luciana pun mencari strategi baru demi bangkit dari   keterpurukan meskipun penjualannya terus menurun. Salah satunya dengan   mengembangkan bisnisnya secara online melalui platform digital.
Luciana menjelaskan &amp;ldquo;Sejak &amp;lsquo;go digital&amp;rsquo;, Grande Granola juga mulai   dikenal dan jumlah pembeli pun terus meningkat. Pendapatan kami di masa   pandemi 80% berasal dari salah satu platform e-commerce asal Indonesia   yaitu Tokopedia.
Berawal dari omzet yang tidak seberapa saat baru memanfaatkan   platform e-commerce, omzet bulanan Grande Granola yang berasal dari   Tokopedia saat ini telah mencapai puluhan juta.
&amp;ldquo;Kami tidak menyerah walaupun dihadapi dengan pandemi. Waktu luang   yang dimiliki, kami gunakan untuk memikirkan strategi bisnis dan secara   aktif mengembangkan bisnis secara online. Nyatanya, dengan adanya   pandemi kami menjadi tau potensi yang dimiliki dengan &amp;lsquo;go digital&amp;rsquo;,   ucapnya.
Dalam mengembangkan bisnisnya, Luciana juga tidak lupa memberdayakan   masyarakat sekitar dan berbagi kepada yang membutuhkan. Saat ini,  Grande  Granola telah memberdayakan perempuan lokal di Bali dalam  operasinya  serta melakukan kegiatan-kegiatan sosial seperti berdonasi  untuk  membiayai sekolah anak-anak yang membutuhkan.</content:encoded></item></channel></rss>
