<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Laba Bank BTPN Naik Tipis Jadi Rp1,67 Triliun di Semester I-2022</title><description>Laba PT Bank BTPN Tbk (BTPN) mengalami kenaikan tipis pada semester I 2022.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/08/02/278/2640771/laba-bank-btpn-naik-tipis-jadi-rp1-67-triliun-di-semester-i-2022</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/08/02/278/2640771/laba-bank-btpn-naik-tipis-jadi-rp1-67-triliun-di-semester-i-2022"/><item><title>Laba Bank BTPN Naik Tipis Jadi Rp1,67 Triliun di Semester I-2022</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/08/02/278/2640771/laba-bank-btpn-naik-tipis-jadi-rp1-67-triliun-di-semester-i-2022</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/08/02/278/2640771/laba-bank-btpn-naik-tipis-jadi-rp1-67-triliun-di-semester-i-2022</guid><pubDate>Selasa 02 Agustus 2022 17:17 WIB</pubDate><dc:creator>Cahya Puteri Abdi Rabbi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/08/02/278/2640771/laba-bank-btpn-naik-tipis-jadi-rp1-67-triliun-di-semester-i-2022-dyBvQhPNH7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Laba Bank BTPN naik tipis (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/08/02/278/2640771/laba-bank-btpn-naik-tipis-jadi-rp1-67-triliun-di-semester-i-2022-dyBvQhPNH7.jpg</image><title>Laba Bank BTPN naik tipis (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Laba PT Bank BTPN Tbk (BTPN) mengalami kenaikan tipis pada semester I 2022. Hingga akhir Juni 2022, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp1,67 triliun atau naik 2,08% dari sebelumnya Rp1,64 triliun.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penurunan beban bunga sebesar 9% secara tahunan menjadi Rp1,70 triliun dari sebelumnya sebesar Rp1,87 triliun. Perseroan juga mencatat kenaikan pendapatan operasional lainnya sebesar 5% menjadi Rp5,72 triliun dari sebelumnya sebesar Rp5,59 triliun.
BACA JUGA:Cetak Laba Rp2,6 Triliun, BTPN Tak Tebar Dividen

Meski demikian, biaya operasional perseroan mengalami peningkatan sebesar 2% secara tahunan dari Rp3,44 triliun menjadi Rp3,50 triliun.
&amp;ldquo;Pencapaian ini merupakan hasil dari strategi kami yang menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit, sekaligus memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi nasional,&amp;rdquo; kata Plt Direktur Utama BTPN Kaoru Furuya dalam keterangan resminya, Selasa (2/8/2022).
BACA JUGA:Sorry Pemegang Saham, BTPN Tidak Bagikan Dividen

Dari sisi penyaluran kredit, hingga akhir Juni 2022 BTPN telah menyalurkan kredit sebesar Rp149,26 triliun atau tumbuh 10% dari sebelumnya Rp135,59 triliun. Adapun, kredit di segmen korporasi meningkat sebesar 22% secara tahunan dan kredit syariah tumbuh sebesar 11%.
Di samping itu, perseroan mampu menjaga kualitas kredit tetap baik, hal itu tercermin rasio gross Non-Performing Loan (NPL) yang berada di level 1,35%, menurun jika dibandingkan dengan tahun lalu yang sebesar 1,46%, dan masih relatif rendah dibanding rata-rata industri yang tercatat sebesar 3,04% pada akhir Mei 2022.Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan tercatat meningkat  sebesar 7% di semester I 2022 dari sebelumnya sebesar Rp96,64 triliun  menjadi Rp103,17 triliun.
Hal itu disebabkan oleh meningkatnya saldo Current Account Saving  Account (CASA) sebesar 38%, dari Rp28,28 triliun menjadi Rp38,93  triliun, sehingga rasio CASA meningkat dari sebelumnya 29,3% menjadi  37,7%. Sementara, time deposit mengalami penurunan sebesar 6% menjadi  Rp64,24 triliun.
&amp;ldquo;Upaya menghimpun DPK dilakukan sejalan dengan upaya menekan biaya  dana seiring dengan suku bunga acuan Bank Indonesia yang masih rendah,  cost of fund turun dari 3,6% menjadi 2,9%,&amp;rdquo; kata dia.
Kaoru mengatakan bahwa, perseroan juga terus memantau kualitas kredit  nasabah, mengelola restrukturisasi kredit, dan menjaga kecukupan  pencadangan biaya kredit.
Sepanjang semester I 2022, rasio likuiditas atau liquidity coverage  ratio (LCR) mencapai 181,3% dan net stable funding ratio (NSFR) sebesar  121,3%. Kemudian, perseroan juga mencatat rasio kecukupan modal atau  capital adequacy ratio (CAR) sebesar 25,2%.
Lebih lanjut, total aset perseroan secara konsolidasi hingga akhir  Juni tercatat sebesar Rp195,47 triliun, naik 1,85% dari akhir tahun lalu  yang sebesar Rp191,92 triliun. Lalu, total liabilitas tercatat sebesar  Rp157,68 triliun naik 1,18% dari akhir tahun lalu yang sebesar Rp155,84  triliun, serta ekuitas naik 4,72% menjadi Rp37,78 triliun dari Rp36,07  triliun.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Laba PT Bank BTPN Tbk (BTPN) mengalami kenaikan tipis pada semester I 2022. Hingga akhir Juni 2022, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp1,67 triliun atau naik 2,08% dari sebelumnya Rp1,64 triliun.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penurunan beban bunga sebesar 9% secara tahunan menjadi Rp1,70 triliun dari sebelumnya sebesar Rp1,87 triliun. Perseroan juga mencatat kenaikan pendapatan operasional lainnya sebesar 5% menjadi Rp5,72 triliun dari sebelumnya sebesar Rp5,59 triliun.
BACA JUGA:Cetak Laba Rp2,6 Triliun, BTPN Tak Tebar Dividen

