<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sri Mulyani Wanti-Wanti Stagflasi AS hingga Resesi di Eropa</title><description>Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mewaspadai risiko stagflasi dan ketidakpastian pasar keuangan global.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/08/01/320/2640217/sri-mulyani-wanti-wanti-stagflasi-as-hingga-resesi-di-eropa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/08/01/320/2640217/sri-mulyani-wanti-wanti-stagflasi-as-hingga-resesi-di-eropa"/><item><title>Sri Mulyani Wanti-Wanti Stagflasi AS hingga Resesi di Eropa</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/08/01/320/2640217/sri-mulyani-wanti-wanti-stagflasi-as-hingga-resesi-di-eropa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/08/01/320/2640217/sri-mulyani-wanti-wanti-stagflasi-as-hingga-resesi-di-eropa</guid><pubDate>Senin 01 Agustus 2022 19:15 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/08/01/320/2640217/sri-mulyani-wanti-wanti-stagflasi-as-hingga-resesi-di-eropa-uiYXc1KiEr.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Sri Mulyani waspadai stagflasi dan resesi (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/08/01/320/2640217/sri-mulyani-wanti-wanti-stagflasi-as-hingga-resesi-di-eropa-uiYXc1KiEr.jpeg</image><title>Sri Mulyani waspadai stagflasi dan resesi (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mewaspadai risiko stagflasi dan ketidakpastian pasar keuangan global. Bahkan pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya.
Tekanan inflasi global terus meningkat seiring dengan tingginya harga komoditas akibat berlanjutnya gangguan rantai pasok yang diperparah oleh berlanjutnya perang di Ukraina.
BACA JUGA:Sri Mulyani Klaim Rupiah Lebih Perkasa Dibanding Ringgit hingga Baht

&quot;Juga meluasnya kebijakan-kebijakan proteksionisme, terutama di bidang pangan. Berbagai negara terutama Amerika Serikat (AS) telah merespons naik dan tingginya inflasi dengan mengetatkan kebijakan moneter dan lebih agresif dalam meningkatkan suku bunganya, sehingga menyebabkan pemulihan ekonomi di AS tertahan,&quot; ujar Sri dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala III Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) 2022 secara virtual di Jakarta, Senin(1/8/2022).
BACA JUGA:Inflasi Juli 4,94%, Sri Mulyani: Lebih Moderat Dibandingkan Thailand hingga India

Dia menyebutkan, ini juga meningkatkan terjadinya fenomena stagflasi, yaitu inflasi tinggi yang dikombinasikan dengan kondisi perekonomian yang melemah. Pertumbuhan ekonomi di berbagai negara termasuk AS, Eropa, Jepang, Tiongkok, dan India diperkirakan akan lebih rendah dari proyeksi pertumbuhan ekonomi mereka yang diterbitkan sebelumnya.&quot;Ini disertai juga dengan semakin meningkatnya kekhawatiran terhadap  kemungkinan terjadinya resesi di AS maupun juga di Eropa,&quot; ungkap Sri.
Seperti diketahui, World Bank dan International Monetary Fund (IMF)  telah merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan global untuk tahun 2022  ini, yaitu dari 4,1% menjadi 2,6% yang diproyeksikan oleh World Bank,  dan dari 3,6% direvisi ke bawah menjadi 3,2% oleh IMF.
&quot;Ketidakpastian di pasar keuangan global akibat tingginya inflasi di  negara maju dan pengetatan dari kebijakan moneter telah mengakibatkan  aliran keluar modal asing, khususnya investasi portofolio, dan ini juga  menekan nilai tukar di berbagai negara berkembang,&quot; pungkas Sri.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mewaspadai risiko stagflasi dan ketidakpastian pasar keuangan global. Bahkan pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya.
Tekanan inflasi global terus meningkat seiring dengan tingginya harga komoditas akibat berlanjutnya gangguan rantai pasok yang diperparah oleh berlanjutnya perang di Ukraina.
BACA JUGA:Sri Mulyani Klaim Rupiah Lebih Perkasa Dibanding Ringgit hingga Baht

&quot;Juga meluasnya kebijakan-kebijakan proteksionisme, terutama di bidang pangan. Berbagai negara terutama Amerika Serikat (AS) telah merespons naik dan tingginya inflasi dengan mengetatkan kebijakan moneter dan lebih agresif dalam meningkatkan suku bunganya, sehingga menyebabkan pemulihan ekonomi di AS tertahan,&quot; ujar Sri dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala III Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) 2022 secara virtual di Jakarta, Senin(1/8/2022).
BACA JUGA:Inflasi Juli 4,94%, Sri Mulyani: Lebih Moderat Dibandingkan Thailand hingga India

Dia menyebutkan, ini juga meningkatkan terjadinya fenomena stagflasi, yaitu inflasi tinggi yang dikombinasikan dengan kondisi perekonomian yang melemah. Pertumbuhan ekonomi di berbagai negara termasuk AS, Eropa, Jepang, Tiongkok, dan India diperkirakan akan lebih rendah dari proyeksi pertumbuhan ekonomi mereka yang diterbitkan sebelumnya.&quot;Ini disertai juga dengan semakin meningkatnya kekhawatiran terhadap  kemungkinan terjadinya resesi di AS maupun juga di Eropa,&quot; ungkap Sri.
Seperti diketahui, World Bank dan International Monetary Fund (IMF)  telah merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan global untuk tahun 2022  ini, yaitu dari 4,1% menjadi 2,6% yang diproyeksikan oleh World Bank,  dan dari 3,6% direvisi ke bawah menjadi 3,2% oleh IMF.
&quot;Ketidakpastian di pasar keuangan global akibat tingginya inflasi di  negara maju dan pengetatan dari kebijakan moneter telah mengakibatkan  aliran keluar modal asing, khususnya investasi portofolio, dan ini juga  menekan nilai tukar di berbagai negara berkembang,&quot; pungkas Sri.</content:encoded></item></channel></rss>
