<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perubahan Iklim Bakal Rugikan Ekonomi Indonesia Rp544 Triliun</title><description>Perubahan iklim berpotensi rugikan ekonomi Indonesia Rp544 triliun sepanjang 2020 sampai 2024.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/08/09/320/2644717/perubahan-iklim-bakal-rugikan-ekonomi-indonesia-rp544-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/08/09/320/2644717/perubahan-iklim-bakal-rugikan-ekonomi-indonesia-rp544-triliun"/><item><title>Perubahan Iklim Bakal Rugikan Ekonomi Indonesia Rp544 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/08/09/320/2644717/perubahan-iklim-bakal-rugikan-ekonomi-indonesia-rp544-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/08/09/320/2644717/perubahan-iklim-bakal-rugikan-ekonomi-indonesia-rp544-triliun</guid><pubDate>Selasa 09 Agustus 2022 15:04 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/08/09/320/2644717/perubahan-iklim-bakal-rugikan-ekonomi-indonesia-rp544-triliun-KTnIVSjx4T.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Perubahan iklim rugikan ekonomi (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/08/09/320/2644717/perubahan-iklim-bakal-rugikan-ekonomi-indonesia-rp544-triliun-KTnIVSjx4T.jpeg</image><title>Perubahan iklim rugikan ekonomi (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Perubahan iklim berpotensi rugikan ekonomi Indonesia Rp544 triliun sepanjang 2020 sampai 2024. Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Medrilzam menyebutkan kerugian ini bisa terjadi jika tidak ada intervensi kebijakan.
&amp;ldquo;Kita lihat potensi hazard yang ada dan setelah dihitung dan dievaluasi potensi kerugian ekonominya mencapai Rp544 triliun,&amp;rdquo; katanya dilansir dari Antara, Selasa (9/8/2022).
BACA JUGA:Ada Perubahan Iklim, Luhut Minta BMKG Berperan Aktif Jaga Ketahanan Pangan RI

Medril menuturkan potensi kerugian ekonomi Indonesia sebesar Rp544 triliun tersebut meliputi empat sektor yaitu pesisir dan laut Rp408 triliun, air Rp26 triliun, pertanian Rp78 triliun dan kesehatan Rp31 triliun.
Di Indonesia sendiri sudah terjadi peningkatan intensitas kejadian bencana hidrometeorologi dengan mencapai 5.402 kejadian hanya sepanjang 2021.
BACA JUGA:Sri Mulyani: Sukuk Wakaf Bisa Jadi Salah Satu Instrumen Solusi Perubahan Iklim

Dari 5.402 kejadian bencana alam sepanjang tahun lalu tersebut sebanyak 98 persen sampai 99 persen di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi.
Menurut Medril, perubahan iklim ini harus segera diatasi melalui berbagai kebijakan ketahanan iklim yang dinilai akan mampu menghindari potensi ekonomi sebesar Rp281,9 triliun hingga 2024.Terlebih lagi, baik Indonesia maupun global saat ini memiliki triple  planetary crisis yaitu perubahan iklim, polusi dan hilangnya  keanekaragaman hayati yang akan mengancam masa depan bumi dan manusia.
Berdasarkan data Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC)  pada 2022, krisis perubahan iklim mengancam sekitar 50 persen sampai 75  persen dari populasi global pada tahun 2.100.
Kemudian berdasarkan Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan  Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) pada 2022, polusi udara  dinobatkan sebagai penyebab penyakit dan kematian dini terbesar di dunia  hingga terdapat 4,2 juta kematian setiap tahun.
Sementara berdasarkan Platform Kebijakan-Sains Antarpemerintah  tentang Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem (IPBES) 2019, hilangnya  keanekaragaman hayati dapat mengancam kesehatan manusia dan jasa  ekosistem.
Saat ini terdapat sekitar 1 juta spesies tumbuhan dan hewan yang menghadapi ancaman kepunahan.
&amp;ldquo;Sambil kita mengalami tiga ancaman besar dan ada COVID-19 pula maka  ini membuat setback pembangunan kita padahal kita sudah punya Visi 2045.  Kita ingin menjadi sejajar dengan negara maju lainnya,&amp;rdquo; tegas Medril.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Perubahan iklim berpotensi rugikan ekonomi Indonesia Rp544 triliun sepanjang 2020 sampai 2024. Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Medrilzam menyebutkan kerugian ini bisa terjadi jika tidak ada intervensi kebijakan.
&amp;ldquo;Kita lihat potensi hazard yang ada dan setelah dihitung dan dievaluasi potensi kerugian ekonominya mencapai Rp544 triliun,&amp;rdquo; katanya dilansir dari Antara, Selasa (9/8/2022).
BACA JUGA:Ada Perubahan Iklim, Luhut Minta BMKG Berperan Aktif Jaga Ketahanan Pangan RI

Medril menuturkan potensi kerugian ekonomi Indonesia sebesar Rp544 triliun tersebut meliputi empat sektor yaitu pesisir dan laut Rp408 triliun, air Rp26 triliun, pertanian Rp78 triliun dan kesehatan Rp31 triliun.
Di Indonesia sendiri sudah terjadi peningkatan intensitas kejadian bencana hidrometeorologi dengan mencapai 5.402 kejadian hanya sepanjang 2021.
BACA JUGA:Sri Mulyani: Sukuk Wakaf Bisa Jadi Salah Satu Instrumen Solusi Perubahan Iklim

Dari 5.402 kejadian bencana alam sepanjang tahun lalu tersebut sebanyak 98 persen sampai 99 persen di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi.
Menurut Medril, perubahan iklim ini harus segera diatasi melalui berbagai kebijakan ketahanan iklim yang dinilai akan mampu menghindari potensi ekonomi sebesar Rp281,9 triliun hingga 2024.Terlebih lagi, baik Indonesia maupun global saat ini memiliki triple  planetary crisis yaitu perubahan iklim, polusi dan hilangnya  keanekaragaman hayati yang akan mengancam masa depan bumi dan manusia.
Berdasarkan data Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC)  pada 2022, krisis perubahan iklim mengancam sekitar 50 persen sampai 75  persen dari populasi global pada tahun 2.100.
Kemudian berdasarkan Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan  Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) pada 2022, polusi udara  dinobatkan sebagai penyebab penyakit dan kematian dini terbesar di dunia  hingga terdapat 4,2 juta kematian setiap tahun.
Sementara berdasarkan Platform Kebijakan-Sains Antarpemerintah  tentang Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem (IPBES) 2019, hilangnya  keanekaragaman hayati dapat mengancam kesehatan manusia dan jasa  ekosistem.
Saat ini terdapat sekitar 1 juta spesies tumbuhan dan hewan yang menghadapi ancaman kepunahan.
&amp;ldquo;Sambil kita mengalami tiga ancaman besar dan ada COVID-19 pula maka  ini membuat setback pembangunan kita padahal kita sudah punya Visi 2045.  Kita ingin menjadi sejajar dengan negara maju lainnya,&amp;rdquo; tegas Medril.</content:encoded></item></channel></rss>