Meski demikian, biaya operasional perseroan mengalami peningkatan sebesar 2% secara tahunan dari Rp3,44 triliun menjadi Rp3,50 triliun.
&amp;ldquo;Pencapaian ini merupakan hasil dari strategi kami yang menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit, sekaligus memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi nasional,&amp;rdquo; kata Plt Direktur Utama BTPN Kaoru Furuya dalam keterangan resminya, Selasa (2/8/2022).
BACA JUGA:Sorry Pemegang Saham, BTPN Tidak Bagikan Dividen

Dari sisi penyaluran kredit, hingga akhir Juni 2022 BTPN telah menyalurkan kredit sebesar Rp149,26 triliun atau tumbuh 10% dari sebelumnya Rp135,59 triliun. Adapun, kredit di segmen korporasi meningkat sebesar 22% secara tahunan dan kredit syariah tumbuh sebesar 11%.
Di samping itu, perseroan mampu menjaga kualitas kredit tetap baik, hal itu tercermin rasio gross Non-Performing Loan (NPL) yang berada di level 1,35%, menurun jika dibandingkan dengan tahun lalu yang sebesar 1,46%, dan masih relatif rendah dibanding rata-rata industri yang tercatat sebesar 3,04% pada akhir Mei 2022.Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan tercatat meningkat  sebesar 7% di semester I 2022 dari sebelumnya sebesar Rp96,64 triliun  menjadi Rp103,17 triliun.
Hal itu disebabkan oleh meningkatnya saldo Current Account Saving  Account (CASA) sebesar 38%, dari Rp28,28 triliun menjadi Rp38,93  triliun, sehingga rasio CASA meningkat dari sebelumnya 29,3% menjadi  37,7%. Sementara, time deposit mengalami penurunan sebesar 6% menjadi  Rp64,24 triliun.
&amp;ldquo;Upaya menghimpun DPK dilakukan sejalan dengan upaya menekan biaya  dana seiring dengan suku bunga acuan Bank Indonesia yang masih rendah,  cost of fund turun dari 3,6% menjadi 2,9%,&amp;rdquo; kata dia.
Kaoru mengatakan bahwa, perseroan juga terus memantau kualitas kredit  nasabah, mengelola restrukturisasi kredit, dan menjaga kecukupan  pencadangan biaya kredit.
Sepanjang semester I 2022, rasio likuiditas atau liquidity coverage  ratio (LCR) mencapai 181,3% dan net stable funding ratio (NSFR) sebesar  121,3%. Kemudian, perseroan juga mencatat rasio kecukupan modal atau  capital adequacy ratio (CAR) sebesar 25,2%.
Lebih lanjut, total aset perseroan secara konsolidasi hingga akhir  Juni tercatat sebesar Rp195,47 triliun, naik 1,85% dari akhir tahun lalu  yang sebesar Rp191,92 triliun. Lalu, total liabilitas tercatat sebesar  Rp157,68 triliun naik 1,18% dari akhir tahun lalu yang sebesar Rp155,84  triliun, serta ekuitas naik 4,72% menjadi Rp37,78 triliun dari Rp36,07  triliun.</content:encoded></item></channel></rss>
