<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Inflasi Tembus 6,2% jika Harga Pertalite Naik Jadi Rp10.000/Liter</title><description>Pemerintah berencana menaikan harga BBM subsidi Pertalite dan Solar.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/08/21/320/2651637/inflasi-tembus-6-2-jika-harga-pertalite-naik-jadi-rp10-000-liter</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/08/21/320/2651637/inflasi-tembus-6-2-jika-harga-pertalite-naik-jadi-rp10-000-liter"/><item><title>Inflasi Tembus 6,2% jika Harga Pertalite Naik Jadi Rp10.000/Liter</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/08/21/320/2651637/inflasi-tembus-6-2-jika-harga-pertalite-naik-jadi-rp10-000-liter</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/08/21/320/2651637/inflasi-tembus-6-2-jika-harga-pertalite-naik-jadi-rp10-000-liter</guid><pubDate>Minggu 21 Agustus 2022 16:20 WIB</pubDate><dc:creator>Rizky Fauzan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/08/21/320/2651637/inflasi-tembus-6-2-jika-harga-pertalite-naik-jadi-rp10-000-liter-DNGqjroYW0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Inflasi meroket jika harga BBM naik (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/08/21/320/2651637/inflasi-tembus-6-2-jika-harga-pertalite-naik-jadi-rp10-000-liter-DNGqjroYW0.jpg</image><title>Inflasi meroket jika harga BBM naik (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah berencana menaikan harga BBM subsidi Pertalite dan Solar. Sinyal kenaikan harga ini datang dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), Menko Perekonomian Airlangga Hartarto hingga Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia.
Terakhir, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan bahwa kemungkinan Presiden Jokowi akan mengumumkan kenaikan harga BBM pekan depan.
BACA JUGA:Soal Kenaikan Harga BBM, Menko Luhut: Masih Menghitung
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi tidak memungkiri, pemerintah memang semakin terbebani oleh subsidi energi dari APBN yang semakin membengkak, hingga mencapai Rp502,4 triliun. Bahkan bisa mencapai di atas Rp600 triliun kalau kuota Pertalite ditetapkan sebanyak 23 ribu KL akhirnya jebol.
&quot;Namun, opsi menaikkan harga BBM subsidi bukanlah pilihan yang tepat saat ini. Alasannya, kenaikkan harga Pertalite dan Solar, yang proporsi jumlah konsumen di atas 70% sudah pasti akan menyulut Inflasi,&quot; kata Fahmy kepada MNC Portal, Minggu (21/8/2022).
BACA JUGA:DPR Minta Harga BBM Naik Maksimal 25%, Jadi Berapa?
Dia mengatakan kalau harga jual Pertalite tembus Rp10.000 per liter, dia menilai, kontribusi terhadap inflasi diperkirakan mencapai 0,97%. Sehingga inflasi tahun berjalan bisa mencapai 6,2% year on year (YoY).
&quot;Dengan inflasi sebesar itu akan memperpuruk daya beli dan konsumsi masyarakat, sehingga akan menurunkan pertumbuhan ekonomi yang sudah mencapai 5,4%,&quot; kata dia.
&quot;Agar momentum pencapaian ekonomi itu tidak terganggu. Pemerintah sebaiknya jangan menaikkan harga Pertalite dan Solar pada tahun ini,&quot; tambahnya.Fahmy pun menyarankan, pemerintah sebaiknya fokus pada pembatasan BBM  bersubsidi, yang sekitar 60% penyalurannya tidak tepat sasaran. Dalam  kasus ini, ia memandang MyPertamina tidak akan efektif membatasi  konsumsi bahan bakar agar tepat sasaran, bahkan menimbulkan  ketidakadilan bagi yang berhak menggunakan BBM subsidi.
&quot;Pembatasan BBM subsidi paling efektif pada saat ini adalah  menetapkan kendaraan roda dua dan angkutan umum yang berhak menggunakan  Pertalite dan Solar. Di luar sepeda motor dan kendararan umum, konsumen  harus menggunakan Pertamax ke atas. Pembatasan itu, selain efektif juga  lebih mudah diterapkan di semua SPBU,&quot; ungkapnya.
Untuk itu, ia menambahkan, kriteria sepeda motor dan kendaraan umum  yang berhak menggunakan BBM subsidi segera saja dimasukan ke dalam  Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014 sebagai dasar hukum.
&quot;Ketimbang hanya melontarkan wacana kenaikkan harga BBM subsidi,  pemerintah akan lebih baik segera mengambil keputusan dalam tempo  sesingkatnya terkait solusi yang diyakini pemerintah paling tepat tanpa  menimbulkan masalah baru,&quot; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah berencana menaikan harga BBM subsidi Pertalite dan Solar. Sinyal kenaikan harga ini datang dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), Menko Perekonomian Airlangga Hartarto hingga Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia.
Terakhir, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan bahwa kemungkinan Presiden Jokowi akan mengumumkan kenaikan harga BBM pekan depan.
BACA JUGA:Soal Kenaikan Harga BBM, Menko Luhut: Masih Menghitung
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi tidak memungkiri, pemerintah memang semakin terbebani oleh subsidi energi dari APBN yang semakin membengkak, hingga mencapai Rp502,4 triliun. Bahkan bisa mencapai di atas Rp600 triliun kalau kuota Pertalite ditetapkan sebanyak 23 ribu KL akhirnya jebol.
&quot;Namun, opsi menaikkan harga BBM subsidi bukanlah pilihan yang tepat saat ini. Alasannya, kenaikkan harga Pertalite dan Solar, yang proporsi jumlah konsumen di atas 70% sudah pasti akan menyulut Inflasi,&quot; kata Fahmy kepada MNC Portal, Minggu (21/8/2022).
BACA JUGA:DPR Minta Harga BBM Naik Maksimal 25%, Jadi Berapa?
Dia mengatakan kalau harga jual Pertalite tembus Rp10.000 per liter, dia menilai, kontribusi terhadap inflasi diperkirakan mencapai 0,97%. Sehingga inflasi tahun berjalan bisa mencapai 6,2% year on year (YoY).
&quot;Dengan inflasi sebesar itu akan memperpuruk daya beli dan konsumsi masyarakat, sehingga akan menurunkan pertumbuhan ekonomi yang sudah mencapai 5,4%,&quot; kata dia.
&quot;Agar momentum pencapaian ekonomi itu tidak terganggu. Pemerintah sebaiknya jangan menaikkan harga Pertalite dan Solar pada tahun ini,&quot; tambahnya.Fahmy pun menyarankan, pemerintah sebaiknya fokus pada pembatasan BBM  bersubsidi, yang sekitar 60% penyalurannya tidak tepat sasaran. Dalam  kasus ini, ia memandang MyPertamina tidak akan efektif membatasi  konsumsi bahan bakar agar tepat sasaran, bahkan menimbulkan  ketidakadilan bagi yang berhak menggunakan BBM subsidi.
&quot;Pembatasan BBM subsidi paling efektif pada saat ini adalah  menetapkan kendaraan roda dua dan angkutan umum yang berhak menggunakan  Pertalite dan Solar. Di luar sepeda motor dan kendararan umum, konsumen  harus menggunakan Pertamax ke atas. Pembatasan itu, selain efektif juga  lebih mudah diterapkan di semua SPBU,&quot; ungkapnya.
Untuk itu, ia menambahkan, kriteria sepeda motor dan kendaraan umum  yang berhak menggunakan BBM subsidi segera saja dimasukan ke dalam  Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014 sebagai dasar hukum.
&quot;Ketimbang hanya melontarkan wacana kenaikkan harga BBM subsidi,  pemerintah akan lebih baik segera mengambil keputusan dalam tempo  sesingkatnya terkait solusi yang diyakini pemerintah paling tepat tanpa  menimbulkan masalah baru,&quot; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
